Populatritas dalam Perpolitikan

274
Populatritas dalam Perpolitikan

      PADA Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Jawa Barat, muncul lagi nama-nama pesohor yang dicalonkan sebagai kepala atau wakil kepala daerah. Pesohor itu pasti artis, baik artis terkenal atau kurang dikenal. Selain artis (penyanyi, bintang film, pemain sionetron, atau pelawak), sekarang muncul pula pesepak bola.      

     Reporter Bandung TV, kemarin melaporkan, ada dua pesohor yang dicalonkan sebagai wakil bupati. Tidak kurang dari PDIP yang mengusung Lucky Hakim sebagai calon Wakil Bupati Indramayu dan Ardy Fairuz untuk calon Wakil Bupati Karawang. Pada Pilkada Kabupaten Bandung, PAN mengusung mantan Kapten Persib, Atep. Legenda Persib asal Cianjur itu berpasangan dengan politisi kaya raya keluarga Masoem, Yena Masoem yang menggunakan kendaraan PDIP. Seleb, Sahrul Gunawan, terah Bogor, dibetot Gerindra berpasangan dengan Dadang Supriatna yang diusung Demokrat. Parpol berlambang caringin kurung memilih tidak menarik pesohor, baik untuk cabup maupun cawabup. Golkar menetapkan Nia Dadang Naser sebagai cabup dan wakilnya seoang pejabat di Pemkab Bandung, Usman Sayogi. Gun-Gun yang sekarang sebagai Wakil Bupati Bandung, dicalonkan oleh PKS, berpasangan dengan Dina Lorenzo. Cukup menarik, Gun-Gun bersedia dipasangkan dengan pesohor.

     Entah mana yang benar, para pesohor terjun ke dunia politik atau parpol menerjunkan para pesohor ke dunia perpolitikan. Yang kita lihat pada setiap kali pemilu/pilkakada selalu ada pesohor yang muncul. Pada pemilu legislatif 2019, calon anggota legislatif penuh bunga warna-warni. Di jajaran para  anggota DPR-RI bertaburan nama-nama Krisdayanti, Wulan Zamila. Sebelumnya muncul nama-nama pelawak (mereka lebih bangga disebut  komedian) seperti Miing, Eko Patrio, Qomar, dan lain-lain. Di Senayan juga ada nama  Diah Pitaloka, Nurul Atrifin, Desy Ratna Sari, dan lain-lain.

     Provinsi Jawa Barat selalu bertabur bintang, baik dalam pemerintrahan maupun legislatif. Gubernur Ahmad Heryawan yang diusung PKS, dua periode selalu didampingi wakilnya yang dibetot dari kalangan seleb. Pertama ia berpasangan dengan Dede Yusuf. Periode kedua ia dikawal Jenderal Naga Bonar, Deddy Mizwar. Kabupaten Bandung Barat memilih artis asal Blitar. Para calon anggota  legislatif untuk DPR-RI, banyak artis yang oleh parpol pengusungnya, ditempatkan di Dapil Jabar. Kita kenal Marisha Haque yang kala itu diusung PDFIP, Rachel Mariam, Desy Ratnasari, Niko Siahaan, Nurul Arifin, Dede Yusuf,  sekarang nama-nama Wulan Zamila, dan calon lama yang kembali tampil, berada di Dapil Jabar.

     Meskipun nama para pesohor itu tidak begitu sering tampil sebagai penggagas, inisiatif leader, interuptor, dan sebangsanya, mereka tetap sebagai anggota legislatif. Secara politis, tugas mereka tidak  selesai hanya sebagai penghimpun suara.   Harapan publik, para pesohor itu mau benar-benar beradaptasi, memahami benar keinginan, harapan, atau aspirasi masyarakat, bukan hanya rakyat di dapilnya saja. Mereka kini sudah menjadi wakil rakyat seluruh Indonesia. Mereka diharapkan tahu persis apa kehendak  260 juta rakyat Indonesia. Tentu tidak semua pesohor yang hanya sebagai bunga sidiang paripurna. Buktinya, ada pesohor yang kariernya di DPR terus melejit. Dede Yusuf,salah satunya,   sering kali tampil di depan public sebagai ketua komisi.

      Seperti dikatakan Ketua PDIP Kabupaten Bandung, dibetotnya para pesohor bukan hanya sebagai  penghimpun suara. Secara politis mereka dapat diandalkan  parpol pengusungnya. Namun tidak dapat dimungkiri, tampilnya pesohor  berdampak positif bagi parpol pengusungnya. Suka atau tidak, para pesohor dapat mendongkrak jumlah suara parpol pengusungnya. Hal itu merupakan strategi parpol yang sungguh tepat di tengah pemilih yang menusuk calon yang mereka kenal. Banyak sekali rakyat pemilih yang menentukan pilihannya hanya kepada tokoh yang mereka kenal, buka terharap parpol pengusungnya. Tokoh yang sering tampil di layar kaca atau layar lebar punya peluang sangat besar, dipilih masyarakat. Masyarakat nyaris tidak peduli terhadap karier dan latar belakang politik para calon. yang penting,pilihannyua itu tersohor atau  idolanya.***