Petani Kreatif Bermunculan

117
Petani Kreatif Bermunculan

    Pandemi Covid-19 merupakan musibah yang membuat manusia nyaris tak berdaya. Banyak sekali rakyat yang panik dan tidak mampu keluar dari penyanderaan wabah mendunia itu. Banyak sekali rakyat yang tidak dapat berbuat banyak, terutama dalam bidang ekonomi. Pendapatan dan daya beli masyarakat anjlok.  Masyarakat perkotaan banyak yang hanya menunggu bantuan pemertintah atau lembaga sosioal lainnya.

   Harus kita akui, pemerintah juga mengakuinya, kelompok masyarakat pertanianlah yang mampu bertahan secara ekonomi. Hasil panen yang melimpah mampu memberi kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian negeri ini. Sektor pertanian, baik persawahan, perkebunan maupun pertanian ”amatir” atau bertani mandiri, bercocok tanam untuk konsumsi keluarga, mulai bergairah lagi. Hasil panen melimpah tersebut tidak lepas dari teknik bercocok tanam modern.

   Mereka menggunakan sarana pertanian (saprotan)  hasil penelitian dan kreativitas para petani muda di daerahnya. Akhir-akhir ini, para petani, terutama petani usia muda, tengah mengembangkan berbagai jenis pupuk organik dengan bahan yang tersedia di daerahnya. Banyak jenis pupuk organik cair (POC) yang dibuat dari bahan sederhana seperti kulit bawang merah, nasi basi, air cucian beras, sampah dapur, daun-daun kering, rumput limbah pembabatan, dan sebagainya. Banyak jenis pupuk organik kering yang dijual di pasar. Pupuk organik kering itu mereka buat dari limbah kayu, daun bambu kering, sekam, arang kayu, sabut kelapa, kotoran ternak, dan sebagainya.  Mereka juga melakukan penelitian mendalam tentang hara tanah, kandungan bakteri penyubur akar, batang, daun, bunga, dan buah. Mereka juga meneliti teknologi pertanian berdasarkan ilmu pengetahuan mutakhir seperti cara pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, penyiraman, pencangkokan, sambung pucuk, persilangan. dan sebagainya.

   Hasil penelitian dan pengalaman itu kemudian disebarluaskan secara gratis kepada khalayak terutama para petani. Banyak sekali petani yang berhasil mengembangkan tanaman anggur yang kualitas buahnya menyamai anggur impor. Banyak pula petani yang membuka kebun pepaya dengan hasil puluhan ton buah papaya berkualitias. Para petani muda seolah-olah tengah berlomba menanam mangga dalam pot dengan hasil panen yang melimpah dan berkualitas. Mereka juga mengembangkan berbagai jenis tanaman hias dengan harga jutaan rupiah.

   Kreativitas para petani muda itu mendorong kelompok-kelompok tani yang mengembangkan tanaman yang sesuai dengan iklim dan cuaca daerahnya. Namun mereka juga berhasil menanam sayur mayur di daerah yang semula bukan daerah sayur mayur. Banyak petani profesional dan amatir yang menanam sayur mayur dengan sistem hidroponik atau semihidroponik. Mereka memanfaatkan barang-barang bekas seoerti botol air mineral, kaleng cat, ember aduk, paralon, dan sejenisnya. Alat-alat pertanian yang dibuat pandai besi, juga ikut masuk pasar dan laku keras. Cangkul, parang, sabit, pisau, golok, garpu-tanah, dan sejenisnya, menjadi bagian dari kebutuhan pokok para petani.

   Ternyata pada musim pandemi ini di perkampungan bermunculan para petani muda kreatif. Hasil penelitian pra-pandemi, menyebutkan, para pemuda kita tidak mau lagi terjun ke sektor pertanian. Mereka memilih bekerja di pabrik dari pada betrgelut dengan lumpur. Karena itu masa depan pertanian kita semakin gelap. Pada kenyataannya, sikap pesimstis itu terpatahkan. Kini justru bermunculan petani muda dengan segudang ide dan kreativitas tinggi. Tidak berlebihan bila kita katakan, masa depan perekonomian Indonesia akan kembali berbasis pertanian. ***