Program Penataan Citarum Berdampak Pada Kelesuan Industri Tekstil ?

90

BISNIS BANDUNG – Industri tekstil di Jawa Barat, mengalami kelesuan. Salah satu faktor penghambat terbesar adalah faktor lingkungan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Kevin Hartanto menyebut, Program Citarum Harum banyak berpengaruh pada banyak industri yang berdomisili di sekitaran Citarum

Sejak Perpres soal Citarum diterbitkan. Kevin, banyak perusahaan yang ditindak karena baku mutu, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan lainnya. Di antaranya industri tekstil, terutama pencelupan  mengalami kelesuan. harus mengurangi produksi. ”Tanpa mengurangi produksi, tidak akan bisa mengolah (sesuai aturan),” ujar Kevin. Sedangkan untuk pembenahan IPAL, membutuhkan waktu cukup lama. Walaupun pemerintah mengatakan hanya membutuhkan waktu 3 bulan, kenyataannya tidak demikian.

Pengusaha harus menyiapkan lahan, kemudian mencari pinjaman ke bank karena finansial cost-nya cukup tinggi, ditambah harus ada studi kelayakan. “Mayoritas, pembenahan butuh 1-2 tahun. Itu artinya, sejak pertengahan tahun lalu, rata-rata (industri) pencelupan langsung drop,” ungkap Kevin. Kondisi serupa ini berimbas pada industri tekstil di hulu.  Selama ini banyak perusahaan di Jateng mengirimkan bahan baku kain ke Bandung untuk pencelupan. Namun karena industri di Jabar mengurangi produksi, otomatis kain menumpuk di Jateng hingga mereka ikut pula mengurangi produksinya. “Produsen benang sampai kain sedang lesu.

Pasar lesu yang mencuatkan gap karena berkurangnya produksi,”tutur Kevin baru-baru ini di Bandung. Meski demikian, jumlah permintaan tetap sama. Kevin khawatir, kekosongan ini nantinya diisi oleh impor. Kontribusi tekstil bagi Jabar berdasar data Kementerian Perindustrian menyebutkan, Jabar merupakan provinsi dengan jumlah industri terbanyak. Dari 74 kawasan industri yang tersebar di Indonesia, 40 di antaranya berlokasi di Jabar.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jabar mampu memberikan kontribusi tertinggi ketiga sebesar 14.88 %, setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur pada Produk Domesti Bruto (PDB) Nasional. Perkembangan pangsa pasar ekspor Jawa Barat pada akhir 2017 disumbangkan oleh subkelompok tekstil dan produk tekstil (19,8 %), diikuti kendaraan bermotor (17,5 %), elektronik (17,4 %) dan kimia (7 %). Namun pangsa pasar ekspor tekstil terus mengalami penurunan. Walau ada kenaikan, menurut Kevin, karena ditunjang ekspor pakaian jadi Untuk mendongkrak penjualan, API bekerja sama dengan Cotton Council International tengah mendalami tren fesyen  dan inovasi teknologi tekstil terbaru kepada para pelaku industri tekstil.

Baca juga: Persoalan DAS Citarum Bisa Tertanggulangi

Badai impor

Berbagai keterangan yang dihimpun BB menyebut, industri tekstil dan produk tekstil atau TPT di dalam negeri saat ini masih dalam kondisi lesu karena tak mampu bersaing produk tekstil impor,  terutama dari Tiongkok. Industri TPT di dalam negeri yang pernah berjaya pada dekade 1980.

Disamping itu redupnya industri TPT di dalam negeri karena  harga bahan baku yang diimpor terkerek lebih tinggi dari kondisi normal. Ditambah kondisi pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang  melonjak. Kondisi tersebut memicu kerugian pada industri TPT karena cost produksi otomatis melonjak.

Sementara ekspor produk masih dengan harga tetap. Di samping itu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif listrik dan upah  ikut mendorong  memperparah kondisi industri TPT. Hingga banyak terjadi PHK. Dalam kelesuan, banyak pelaku industri TPT beralih memperdagangkan barang impor dengan membuka gerai factory outlet. (B-003) ***