Psikolog Ungkap Akibat Keseringan Dengar Informasi Corona COVID-19

13

PANDEMI COVID-19 yang tengah dihadapi di banyak negara, termasuk Indonesia, nyatanya bukan hanya mengancam kesehatan fisik. Mental Anda tentu menjadi terganggu, maka tak ayal jika Anda merasa semakin stres.

Coba ingat-ingat apakah sekarang ini Anda jadi sering merasa sesak napas, gelisah, bahkan hingga susah tidur, karena terlalu banyak menerima informasi yang beredar di media ataupun linimasa media sosial seputar corona COVID-19. Baik itu pemberitaan valid ataupun kabar-kabar hoax yang susah dibendung peredarannya.

Jika iya, seperti yang disebutkan oleh Psikolog Klinis Emeldah, maka apa yang Anda alami ini adalah yang disebut dengan psikomatis. Kondisi kesehatan mental atau psikis yang mempengaruhi kesehatan fisik.

Mengalami kondisi ini, Emeldah menerangkan, pada dasarnya Anda tidak perlu merasa panik berlebihan. Karena kecemasan yang timbul hingga memengaruhi kesehatan fisik tersebut adalah respon yang normal di kondisi yang tidak normal.

“Kecemasan ini sekarang berdampak pada masyarakat, jadi gelisah, sesak napas, sampai susah tidur, juga sulit mengendalikan emosi marah-marah saja di rumah. Dengan semua gejala ini, ini semua respon yang normal di kondisi yang tidak normal,” ungkap Emeldah, dalam konferensi pers daring “Mengatasi Kebosanan dan Mengelola Stress di Saat Physical Distancing dan Isolasi Mandiri” di Gedung BNPB, Minggu (29/3/2020).

Rasa takut dan kecemasan yang timbul di masyarakat di tengah situasi pandemi COVID-19 seperti saat ini, dilanjutkan Emeldah, sebagai respon normal di tengah kondisi yang tidak normal. Kenapa tidak normal? Sebab pandemi ini termasuk dalam bencana non-alam, ada ketidakpastian ditambah adanya ketakutan, yang akhirnya menimbulkan kecemasan tersendiri.

Untuk menyiasatinya, Emeldah menyarankan selama isolasi mandiri di rumah kita bisa melakukan banyak aktivitas baru. Aktivitas baru ini disebutkan dibutuhkan individu untuk menyesuaikan, dengan kondisi saat ini. Bahkan bagi para orangtua, aktivitas baru ini bisa sekali dengan melibatkan anak-anak untuk ikut serta.

“Coba deh start aktivitas baru, kita butuh menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Para orang tua mungkin aktivitas baru ini bisa direncanakan dengan anak-anak, tentu prioritas seperti belajar dan bekerja dari rumah tetap targetnya harus tercapai. Jangan malah karena di rumah, jadi malah tidak capai target,” pungkasnya. (C-003/dwk)***