Pertumbuhan Ekonomi Jabar Tergusur Badai Corona

18

HAMPIR semua negara mengalami kemerosotan ekonomi akibat mewabahnya virus corona. Indonesia yang secara global dinilai mulai tinggal landas, pasti ikut tergusur. Pertumbuhan ekonomi tahun 2020 diprediksi anjlok. Meskipun demikian, pemerintah masih optimistis, pertumbuhna ekonomi Jabar pada triwulan II 2020 kembali naik, dari 5,1 persen menjadi 5,5 persen. Itupun apabila pemerintah dan warga Jabar dapat menjadi pemenang dalam perang melawan Covid-19.

Provinsi Jawa Barat yang pertumbuhan ekominya lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasioanl, tahun 2020 akan sama-sama terjun. Hal itu sebenarnya bukan hanya dampak merajalelanya Covid-19 tetapi sudah mulai terasa sejak awal 2019. Pertumbuhan ekonomi nasional   mulai menurun dibandingkan tahun 2018. Menurut BPJS,  ekonomi Jabar menurun dari 5.66 menjadi 5.07. Sedangkan PDB nasional menurun dari 5.02 tahun  2018 menjadi 4.97 tahun 2019.

Penurunan pertumbuhan ekonomi Jabar tahun 2020, selain akibat tekanan Covid-19  juga melambatnya konsumsi masyarakat, perlambatan kinerja sektor utama, dan  situasi ekonomi global yang makin memburuk.  Konsumsi masyarakatr menurun akibat mobilisasi orang dan barang menurun. PSBB dan pelarangan tradisi mudik, berakibat hilangnya pendapatan rakyat. Faktor distribusi barang dan jasa, meskipun masih diberi kelonggaran, berdampak pada stagnasi perdagangan, terutama usaha kecil. Hal itu berdampak pada menurunnya daya beli rakyat di perdesaan. Hilangnya musim mudik, perekonomian musiman di perdesaan boleh dikatakan mati. Pengurangan jam/hari kerja di sektor industri padat karya, terjadinya PHK di beberapa perusahaan, dipastikan akan menggusur daya beli dan konsumsi masyarakat.

Menurut Laporan Pereklonomian Provinsi Jawa Barat yang disampaikan Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, pertumbuhan ekononmi Jabar akhir  2020  naik, sampai 5.55 persen. Optimisme itu timbul karena, antara lain,   tumbuhnya kembali etos kerja dan ketepatan strategi ekonomi pemerintah. Selepas pandemi Covid-19,  kegiatan ekonomi akan terpacu. Produktivitas industri, pertanian, UMKM, diharapkan terangkat kembali.

“Di rumah aja” bisa jadi merupakan ancang-ancang  kemudian ekonomi Jabar dan Indonesia,  berlari cepat. ***