Ridlwan : Taktikal Tempurnya Tidak Hebat-hebat  Amat Teror KKB  Dikomandoi Anak Muda  Dilatarbelakangi Faktor Ekonomi

8

BISNIS BANDUNG – Pengamat Intelijen dari Intelligence Institute Ridlwan Habib menilai, ada sejumlah faktor melatarbelakangi operasi penangkapan KKB yang dilakukan Polri belum efektif. Faktor pertama terkait taktikal tempur, menurut Ridlwan, KKB sebetulnya tak mempunyai keterampilan bertempur khusus. Hanya saja kelompok ini didukung faktor geografis yang memang menjadi santapannya sejak lahir.

“Mereka taktikal tempurnya tidak hebat-hebat amat. Tetapi mereka terbantu dengan satu pemahaman geografis, kedua adalah adaptasi fisik. Bayangkan mereka sejak lahir di situ , adaptasi suhu, adaptasi fisik, adaptasi nyamuk adaptasi ular mereka  paham dilawan misalnya dari anggota luar Papua yang hidup di kota kan berat gitu,” tutur Ridlwan .Faktor lainnya terkait perlindungan yang diberikan oleh oknum-oknum seperti tokoh adat, tokoh masyarakat maupun tokoh agama terhadap KKB. Tokoh yang dimaksud Ridlwan seperti terjadi dalam kasus penangkapan tokoh agama bernama Paniel Kogoya. Dia ditangkap Satgas Nemangkawi karena menyuplai senjata untuk KKB.

Ridlwan mengatakan, faktor terakhir belum efektifnya teror KKB diredam karena koordinasi antara aparat di lapangan yang masih kurang. Menurut dia, aparat yang beroperasi untuk menumpas KKB berasal dari pelbagai level. Mulai dari anggota Polri dan TNI yang berasal dari Jakarta maupun BIN serta  dari Kodam setempat.

Banyaknya satgas yang beroperasi membuat koordinasi di lapangan menjadi sulit. Sehingga, perlunya dibentuk satu payung operasi di bawah komando Satgas Nemangkawi.  “Kalau memang Nemangkawi namanya ya sudah Satgas Nemangkawi saja. Jadi semua unsur dari Kopassus, Kostrad, dan BIN dari apapun dalam satu payung. Artinya pergerakan pasukan pencarian itu satu kendali jangan sampai ada sesama tim tapi bergerak masing-masing,” ujar Ridlwan kepada merdeka.com, Rabu (28/4/21) yang dikutip Bisnis Bandung.com

Baca Juga :   Lagi Oknum Jenderal Polisi Diduga Bantu  Buronan Menghapus Interpol Red Notice Atas Nama DT

Dikemukakan Ridlwan ,  operasi selain dilakukan aparat, keikutsertaan pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Kabupaten Puncak, Willem Wandik menjadi kunci utama agar aksi teror KKB dapat dibendung. Selama ini , lanjut Ridlwan ,dirinya tak melihat ada peran pro aktif dari pemerintah setempat terhadap warganya. Pendekatan yang dilakukan kepala daerah setempat dinilainya cukup efektif untuk meredam aksi teror tersebut. Sebab menurut Ridlwan, teror KKB  rata-rata dikomandoi oleh anak-anak muda  dilatarbelakangi faktor ekonomi.

“Ini adalah ketidakmerataan dana Otsus, kalau saya melihatnya ya. Jadi kesejahteraan yang tidak merata membuat warga-warga di distrik-distrik yang terpencil ini merasa mereka tahu ada uang banyak dari Jakarta, tapi mereka tidak merasakan apa-apa nah kemudian mereka dikomporilah oleh oknum-oknum dengan narasi separatis tapi kemudian condongnya ke arah kriminal, perampokan, pembunuhan kayak gitu secara acak,”ungkap Ridlwan.

Oleh sebab itu, Ridlwan tak sepakat jika KKB ini disebut sebagai organisasi teroris. Dia mempertanyakan, jika KKB merupakan organisasi teroris , tapi tidak menyerang  pusat-pusat strategis di kota, seperti di Jayapura. Padahal menurutnya, dengan meneror kantor-kantor di pusat kota lebih memiliki dampak lebih besar di dunia internasional.

Kurang kepecayaan

Ridlwan menyebut, KKB lebih tepat disebut gerombolan kriminal yang mencari uang dengan cara-cara kekerasan seperti merampok dan menyandera. Kelompok ini berharap, ancaman teror dapat memperoleh uang lebih cepat dan mudah. Cara menembar teror seperti itu mirip dengan faksi Abu Sayyaf di Filipina Selatan.

Sementara itu, Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos meminta, pemerintah untuk mencontek cara menangani konflik di Papua dari pendekatan penyelesaian konflik terhadap Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menurut Bonar, penyelesaian konflik di Papua harus mengedepankan pendekatan lembut bukan pendekatan yang bersifat militeristik.

Baca Juga :   China Peringatkan Perusahaan Teknologi AS Pasca Blokir Huawei

Dikatakan Bonar, pemberian label teroris KKB di Papua tidak akan memutus mata rantai teror di bumi cendrawasih. Sebab menurutnya, tak berhasilnya aparat meredam teror di Papua lebih dikarenakan kurangnya dukungan dan kepercayaan rakyat setempat. Oleh sebab itu, dia mendorong pendekatan humanis dengan merebut hati rakyat setempat, dinilai Bonar lebih efektif.

“Pendekatannya soft approach yang pertama dekati dulu rakyat di sana, bangun kepercayaan dengan rakyat supaya rakyat tidak menjadi bemper bagi mereka. Bangun kepercayaan supaya rakyat berpihak kepada kita. Pendekatan kepada rakyat tentu selain psikologi tentu kesejahteraannya,” ujar Bonar. (B-003) ***