Pertamina Masih Gunakan Bahan Impor Produk Asal Cina Jauh Lebih Murah

88

BISNIS BANDUNG – Belakangan ihwal impor pipa migas menjadi buah bibir karena berujung pemecatan salah satu pejabat tinggi di BUMN Pertamina. Presiden Jokowi sempat mengungkapkan kejengkelannya karena BUMN masih menggunakan barang impor untuk proyeknya. Persoalan pipa impor ini erat kaitan dengan upaya pemerintah mengupayakan peningkatan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam setiap pengadaan barang dan jasa pemerintah dan BUMN.

Bahkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan jauh sebelumnya sempat memberi peringatan agar BUMN wajib memenuhi regulasi mengenai penggunaan TKDN untuk setiap belanja barang dan jasa. Ia mendorong sanksi denda hingga pencopotan jabatan direksi BUMN yang tak patuh atau bandel dengan ketentuan minimum TKDN 25%

Asal Cina lebih murah

Sementara itu  Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Energi dan Migas Bobby Gafur Umar  mengatakan, dalam program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) sudah disebutkan bahwa penggunaan produk dalam negeri oleh kementerian/ lembaga (K/L), BUMN, BUMD atau swasta adalah wajib.

Dalam kasus pipa penggunaan pipa , menurutnya pipa impor asal Cina lebih murah dari produksi dalam negeri. Penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang/ jasa apabila memiliki penjumlahan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan 40%. Produk dalam negeri yang digunakan harus mencapai TKDN 25%.  “Industri dalam negeri wajib menggunakan produk dalam negeri. Sampai Pak Luhut bilang ada pejabat Pertamina diganti karena Pak Presiden nggak berkenan. Pertamina masih  belum bisa memaksimalkan pemakaian produk dalam negeri,” paparnya dalam webinar ‘Membedah Peluang Bisnis 70 Triliun Di Sektor Hulu Migas’, Rabu (10/03/2021).  Pipa dari Cina sampai di Surabaya harganya tidak beda jauh dengan bahan baku dari Krakatau Steel. Bahan baku Krakatau Steel, begitu dilakukan pengelasan, maka ongkosnya bertambah 20-25%, sehingga pipa di Indonesia jauh lebih mahal. “Harga pipa Cina sampai di Surabaya, pipa jadi sama bahan baku Krakatau Steel nggak beda jauh harganya, begitu las jadi pipa sudah nambah 20-25% ongkos pipa,” jelasnya.  Kenapa pipa Cina bisa jadi lebih murah. Bobby menjelaskan,  karena negara China memberikan kredit ekspor yang sangat murah. Jika perusahaan di Cina hanya ekspor bahan baku, mereka akan kena pajak yang begitu tinggi. “Jika ekspor produk jadi, dapat tax incentives. Di Indonesia malah belum apa-apa kena pajak,” jelasnya. Sedangkan,  bijih besi dari Krakatau masih impor karena Indonesia belum ada sumber yang cukup. Menurutnya, pemerintah harus membantu agar perusahaan bisa mendapatkan bahan bakunya, sehingga produk bisa kompetitif. (B-003) ***

Baca Juga :   Ridwan Kamil Dapat Dukungan dari Hanura