PerekonomianTriwulan III-2020 Apakah Masuk Ke Jurang Resesi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2020 Rendah 

19

BISNIS BANDUNG –  Ekonomi Indonesia pada triwulan II-2020 mengalami kontraksi cukup dalam. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan tersebut terkontraksi 5,32 % year-on-year (YoY), terendah sejak triwulan I-1999 yang saat itu mencapai 6,13 %. Pembenahan perekonomian pada triwulan III-2020 menjadi taruhan apakah Indonesia  akan masuk ke jurang resesi

Ancaman resesi berada di depan mata, bila pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan III-2020 kembali negatif. Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira mengemukakan, agar triwulan III-2020 tidak kembali mengalami pertumbuhan negatif, perlu dioptimalkan belanja pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk memberikan intervensi dari sisi belanja pemerintah.

Di sisi lain, realisasi anggaran penanganan Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang saat ini masih rendah juga harus lebih dioptimalkan. Terutama yang dapat mendorong sisi permintaan (demand).

“Untuk program-program yang sifatnya bantuan sosial berupa sembako,  bisa dialihkan ke dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT), sehingga ada pergerakan ekonomi di bawah. Kebijakan ini juga salah satunya upaya untuk mendorong konsumsi bisa tumbuh,” kata Anggawira, Kamis (5/8/2020).

Dengan memberikan bantuan secara tunai, lanjut Anggawira, penerima manfaat bisa membelanjakan uang tersebut di pasar tradisional atau warung dekat rumah, sehingga kegiatan ekonomi di bawah bisa ikut bergerak.

Sementara menurut ekonom Institute for Development of Economic sand Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan, pembenahan di triwulan III-2020 memang menjadi taruhan apakah Indonesia  akan masuk ke jurang resesi. Namun jika melihat realisasi program PEN yang masih rendah hingga awal Agustus 2020, ancaman resesi menurut Abdul Manap sudah di depan mata. Apalagi sebetulnya keberadaan PEN adalah untuk menjaga agar kontraksinya tidak terlalu dalam.

“PEN ini sebetulnya dilakukan untuk menjaga agar ekonomi tidak nyungsep ke kontraksi atau resesi. Tapi sampai saat ini realisasinya masih sangat rendah, sehingga besar kemungkinan ekonomi kita di triwulan III-2020 akan kembali negatif,” kata Abdul Manap.

Untuk menjaga agar konsumsi rumah tangga tidak menurun terlalu dalam, selain dengan bantuan langsung tunai, menurut Abdul Manap yang bisa dilakukan adalah dengan tidak menaikan harga-harga yang bisa diatur pemerintah.

Hal senada disampaikan peneliti Indef lainnya, Bhima Yudhistira.  Menurutnya , untuk bansos sebagai upaya menggerakan konsumsi,  sasarannya perlu diperluas ke kelompok masyarakat menengah rentan miskin.

Stimulus perpajakan menurutnya juga perlu dievaluasi, apakah selama ini berkorelasi dengan penyerapan tenaga kerja. “Bila tidak efektif,  bisa diganti. Misalnya dengan perluasan bansos yang modelnya bantuan langsung tunai,” ujar Bhima menambahkan.

(B-003) ***