Rasa Garam yang Pahit

758

Selain dikeluhkan oleh ibu-ibu rumah tangga, harga garam yang tinggi itu juga sangat dirasakan oleh para pengusaha ikan asin. Di antara mereka bahkan ada yang sudah menghentikan kegiatannya karena harga garam yang terus membubung. Mereka menunggu sampai berlangsungnya panen raya garam, yang harganya tentu tidak setinggi saat ini.

Mengamati perkembangan harga bahan pokok sehari-hari, hampir dapat dikatakan tak ada harga kebutuhan pokok sehari-hari yang tidak naik. Mulai dari harga beras sampai dengan harga bumbu-bumbuan. Cabe rawit dan bawang merah misalnya, kenaikannya sama sekali tak terkendali. Harga-harga bahan pokok itu nyaris tak terjangkau oleh para buruh yang upahnya paspasan. Apabila dengan kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok itu para petani sebagai produsennya memperoleh untung, tentu dapat kita terima. Tetapi pada kenyataannya, keuntungan itu tidak diraih para petani melainkan oleh para tengkulak. Pemerintah seolah-olah membiarkan hal tersebut terjadi.

Di sektor ekonomi, pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Liberalisasi ekonomi dibiarkan terus terjadi. Ekonomi kerakyatan yang diamanatkan oleh Pancasila, ditinggalkan sama sekali. Oleh mekanisme pasar, fluktuasi harga berlangsung sangat cepat dan berlangsung di luar kendali. Harga-harga yang di pasaran fluktuatif itu seringkali terjadi pada barang-barang kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari. Dalam kondisi seperti itulah rakyat mengeluh dan putus asa.***

Dr. Yayat Hendayana, M.Hum adalah Ketua Pengelola Akademi Budaya Sunda, serta dosen pada program sarjana dan pascasarjana Unpas