Program Vaksin Kepada Pedagang Pasar Masih Minim Sosialisasi

12
Program Vaksin Kepada Pedagang Pasar Masih Minim Sosialisasi
Bisnis Bandung — Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Provinsi Jawa Barat menegaskan, pedagang di pasar akan menjadi sasaran prioritas vaksinasi Covid-19 setelah tenaga kesehatan (nakes). Hal itu dilakukan karena pedagang di pasar kerap berinteraksi dengan banyak orang, sehingga dikhawatirkan akan terjadi terpapar dan menularkan Covid-19 saat transaksi jual-beli berlangsung.

Menangggapi rencana program vaksinasi kepada pedagang pasar, Ketua Umum Pedagang Pasar Tradisional dan Warng kelontong (Pesat), Usep Iskandar Wijaya menyatakan, kebijakan pemerintah tersebut sangat positive, dalam artian kepedulian pemerintah terhadap keselamatan, kesehatan para pedagang pasar tradisional. Pesat mendukung dengan program tersebut, pasalnya  demi keselamatan para pedagang, karena tidak dipungkiri  bahwa semakin hari wabah tersebut semakin mencekam, bahkan telah banyak memakan korban.Para pedagang pasar juga ada yang kena, meskipun telah melaksanakan prokes, namun tetap saja ada yang kena, dengan demikian kami sangat mendukung program tersebut demi keselamatan para pedagang pasar tradisional khususnya, umumnya para pengunjung/konsumen yang berbelanja kepasar”
Program vaksinasi untuk pedagang pasar tradisional dan konsumen/pengunjung, merupakan langkah yang sangat tepat, namun dalam hal ini fungsi pengelola harus kerja keras untuk gencar mensosialisasikan program tersebut kepada para pedagang, terutama pengelola di bawah pemerintah. Idealnya peranan PD Pasar, karena jelas dan gamblang, bahwa semua pedagang tercatat di pengelola. Maka pro aktif dari PD pasar atau pengelola harus extra mendata dan mensosialisasikan. Idealnya pemerintah juga menyediakan tempat untuk melaksanakan vaksin dengan melibatkan semua unsur muspika wilayah yang ada pasarnya”, ungkapnya kepada Bisnis Bandung (BB), di Bandung.
Usep mengklaim, anggota Pesat tersebar diseluruh pasar di Indonesia, usia anggota pesat rata rata berusia muda dibawah usia 45 tahun. Bersedia atau tidak divaksin, harus bersedia karena ini merupakan program demi kebaikan keselamatan dan kesehatan para pedagang. Inilah masalahnya, pemerintah mungkin sudah sosialisasi ke intansi-intansi terkait. tetapi kinerja intansi belum ada sosialisasi yang berkelanjutan ke para pedagang, dan seharusnya sosialisasi ini melibatkan semua unsure. Semua unsur pasar harus dilibatkan untuk sosialisasi ke pedagang biar paham, mengerti dampak baiknya, bukan issu-isu yang tidak bertanggung jawab terhadap para pedagang, sehingga akan menimbulkan kontra dan ketakutan”, pungkasnya Lebih Dari 70 Ribu Pegawai Ritel Siap Ikuti Program Vaksin.
 
Sementara itu,  Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel indonesia DPD Jawa Barat,  Yudi Hartanto SE.,MM mengemukakan, pada pertengahan bulan Februari beberapa pemerintah kabupaten maupun kota telah melakukan pendataan secara langsung mengenai jumlah karyawan di semua toko ritel swalayan anggota Aprindo Jawa Barat. Menurut informasi yang diterima, pendataan ini terkait dengan arahan dari pemerintah provinsi Jawa Barat untuk mengumpulkan data sasaran pelayan publik untuk pelaksanaan vaksinasi covid-19. Dalam surat Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat yang ditujukan kepada seluruh dinas yang membidangi perdagangan di seluruh kabupaten/kota Jawa Barat dikatakan pengelola/pelayan toko swalayan termasuk sasaran program vaksinasi oleh pemerintah. “Kami sangat mendukung terlaksananya program vaksinasi yang terus dipacu oleh pemerintah, demi memulihkan kesehatan dan perekonomian masyarakat Jawa Barat. Oleh karena itu, kami mendorong semua anggota Aprindo Jawa Barat melakukan koordinasi langsung dengan masing-masing pemerintah daerah setempat melalui dinas perdagangan agar baik pengelola maupun karyawan toko swalayan terdata dengan benar”
Yudi Hartanto SE.,MM menegaskan, sejak pendataan toko swalayan yang dilakukan pertengahan Februari yang lalu, saat ini anggota Aprindo masih menunggu arahan lebih lanjut terkait kapan pelaksanaan program vaksinasi bagi pengelola dan karyawan toko swalayan. Ada sedikit titik terang yang datang dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung bahwa pelaksanaan program vaksinasi pemerintah yang ditujukan bagi pengelola pusat perbelanjaan anggota APPBI dan toko ritel modern yang tergabung dalam Aprindo akan segera diluncurkan. “Untuk kick-off atau peluncuran program vaksinasi covid-19 bagi toko ritel, kami sedang berkoordinasi langsung dengan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung. Jika tidak ada kendala, peluncuran program akan dilaksanakan pada awal bulan Maret ini di salah satu supermarket”, tegasnya kepada Bisnis Bandung (BB), di Bandung.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh anggota Aprindo Jawa Barat dalam pendataan sasaran vaksinasi ada sekitar 70.000 lebih karyawan dan pengelola yang akan mengikuti program vaksin. Angka ini tentu masih bisa bertambah jika waktu pendataan yang diberikan cukup panjang. “Prioritas vaksinasi ini kami tujukan bagi front-liner di masing-masing toko swalayan. Karyawan yang melayani konsumen secara langsung adalah yang paling riskan dan lebih membutuhan pencegahan dibandingkan pengelola yang bekerja dibalik toko”
Orang nomor satu di Aprindo Jabar ini pun mengimbuhkan, pemberian vaksinasi bagi pengelola dan karyawan toko swalayan adalah gratis. Sumber pendanaan sejauh ini masih sebagai program vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah dengan dana APBN, namun tidak menutup kemungkinan bahwa para pengusaha juga akan bergotong-royong melakukan program vaksinasi mandiri tanpa membebani karyawan. Bagi pengelola maupun karyawan yang memenuhi syarat untuk divaksinasi, maka program ini adalah wajib. “Tetapi bagi yang tidak mau mengikuti program vaksinasi sejauh ini belum ada pemberlakuan sanksi apapun, kami lebih memprioritaskan pelaksanaan program vaksinasi yang secepatnya dengan terus berupaya melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah. Hanya yang mempunyai masalah kesehatan bawaan atau yang sedang hamil yang tidak ikut serta dalam pendataan pertengahan Februari yang lalu”
Menurut Yudi, walaupun nantinya telah dilakukan vaksinasi bagi pengelola dan karyawan toko swalayan, pelaksanaan protokol kesehatan secara ketat akan terus menjadi andalan dalam mencegah penyebaran virus dan akan terus dilaksanakan dalam semua toko anggota APRINDO Jawa Barat sampai pandemi ini berlalu, pungkasnya kepada BB.  (E-018)****