Perang Dagang China – AS Titik Awal Perang Global

316

PERANG   Dunia (Kedua) berawal dari tumbuhnya chauvinisme di kalangan elit pemerintahan di Jerman dan Jepang. Mereka merasa sebagai bangsa paling perkasa di dunia, baik dalam dunia politik, ekonomi, dan kekuatan persenjataan.

Nasionalisme yang chavunistis itu menjadi egosentris yang menafikan kekuatan semua negara  luar. Mereka ingin membuktikan hegemoni ekonomi dan  industri dengan  kekuatan militer berikut perlengkapan alustistanya kepada dunia.

Sikap itu mendapat perlawanan dari semua Negara di Eropa yang bersekutu dengan dan  di bawah pimpinan Amerika Serikat. Sedangkan Negara-negara di Asia tidak memiliki kekuatan sehebat sekutu.

Perang Dunuia Kedua terjadi dengan melibatkan hampie semua negara di dunia. Sikap nasionalistis yang berlebihan para elit politik di Jerman dan Jepang, mengorbankan negara dan rakyatnya masing-masing. Jerman terpecah, Jepang harus takluk dan rakyatnya menderita akibat terpapar bom atom.

Sekarang setelah PD II  73 tahun berlalu, sikap chavinisme itu mulai tumbuh lagi. AS yang merasa paling dominan dalam segala hal di dunia. Tidak ada Negara lain yang mampu menyamai kekyuatan AS, baik dalam ekonomi maupun politik dan kekuatan militernya.

Dalam dunia perdagangan, AS di bawah Trump melakukan politik proteksi. Barang impor yang diperkirakan mengancam daya saing produk dalam negeri, pintu impor AS ditutup. Ekspor Indonesia berupa biodiesel atau minyak nabati mentah (CPO) mulai dipersulit.

Produk Indonesia dianggap dilempar ke pasar dengan dumping. AS berencana menerapkan bea masuk di atas 30 persen. AS pernah melakukan embargo terhadap bantuan militer bagi Indonesia.

Politik dagang yang protektif-chauvinistis AS itu terutama bertujuan melawan kekuatan China. Dengan alasan memproteksi produk dalam negeri, AS memasang bea impor barang dari China sampai 60 persen. Tindakan itu tentu saja membuat China berang.

Negara gtirau bamboo itu melakukan pembalat\san dengan mengenakan be masuk sangat tinggi terhadap barang impor dari AS. Saling serang dan saling balas itu merupakan awal terjadinya perang dagang.

Bercermin pada awal mula terjadinya PD II, dikhawatirkan perang dagang yangt terjadi antara AS-China itu  berlanjut ke perang yang lebih luas bahkan perang total.

China selama ini terus melakukan perlawanan. Barang yang biasanya diimpor dari AS, diusahakan diproduksi sendiri, termasuk produk teknologi supercanggih. China memperlihatkan kepada dunia,.

khususnya kepada AS dan sekutunya, bahwa China mampu membuat roket berukuran besar.

China meluncurkan satelit terbarunya, tanpa bantuan negara mana pun. Bukankah itu merupakan unjuk kekuatan, artinya China bersiap-siap memasuki perang total, sebagai kelanjuitan perang dagang?

Namun tam[paknya, China mulai menyadari, perang dagang, apalagi perang total, tidak adagunanya sama sekali.  Wakil Perdana Menteri China, Han Zheng, hari Minggu kemarin mengatakan, China ingin melakukan kerja sama dagang.

Menurut Zheng, kerja sama lebih menguntungkan daripada perangh dagang bagi semua pihak. “Tidak ada yang untung dengan perangh dagang,” ujar Wakil PM itu. Kita berharap, pernyataan Han Zheng ityu merupakan persentrasi pemerinah China.

Meskipun Indonesia tidak berada di antara keduia raksasa ekonomi itu, bahkan mungkin kitra dapat memanfaatkan perang dagang itu dengan meningkatkan ekspor ke China dan AS, bagaimana pun kita tidak berharap perang dagang itu berkelanjutan dan meluas.

Perdagangan antarnegara yang berimbang, terbuka, dan jujur merupakan fatsun hubungan internasional yang baik dan harmonis. ***