Rawan Pangan Mestinya Dilakukan Diversifikasi

11
Rawan Pangan Mestinya Dilakukan Diversifikasi

BISNIS BANDUNG— Guru Besar Ilmu Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Ir. Maman Haeruman K. MSc.,PhD  berpendapat menghindari rawan pangan seharusnya ditutupi melalui diversifikasi pangan. Begitu banyak tanaman serealia dan umbi-umbian yang bisa dihasilkan dan dikonsumsi, belum lagi buah-buahan.

Maka,  jangan terjebak dengan pandangan bahwa makan itu selalu harus nasi beras. Keaneka ragaman tanaman bahan makanan yang melimpah sepertinya tidak dilirik sebelah mata.  Ini fenomena yang menyedihkan.

“Jangan-jangan kita kena kutukan sumberdaya alam, keberadaannya melimpah tapi orang-orangnya melarat kelaparan.  Pemerintah harus mendorong melalui berbagai program agar produk –produk pangan non-beras yang bisa kita hasilkan sendiri dapat diolah menjadi tepung atau bulir-bulir non-beras yang saat ini didominasi oleh tepung terigu yang nota bene bahan pangan yang harus diimpor,” ungkapnya kepada Bisnis Bandung (BB),  Senin (4/01/2021) di Bandung.

Komoditas pertanian pangan yang harus digenjot adalah kentang dan umbi-umbian lainnya juga singkong. Jagung dan kedele yang sudah lebih dulu dicanangkan  perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan. Supaya bisa dimanfaatkan untuk keanekaragaman pangan sebaiknya komoditas bahan baku hasil tanaman-tanaman tersebut diolah menjadi tepung.

Dari tepung-tepung tersebut bisa diolah menjadi beraneka makanan akhir siap saji. Dengan ketersediaan berbagai tepung domestik ini kita harapkan berbagai makanan yang berbahan baku terigu seperti roti dan mie bisa diganti dengan tepung-tepung domestik.

Kalau produksi tepung-tepung domestik berkembang, tidak tertutup kemungkinan tepung-tepung tersebut sebagian diekspor, misalnya tapioka dan mocaf singkong. Kalau nilai tambah (value added) yang lebih besar ingin kita nikmati, tepung-tepung tersebut sebaiknya diolah lebih lanjut menjadi makanan jadi untuk dikonsumsi di dalam negeri sendiri atau diekspor. Dengan kemasan yang menarik seperti yang dilakukan Jepang, makanan domestik kita bisa dipasarkan ke berbagai negara Asia, Eropa atau Amerika.

Baca Juga :   Majelis Hakim Tolak Eksepsi Bos Meikarta

Dia menyebutkan di era pandemi Covid 19,  informasi dari Kabupaten Indramayu sebagai pemasok beras terbesar di Jawa Barat, produksi padi beras dengan bantuan bibit, alat mesin pertanian, mesin penggilingan  dan bantuan asuransi, produksi padi di Indramayu masih tertinggi di Jawa Barat maupun nasional.

Produksi padi di kabupaten ini meningkat di angka 1,5 juta ton gabah kering, demikian pula dengan jagung memperlihatkan hasil  panen bagus. Geliat panen di kabupaten lainnya, Majalengka, Cianjur, Subang, memperlihatkan gambaran yang cukup baik. Dengan stok beras yang juga masih tersedia pasokan beras tidak terganggu dan harga beras selama ini masih stabil.

Kemungkinan rawan pangan dalam era pandemi Covid 19 terkait dengan aksesibilitas sistem distribusi yang terganggu sehingga penyaluran input eksternal seperti benih, pupuk, pestisida dan insektisida yang berasal dari luar daerah ke lokasi usaha tani petani terhambat dan mengalami ketidak lancaran yang bisa berakibat pada penggunaannya yang tidak tepat waktu, atau mungkin tidak bisa menggunakannya sama sekali. (E-018)***