Rekayasa Genetik Pohon Jati Mempercepat Proses Produksi

795

BISNIS BANDUNG – Perhutani Jawa Barat melakukan rekayasa genetik pohon jati untuk mempercepat produksi . Sebelumnya pohon jati baru bisa ditebang setelah berumur 50 tahun. Rekayasa genetik dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar kayu jati yang terus meningkat.

Dengan pola rekayasa genetik perputaran bahan baku kayu jati untuk berbagai kebutuhan bisa lebih cepat. Di Pulau Jawa  industri yang menggunakan bahan baku kayu terus jati meningkat.  Melalui rekayasa genetik , pohon jati bisa dipanen lebih cepat, yakni pada umur 20 tahun dari sebelumnya 50 tahun . Selain pohon jati,  juga dikembangkan pohon pinus getah yang siap panen pada usia tanaman antara 8 – 10 tahun. Termasuk pohon sengon, jabon dan akasiah. Hal ini dilakukan agar daur ulang produksi hutan lebih cepat. Diperoleh keterangan , penanaman pohon produksi, dilakukan Perhutani bekerjasaman dengan masyarakat, sebagaimana penamanan padi dan jagung di kawasan hutan produksi melalui program GP3K. Untuk tanaman kayu, masyarakat yang dilibatkan mendapat bagian sebesar 25% dari total hasil penjualan kayu, sebaliknya nilai hasil penjualan yang seharusnya diterima petani sebesar 25% akan dikurangi jika gagal atau pohon produktif yang ditanam raib ada yang mencuri.

Indutri Furniture

Keterangan lebih lanjut yang diperolah BB menyebutkan , industri furnitur dengan orientasi ekspor sejak lama menjadi bisnis andalan, terlebih setelah lonjakan harga US dollar naik. Belakangan industri yang menggunakan bahan baku  kayu jati (Tectona grandis) dan mahoni  menghadapi berbagai kendala yang bermuara pada keterbatasan sumber bahan baku. Meningkatnya kebutuhan kayu jati untuk industri furnitur  mendorong Perum Perhutani melakukan rekayasa genetik, agar proses produksi pohon jati tidak terlalu lama,  Terbatasnya sumber daya alam disebabkan oleh siklus produksi pohon tanaman keras yang sangat panjang, seperti pohon jati yang membutuhkan waktu antara  40 – 50 tahun baru bisa dipanen . Rekayasa genetik pohon jati merupakan salah satu  terobosan baru dalam mengantisipasi kelangkaan bahan baku industri kayu.  Selain itu, kini dikembangkan pohon jati emas sebagai bibit unggul hasil budidaya sistem kultur jaringan . Jati emas yang berasal dari Myanmar, sejak tahun 1980 dikembangkan secara besar-besar di Myanmar , Malaysia dan Thailand. Mulai tahun 1999, jenis pohon jati emas dikembangkan di Indramayu..

Tanaman jati emas bisa dipanen pada umur 5 – 15 tahun karena pertumbuhannya yang cepat, juga tumbuh dengan seragam dan lebih tahan terhadap serangan hama penyakit. Apabila tanaman jati konvensional berumur 5 tahun baru berdiameter 3,5 cm dan tinggi 4,0 m , jati emas pada umur antara 5 – 7 tahun  bisa berdiameter 27,0 cm dengan tinggi pohon sekira 16 meter. Kualitas kayu jati emas cukup baik dengan volume penyusutan sekitar 0,5 %.

Penanaman jati emas cocok untuk daerah tropis terutama pada tanah yang banyak mengandung kapur. Tanah yang ideal adalah tanah jenis aluvial dengan kisaran pH 4,5 sampai 7. Dapat tumbuh dengan baik jika ditanam di daerah dataran rendah (50 – 80 m dpl) sampai dataran tinggi dengan ketinggian 800 m dpl. Namun jati emas  tidak tahan jika tergenang air, sehingga area pertanaman jati emas mutlak membutuhkan sistem drainase yang baik dengan kisaran curah hujan antara 1.500 – 2.000 mm/tahun. Pola tanam  jati emas  dilakukan secara monokultur dengan jarak tanam 2 x 2,5 m. Dalam satu hektar lahan bisa ditanam sebanyak 2.000 pohon. Apabila diterapkan pola tanam tumpang sari, dengan jarak tanam 3 x 6 m maka dalam satu hektar bisa ditanam 555 pohon. Lubang tanam dibuat berukuran panjang, lebar dan dalam sebesar 60 cm. Tingginya animo penanaman jati emas didorong oleh faktor-faktor seperti analisa keuntungan yang menggiurkan, cepatnya pengembalian modal, nilai investasi yang relatip rendah dan tingkat produktivitas tanaman yang sangat tinggi. Selain karena kebutuhan pasar internasional akan produk kayu jati yang baru terpenuhi 20 % dari Indonesia merupakan jaminan pemasaran yang sangat berprospek. (B–003) ***