Polah Generasi ‘Kids Zaman Now’

312

SETIAP zaman punya generasinya sendiri. Setelah milenial, kini generasi Z. Mereka yang disebut Kids Zaman Now ini punya karakteristik unik, membedakannya dengan generasi sebelumnya.

        Forbes mendefinisikan bahwa Generasi Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, Nielsen menyebut Generasi Z mereka yang berada pada rentang usia 10 hingga 19 tahun saat ini, sementara BBC menulis bahwa Generasi Z yang termuda lahir pada 2001 atau berusia 16 tahun per tahun 2017 ini.

        Mereka menguasai 30 persen populasi di Indonesia, atau sekitar 80 juta orang. Internet menjadi gairah hidupnya. Hanya itukah? Seperti apa generasi pemakan kuota ini? Benarkah mereka tidak peduli?

        Menarik mengetahui tentang Generasi Z yang bakal jadi penerus bangsa ini dalam tulisan mendalam yang disajikan berikut ini.

Panggil saja dia Fiqy. Mahasiswi semester 5 Jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat di Institut Ilmu Sosial Politik Jakarta. Usianya masih 19 tahun, satu tahun lebih muda dari rekan-rekan seangkatan di Kampus Tercinta.

Malam itu, Fiqy berbaring di samping laptop yang dibiarkannya menyala dan sejumlah buku bacaan kuliah yang menganga. Binar ponsel menyoroti wajahnya. Ibu jarinya aktif bergulir di halaman pencarian YouTube. Dia berhenti pada satu video dari vlogger Chea Nuh. Sesaat kemudian, Fiqy larut dalam video swatch, menjajal warna, lipstik dari vlogger berkulit eksotis tersebut.

Sesekali aktivitas streaming-nya terhenti sementara. Pesan dari WhatsApp dan Line muncul membuatnya harus berpaling sejenak dari YouTube. Dia membaca dan membalas pesan-pesan tersebut, lalu kembali memutar videonya.

Bosan, Fiqy beralih ke Instagram. Jemarinya pun lincah mengetik tagar merek lipstik yang sedang diincarnya. Tak jarang, dia langsung mendaratkan pencariannya pada profil selebgram yang sudah diikutinya. Fiqy sibuk mencari referensi swatch lain sebelum benar-benar memutuskan warna lipstik yang akan dibeli di Shopee nanti.

Dia Fiqy, satu dari remaja masa kini yang kerap disebut Generasi Z, generasi yang konon tak pernah lepas dari internet. Generasi yang makannya kuota, benarkah demikian? Fiqy mengaku, dalam satu bulan dia menghabiskan kurang lebih 33 GB yang harganya sekitar Rp60 ribu.

Dia biasa melakukan streaming YouTube dari sekadar nonton trailer film, vlogger kecantikan, musik, hingga konten-konten global seperti belajar Bahasa Inggris, mengintip kehidupan sosial di berbagai negara, dan lain sebagainya.

Dia juga suka menonton Drama Korea melalui Viu. Bedanya, Fiqy akan mengunduh dulu sebelum menontonnya. Dengan begitu ia bisa lebih hemat kuota. Fiqy juga punya JOOX dan Spotify, aplikasi pemutar musik online yang kerap dimainkannya sambil belajar atau rutinitas lainnya.

Fiqy tentu saja pengguna aktif media sosial. Dia punya semua akun medsos dari Facebook, Twitter, Snapchat, Instagram, Path, bahkan Pinterest untuk mencari gambar-gambar lucu sebagai wallpaper ponsel pintar. Namun Facebook, jejaring pertemanan yang dia punya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sudah mulai ditinggalkannya. Fiqy lebih memilih Instagram yang dianggapnya dinamis dan sederhana. Untuk kebutuhan informasi, Fiqy suka sekali membaca LineToday, sesekali browsing langsung ke situs media mainstream, tapi lebih sering stalking akun berita di Instagram.

“Aku lebih suka baca yang padat, jelas. Gambar atau video lebih menarik juga,” katanya.

Fiqy lahir pada tahun 1998, tahun sejarah, sekaligus berdarah, di Indonesia. Bulannya Juni, hanya beberapa minggu setelah BJ Habibie dinobatkan sebagai orang nomor 1 negeri ini. Semula ia akan diberi nama Habibie jika terlahir laki-laki. Namun nyatanya perempuan, pun tak lantas membuatnya menjadi Habibah.

Fiqy lahir di era reformasi yang menandai keterbukaan dan kebebasan berpendapat di Tanah Air, hanya empat tahun dari kelahiran IndoNet, (Internet Service Providers) ISP komersial pertama pada 1994 yang menjadi tonggak sejarah perkembangan internet di Indonesia.

Merlyna Lim, Canada Research Chair dalam bidang media digital dan masyarakat global kelahiran Bandung, dalam jurnalnya, The Internet, Social Network and Reform in Indonesia (2003), mengatakan, pengguna internet di Indonesia kala itu masih sangat terbatas pada kalangan elite akademisi.

Masih dari jurnal yang sama, berdasarkan data dari International Telecommunications Union (ITU) di tahun 1999 hanya ada 21.052 host internet dengan 900.000 pengguna di Indonesia. Namun, jumlahnya meningkat drastis pada tahun 2001, yakni 46.000 host dan 4 juta pengguna. Alasannya, internet yang semula hanya terbatas digunakan di rumah atau kantor tertentu saja, mulai bisa dijangkau melalui warnet (warung internet).

Tahun 1990-an memang kerap dikenal sebagai era peralihan dari analog menjadi digital. Setelah IndoNet, ISP lain pun bermunculan, seperti PT Rahardjasa Internet (Radnet) di tahun 1995, Wasantara Network di tahun 1996, IndosatNet pada tahun 1996, dan Telkomnet di tahun 1998.

Dalam ranah teknologi perfilman dan lainnya pun tak jauh berbeda. Di tahun 1993, misalnya, Jurrasic Park karya Stephen Spielberg lahir. Film ini menjadi pelopor kemajuan teknologi digital dalam sejarah perfilman dunia. Sebagai film pertama yang karakternya menggunakan Computer Generated Imagery (CGI), mahakarya Spielberg ini menyandang predikat efek visual terbaik selama 20 tahun. (C-003)***