Perekonomian Jabar Keluar dari Kontraksi?

226
Apa lagi yang Wanita Cari?

     AKHIR Tahun 2020  atau triwulan IV diprediksi perekonomian Jabar punya prospek lebih meningkat dibanding triwulan III. Optimisme itu muncul karena adanya peningkatan permintaan, baik lokal, regional, maupun nasional, bahkan internasional.  Optimisme itu, meskipun masih tersdandera pandemi Covid-19, tumbuh hampir merata pada semua sektor.

      Menuirut prakiraan Bank Indonesia Perwakilan Jabar, kinerja konsumsi rumah tangga akan meningkat. Seperti pada keadaan normal, pada akhir tahun, konsmsi rumah tangga senantiasa meningkat. Parayaan Natal dfan Tahun Baru merupakan momentum bagi dunia perdagangan lebih bergairah. Akhir tahun ini juga direncanakan adanya libur panjang atau cuti bersama. Libur bersama Idulfitri juga direncanakan ditarik ke akhir atau awal tahun, sehingga secara bersama-sama masyarakat akan berlibur panjang.

       Hal itu setidaknya akan mendorong peningkatan belanja masyarakat. Di samping itu, belanja masyarakat  juga meningkat dengan adanya pilkada serentak di beberapa kota dan kabupaten di Jabar. Pilkada juga dipastikan mendorong belanja pemerintah.  Aktivitas ekonomi akan meningkat sebagai dampak peralihan dari PSBB ketat ke kehidupan normal-baru (new normal). Dunia kepariwisataan, meskipun masih “setengah hati”  akan meningkat. Banyak anggota masyarakat yang menghabiskan masa libur panjangnya dengan berwisata. Sedikitnya mereka punya  bekal dari bantuan sosial.

      Petrekonomian Jabar juga akan terdorong dengan percepatan penyelesaian infrastruktur yang selama ini terhambat. Target pemerintah pusat, proyek-proyek itu akan selesai akhir tahun ini. Percepatan pembangunan itu mendorong naiknya belanja pemerintah dan menghidupkan kembali perekonomian masyarakat terutama di sekitar proyek itu.

      Industri pengolahan yang selama pandemi ini mengalami kontraksi cukup dalam, diprediksi akan meingkat pada akhir tahun ini.  Investasi mulai masuk lagi. Hal itu dibuktikan dengan pembangunan beberapa pabrik besar di luar Jawa. Diharapkan tenaga kerja lokal akan terserap secara signifikan. Berkurangnya angka pengangguran di daerah, akan berdampak positif terhadap arus urbanisasi. Hal itu juga akan berdampak pada peningkatan kinerja UMKM setempat.

Baca Juga :   Bila Patimban tanpa Jalan Tol

      Prerdiski peningkatan ekonomi, baik global maupun nasional dan regional, masih harus diimbangi dengan kinerja pemerintah dalam menangani Covid-19. Benar, diproduksinya vaksin yang akan mampu mencegah merebaknya pandemi, akan menimbulkan optimisme baru. Perekonomia global akan membaik dan pasti punya pengaruh sighinifan bagi pertumbuhan ekonomi berbagai negara. Namun kita juga harus tetap waspada dan tidak terlalu berlebihan dalam memasuki era baru perekonomian global. Kontraksi sangat dalam akibat pandemi Covid-19  tidak mungkin akan teratasi dalam watu singkat.

       Hampir setahun penuh,  dunia dilanda krisis terutama kesehatan dan perekonomian. Pasti dibutuhan kiat mumpuni dalam upaya memulihkan ekonomi.  Pertumbuhan ekonomi Jabar mengalami kontraksi sampai minus 5,98%. Upaya kembali ke keadaan normal (plus) harus mulai dari enol dan itu merupakan garapan yang cukup sulit. Jabar membutuhkan perhitungan-perhitungan yang lebui akurat agar tidak  terbuai dengan predikdi yang optimistis secara berlebihan. Optimisme itu perlu tetapi harus diawali dan dibarengi dengan perhitungan matang dan  kerja keras. Kegairahan perekonomian akan tumbuh apabila masyarakat dan pelaku ekonomi merasa aman, nyaman, dan tidak terharu biru dengan kegaduhan dan eskalasi gangguan keamanan dan kepentingan politik.***