Popmasepi: Sebelum Disalurkan Produk Pertanian Dikarantina

64
Popmasepi: Sebelum Disalurkan Produk Pertanian Dikarantina

BISNIS BANDUNG– Covid-19  telah melumpuhkan ekonomi, tak terkecuali sektor pertanian. Anjuran pembatasan sosial berskala besar berdampak pada berkurangnya mobilitas manusia untuk bertatap muka sehingga bisa dilihat di sektor usaha seperti rumah makan dan perhotelan mengalami sepi pengunjung.

Komoditas pertanian selain didistribusikan ke pasar tradisional dan pasar modern juga didistribusikan ke rumah makan dan perhotelan. Dengan menurunnya jumlah pengunjung dan menurunnya mobilitas manusia dalam bergerak, menyebabkan beberapa komoditas pertanian tidak terserap oleh pasar.

Meskipun mobilitas manusia dibatasi, namun pada prinsipnya kebutuhan akan pangan tetap harus dipenuhi. Seperti yang diketahui covid-19 ini berdampak pada melumpuhnya ekonomi nasional. Negara Indonesia telah beberapakali mengelami krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1997 dan 2008.

Setiap mengalami krisis, sektor pertanian selalu berperan dalam menghadapi krisis, pasalnya sektor pertanian tidak hanya mampu menyediakan pangan bagi masyarakat, sektor pertanian juga mampu menyediakan lapangan pekerjaan, tercatat pada Agustus 2019 sektor pertanian mampu menyerap 133,56 juta orang.

“Jika melihat jumlah tenaga kerja yang terkena PHK kemudian pulang ke kampung, ada potensi meningkatnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian,” tutur Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Ekonomi Pertanian Indonesia (DPP Popmasepi), Isya Anshori kepada Bisnis Bandung, Senin  ini.

Artinya meskipun krisis terjadi, sektor pertanian tetap berdiri tegak untuk menyediakan lapangan pekerjaan, karena pada dasarnya kebutuhan pangan tetap harus dipenuhi. Kemudian dengan munculnya kebiasaan masyarakat untuk melakukan berbagai hal dari rumah, hal ini dapat mendorong majunya sistem e-commerce pada sektor pertanian.

Isya Anshori mengungkapkan, pada dasarnya sektor pertanian di semua wilayah terdampak akibat Covid-19.  Melemahnya pasar sementara biaya produksi meningkat, menyebabkan hal sulit yang harus dihadapi. Jika melihat kebijakan yang diambil saat ini, sektor pertanian bukanlah sektor prioritas dalam pembangunan ekonomi.

Dalam mengantisipasi penyebaran covid-19 di masa new normal, sektor pertanian harus menerapkan protokol kesehatan pada pelaksanaannya baik hulu maupun hilir, seperti mengkarantina produk pertanian sebelum diedarkan ke pasar, penerapan protokol pada saat pengiriman dan lain sebagainya.

Program yang harus digulirkan oleh pemerintah adalah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) dan memastikan bahwa petani mendapatkan harga yang sesuai,  sehingga petani tidak mengalami kerugian dalam pelaksanaan usaha taninya.  Kemudian TTI yang di gagas oleh Kementrian Pertanian harus terus dioptimalkan bahkan ditambah agar masyarakat mudah mengakses dan agar petani dapat menyalurkan produknya secara langsung.

Selama Covid berlangsung ekspor impor memang mengalami pembatasan, dan sektor pertanian pun merasakan dampaknya. Namun selama pandemi ini sektor pertanian beberapa kali mengekspor seperti ekspor manggis, lada dan jagung.

Selain itu dari 11 komoditas strategis selama pandemi Indonesia akan melakukan impor terhadap tiga komoditas seperti bawang putih, daging sapi dan juga gula. Hal ini diakibatkan produksi dalam negeri tidak mencukupi perkiraan kebutuhan dalam negeri.

Berdasarkan perkiraan kebutuhan dan ketersediaan pangan pokok nasional periode Maret sampai dengan Mei 2020, Kementrian Pertanian berniat melakukan impor 196.549 ton Bawang Putih, 109.253 ton daging sapi dan 672.500 ton gula pasir. Seperti yang kita rasakan, harga gula pasir melonjak akhir-akhir ini karena terbatasnya stok, pungkasnya kepada BB. (E-018)***