Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal II 2020 Minus 5,32 % Perbaikan Ekonomi Indonesia Pupus Sejak Covid-19 Muncul

34

BISNIS BANDUNG – Sejarah kelam pertumbuhan ekonomi minus terulang setelah dua dekade. Awal bulan Agustus 2020 Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi RI kuartal II 2020  -5,32 %.Pertumbuhan ekonomi minus tersebut merupakan yang terendah sejak krisis moneter pada medio 1998–1999.

’’Pertumbuhan kuartal ini kalau dilacak terendah sejak kuartal I 1999 waktu krisis ekonomi. Saat itu pertumbuhan kontraksi sebesar 6,13 %,’’ ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Krisis ekonomi dua dekade silam membawa pertumbuhan ekonomi RI berada di titik terendah sepanjang sejarah, yakni -13,13 persen pada 1998. Masa-masa suram itu mulai terasa sejak krisis moneter 1997. Padahal, pada 1996, ekonomi RI masih mampu tumbuh 7,8 %. Setahun berselang, ekonomi hanya tumbuh 4,7%. Puncak tren pemburukan terjadi pada 1998 yang membuat ekonomi kala itu terjun bebas.

Ekonomi RI mulai bisa berada di kisaran 5 % pada 2004. Puncaknya pada 2007 saat ada di level 6,35%. Booming harga komoditas yang saat itu menjadi primadona membuat ekonomi domestik melejit.

Namun, usaha perbaikan ekonomi harus pupus sejak pandemi Covid-19 muncul. Bukan hanya Indonesia, tekanan juga dirasakan seluruh negara di dunia. ”Kontraksi kita cukup dalam. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 sudah melambat. Ini dampak pandemi Covid-19 yang luar biasa buruknya,’’ tutur Suhariyanto.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 dipicu berbagai kontraksi hampir di seluruh komponen. Mulai konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau indikator investasi, ekspor-impor, hingga konsumsi pemerintah. Seluruhnya mencatatkan rapor merah.

Namun demikian, Suhariyanto tetap optimistis kondisi akan membaik. Terlebih,stelah relaksasi PSBB denyut ekonomi mulai kembali terasa.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menampik anggapan bahwa RI saat ini mengalami resesi. Dia menjelaskan, dari indikator yang ada, kondisi saat ini belum bisa disebut sebagai resesi teknikal.

’’Kalau dilihat secara year on year (yoy), belum (resesi teknikal). Karena ini kali pertama Indonesia mengalami kontraksi. Yang disebutkan tadi pertumbuhan quarter-to-quarter biasanya yang dilihat resesi adalah secara yoy dua kuartal berturut-turut,’’ kata Sri Mulyani.

Menurut mantan Direktur  Bank Dunia ini, ekonomi bisa pulih bertahap , terutama pada kuartal III dan IV 2020. Pada kuartal III 2020,  Sri Mulyani– memproyeksi ekonomi berada di level 0 % dan 0,5 %.

Meski diakuinya tidak mudah, optimisme itu diharapkan berlanjut pada kuartal IV. ’’Kuartal IV diharapkan bisa meningkat mendekati 3 % dan kalau terjadi keseluruhan pertumbuhan ekonomi 2020 diharapkan akan tetap terjaga pada zona positif, minimal 0 % hingga 1 %,’’ujar Sri Mulyani.

 Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berharap pilkada 2020 bisa menjadi stimulus yang membuat ekonomi bangkit. Sebab, akan ada lebih dari Rp 20 triliun yang beredar selama pilkada berlangsung. Perputaran uang dalam jumlah besar itu diharapkan bisa meningkatkan konsumsi.

Di sisi lain, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, pemerintah tidak responsif menanggapi kondisi pandemi dan resesi ekonomi. Dia melihat pertumbuhan ekonomi triwulan kedua cukup aneh. ”Masak pertumbuhan belanja pemerintah bisa lebih rendah daripada pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Sampai -6,9 %,” ujar Bhima.

Menurutnya, itu merupakan salah satu penyebab Indonesia dipastikan akan masuk jurang resesi di triwulan ketiga.  Sebab, belanja pemerintah tidak bisa diandalkan sebagai motor utama untuk mendorong pemulihan ekonomi. (B-003) ***