Produksi Susu 2020 Jabar Relatif Stabil Jatim Paling Produktif 

7
Produksi Susu 2020 Jabar Relatif Stabil Jatim Paling Produktif

BISNIS BANDUNG– Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia – GKSI Jawa Barat, H.Dedi Setiadi mengemukakan, kondisi persusuan  di Jawa Barat pada tahun 2020, relatif stabil kurang lebih 450 ton/hari. Kondisi Jawa Tengah dan Jawa Timur juga relatif stabil dengan produksi masing-masing (Jateng : 165 ton/hari ,  Jatim: 1.127 ton/hari).

 Produksi susu tersebut seluruhnya terserap oleh industri susu  di tiga provinsi  yakni  Jawa Barat, Jawa Tengah  dan Jawa Timur.

Angka produksi susu naik atau turunnya dipengaruhi   oleh  pakan hijauan, ampas tahu atau onggok dan konsentrat. Pakan Konsentrat dipengaruhi oleh bahan-bahan pendukungnya (bungkil kelapa, bungkil coklat, dedak, wheat pollard, DDGS, CGF dan lain lain). Kalau semua bahan tersedia, maka produksi susu yang dihasilkan peternak dalam wadah koperasi akan stabil, kalau bahan diatas berkurang, maka produksi susu akan turun.

Di Indonesia, wilayah/provinsi Jawa Timur mengalami kenaikan lebih tinggi dibanding dengan provinsi yang lain, hal ini disebabkan oleh adanya penambahan populasi di wilayah tersebut.

Pada tahun 2019 produksinya 950 ton/hari, dan pada tahun 2020 mengalami kenaikan menjadi 1.127 ton/hari. Sedangkan diprovinsi lain seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah, hampir tidak ada penurunan yang signifikan, paparnya kepada Bisnis Bandung (BB), di Bandung.

Dedi menyatakan, saat ini peternak sapi perah yang tergabung dalam wadah koperasi (GKSI), baru mampu menyediakan susu segar sebanyak 20% dari kebutuhan nasional (Produksi harian kami kurang lebih sekitar 1.600 ton susu segar), kebutuhan Industri Susu (IPS) sebesar 80% dipenuhi oleh impor dalam bentuk skim milk powder (SMP). Kebutuhan Nasional sendiri kurang lebih sekitar 6.400 – 7.000 ton/hari. Industri Pengolahan Susu (IPS) mengimpor susu dari negara-negara baik Asia Oceania, Europe, dan US.

Dedi Setiadi yang juga menjabat sebagai Ketua KPSBU Lembang ini menyebutkan  untuk memenuhi kebutuhan/menutupi kekurangan produksi susu, pemerintah sudah melakukan langkah-langkah dengan membuat Road Map Persusuan untuk mencapai swasembada susu 2025.

Dalam Road Map tersebut direncanakan minimal 50% kebutuhan susu nasional dipenuhi oleh peternak sapi perah lokal, melalui peningkatan kepemilikan sapi, ketersediaan lahan, dan peningkatan produktivitas sapi perah.

 “Kualitas produksi susu yang dihasilkan oleh peternak sapi perah yang tergabung dalam wadah koperasi (GKSI) sudah melewati Standar Nasional Indonesia (SNI)”, imbuhnya.

Menurutnya, yang harus dilakukan oleh peternak untuk mendongkrak angka produksi susu didalam negeri yakni, meningkatkan Good Farming Practice, baik pra produksi, produksi dan pasca produksi sehingga sapi yang dipelihara memiliki produktivitas yang tinggi.

Sedangkan yang harus dilakukan oleh pemerintah yakni regulasi terkait dengan lahan dan proteksi susu dalam negeri, ketersediaan bibit, lahan, skema Kredit yang mudah diakses dan affordable.

“Dukungan  pemerintah tehadap produksi susu, sudah ada di antaranya  menerbitkan Permentan nomor 33/tahun 2018, pemerintah melalui kementerian pertanian, kementerian koperasi, kementerian perdagangan, kementerian perindustrian dan kementerian koordinator perekonomian sudah menerbitkan road map persusuan tentang swasembada susu tahun 2025. Semoga road map yang sudah direncanakan dapat tercapai di tahun 2025,” ucapnya.(E-018)***