Regulasi dan Budaya Membelenggu Kampus

47
Regulasi dan Budaya Membelenggu Kampus

BISNIS BANDUNG— Pemikiran, budaya dan peraturan yang ada di dunia pendidikan tinggi, masih membelenggu kampus untuk bisa memenuhi permintaan pasar di masa depan.

“Terobosan-terobosan untuk menjembatani dunia pendidikan dengan dunia kerja masih belum cukup kuat untuk menebas keberadaan dunia perguruan tinggi sebagai menara gading, ”  ungkap Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama (Utama), Aida Wijaya dalam percakapan dengan Bisnis Bandung,  hari ini.

Ia menyoroti  bagaimana kampus memerdekakan diri dari belenggu tuntutan pasar versus peraturan?.Strategi kampus yang satu dengan yang lain bisa berbeda tergantung dari sumber daya yang dimiliki masing-masing perguruan tinggi.

Berbahagialah kampus dengan jurusan yang beragam dan yang sumber daya dosennya selama ini berkutat juga di dunia praktik. Akan lebih mudah bagi kampus demikian dalam menjaring calon mahasiswa. Lakukan inventarisasi dosen dengan pengalaman praktik yang bagus, tampilkan profil dosen-dosen tersebut kepada calon mahasiswa.

Dosen-dosen dengan kemampuan praktik tersebut dapat lebih mumpuni ketika membimbing mahasiswa di saat mereka menjalani “kemerdekaan”-nya memilih ilmu praktik yang sesuai. Diharapkan ini menjadi strategi marketing yang bagus bagi kampus.

Kampus yang baru merintis bisa memulai dengan merekrut dosen yang sudah berpengalaman kerja. Namun, jika rekrutmen baru ini memiliki harga yang lebih tinggi daripada tenaga pengajar pemula yang tanpa pengalaman praktik, kampus baru akan mengemban beban yang mahal sejak awal berdirinya. Harus ada modal besar yang mendukung kampus baru tersebut untuk bisa terus berkembang.

Kerja sama dengan perguruan tinggi lain maupun dengan dunia usaha bisa juga menjadi alternatif. Perguruan tinggi dengan sumber daya terbatas dapat berkolaborasi, atau “membeli” jasa dari perguruan tinggi yang memiliki sumber daya dosen yang mumpuni, atau mengontrak pakar dunia usaha untuk menjadi dosen pembimbing. Urusan “jual-beli” jasa dosen praktisi ini bisa menjadi bisnis tersendiri yang memberikan penghasilan bagi perguruan tinggi dengan sumber daya dosen yang menarik. Namun di sisi lain, akibatnya mahasiswa bisa jadi makin terbebani oleh biaya yang melonjak untuk – lagi-lagi – memperoleh pendidikan dengan kualitas yang tinggi.

Pada akhirnya, tidak pelak harus diakui bahwa kampus memang merupakan ajang bisnis. Ada harga – ada kualitas. Sebagaimana kondisi yang selama ini terjadi, namun tidak mau diakui secara terang-terangan.

Berbuat Lebih

Akan sangat melegakan jika pemerintah bisa ikut ambil bagian dengan kemampuannya “memaksakan” baik di dunia pendidikan maupun dunia usaha. Pemerintah bisa lebih mudah menekan “biaya” pendidikan tapi tetap neninggikan kualitas.

Misalnya dengan cara mewajibkan pakar-pakar terpilih dari dunia praktisi di BUMN/BUMD untuk memberikan bimbingan bagi mahasiswa, baik mahasiswa di perguruan tinggi negeri maupun di perguruan tinggi swasta. Tentunya para pakar praktisi ini sebelumnya harus dibekali dengan panduan mendidik/membimbing sesuai dengan “aturan main” perguruan tinggi tempatnya berbagi ilmu, tegas Aida Wijaya kepada Bisnis Bandung (BB), di Bandung.

Pada akhirnya, berpulang kepada pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan generasi muda Indonesia. Sejauh mana kebijakan dari atas diturunkan menjadi program sampai pada tingkat teknis. Tentunya ini juga tergantung dari kesinambungan program, yang semestinya diturunkan dan terus-menerus dan diperbaiki di kala terjadi pergantian pemerintahan. Perbaiki yang kurang, lanjutkan yang sudah baik. Bukan mengganti semua program setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan. Itu yang menjadi biang keladi pendidikan kita lambat maju, karena kita kembali ke titik nol setiap 5 tahun sekali.

Masih banyak yang perlu dibenahi dan semua tergantung pada kerja sama pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia usaha. Artinya, semua komponen bertanggung jawab untuk terlibat dalam meningkatkan kualitas pendidikan (pribadi) generasi muda Indonesia. Diharapkan dengan terbukanya kesempatan generasi muda Indonesia untuk menggali potensi diri, di masa depan negeri kita akan dipenuhi oleh masyarakat terdidik dengan kualitas yang hebat, yang akan memberikan multiplier efek dalam akselerasi kemajuan bangsa, pungkas Aida kepada BB.  (E-018)***