Perajin Selaawi dapat Piagam MURI Membuat Sangkar Burung Setinggi Tujuh Meter

438

Hobi memelihara burung merupakan jenis kegiatan yang sudah mengakar dikalangan masyarakat Indonesia yang mampu membuka lapangan kerja bagi runtutan pehobi burung kicau.

Seperti bagi pembuat sangkar dan penjual pakan . Memelihara burung, banyak dilakukan  masyarakat tidak sebatas orang tua maupun muda.

Di beberapa banyak berdiri organisasi atau komunitas pecinta burung  yang rutin menyelenggarakan kontes burung.Dalam hobi memelihara burung ada satu elemen penting yang selalu ada yaitu sangkar burung.

Berbagai wilayah di Indonesia dikenal sebagai sentra perajin sangkar burung.Salah satunya di Selaawi Kabupaten Garut.

Kampung Ciloa Kecamatan Selaawi merupakan salah satu daerah dengan jumlah perajin sangkar burung cukup banyak. Kurang lebih 500  warga kampung ini menekuni profesi yang menurut mereka diwariskan secara turun temurun.

Uniknya setiap perajin di kampung ini memiliki keahlian sendiri- sendiri,mereka tidak membuat sangkar secara utuh.Masing masing membuat bagian tertentu dari sangkar.

Kemudian ada  perajin  yang merangkainya menjadi sebuah sangkar seutuhnya.Secara garis besar sangkar burung di bagi menjadi dua bagian, yaitu babaki dan kurungnya,kedua bagian ini kemudian disatukan hingga menjadi sangkar yang bisa diisi  burung peliharaan.

Keahlian membuat sangkar oleh masyarakat Ciloa sudah lebih dari 20 tahun. Keahlian merangkai sangkar burung, mereka peroleh secara otodidak , awalnya membantu orang tua mereka yang perajin sangkar burung.

Saat orang tuanya berhenti membuat sangkar, secara otomatis anaknya melanjutkan keterampilan yang diwariskan orang tuanya.

Pada tahun 2016 masyarakat Selaawi membuat sangkar burung raksasa setinggi 7 meter,sangkar ini tercatat sebagai sangkar burung terbesar dengan tinggi 7 meter sehingga masuk kedalam MURI.

Pembuatan sangkar in melibatkan 20 orang pengrajin serta menghabiskan 203 batang bambu dengan lama pengerjaan  30 hari.

Camat Selaawi, Ridwan Effendi, mengaku sangat bangga akan hasil kerja keras warganya yang tergabung dalam Gapokjin.

Menurut Ridwan, hasil karya warganya yang sangat luar biasa dan unik tersebut memang pantas mendapatkan penghargaan dan memecahkan rekor MURI.

Karena sampai saat ini belum ada sangkar burung yang lebih besar dari sangkar burung yang telah dibuat warganya tersebut.

“Pembuatan sangkar ini merupakan salah satu upaya penguatan, khususnya bagi pengrajin bambu di Selaawi yang akan menjadi pemersatu di antara para pengrajin itu sendiri,” ucap Ridwan.

Bahan baku pembuatan sangkar burung, di antaranya bambu  (jenis awi tali Sunda-red)- dan kayu kemiri. Bahan ini mudah didapat di daerah Selaawi. Kayu kemiri biasanya digunakan untuk hiasan sangkar. Bentuknya berupa ukiran binatang atau gambar lainnya. Pesanan sangkar burung biasanya ramai pada musim kemarau,karena saat itu sering diselenggarakan kontes burung. (E-001) ***