Samad : Tidak Puas Sidang Etik Dewas Terkait Gaya Hidup Mewah Ketua KPK Tertutup

44

BISNIS BANDUNG – Mantan Ketua KPK, Abraham Samad tidak puas dengan sidang etik yang digelar Dewan Pengawas KPK  terhadap Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Firli Bahuri , terkait gaya hidup mewah yang diperlihatkan jenderal polisi bintang tiga tersebut dilakukan secara tertutup.

Sidang etik yang digelar Dewan Pengawas KPK, Selasa (25/8/20) berlangsung tertutup. Sebab itu, mantan Ketua KPK, Abraham Samad merasa tidak puas dengan sidang etik tersebut.

Menurut Samad, biasanya sidang etik digelar terbuka, apalagi yang berkaitan dengan pimpinan  Samad mencurigai sikap Dewan Pengawas lembaga antirasuah itu yang menggelar sidang etik secara tertutup terhadap Ketua KPK Firli Bahuri.

“Semula saya akan memberikan pandangan terkait sidang etik terhadap Ketua KPK oleh Dewas KPK saat ini. Sayangnya sidang itu digelar tertutup, seharusnya terbuka,” kata Samad dalam keterangannya yang  dilansir JPNN, Selasa (25/8).

Dikemukakan Samad , mengapa sidang etik harus terbuka. Pertama, lanjut Samad, sudah rahasia umum sidang etik diketahui secara terbuka.

Samad mencontohkan sidang etik terhadap dirinya dalam kasus bocornya sprindik Anas Urbaningrum beberapa tahun lalu. “Saat itu saya dan Pak Adnan Pandu disidang terbuka oleh majelis etik yang ditonton media,” ungkap Samad.

Kedua,  beberapa kasus pelanggaran etik penyelenggara negara disidangkan terbuka, seperti sidang DKPP, atau sidang pada kasus Papa Minta Saham oleh Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR pada 2015 lalu.

“Ketiga, sidang etik tertutup Dewas KPK terhadap pimpinan KPK saat ini sangat berpengaruh terhadap akuntabilitas pemeriksaan Dewas terhadap pimpinan KPK, publik akan jadi curiga,”ujar Samad.

Samad menilai beberapa anggota Dewas merupakan mantan hakim yang terbiasa dengan sidang terbuka. Karena itu, Samad mencurigari sidang etik kali ini . “Oleh karena itu, saya mendesak seyogianya sidang dibuat terbuka, agar publik bisa melihat dan memberikan pendapat. Jangan ditutup yang hanya akan memunculkan prasangka negatif terhadap hasil pemeriksaan nanti,” tutur Samad.

Sidang etik terhadap Ketua KPK sebagai tindak lanjut laporan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) ke Dewas KPK soal dugaan pelanggaran kode etik.  Firli melakukan perjalanan kunjungan dari Palembang ke Baturaja, Sumsel, 20 Juni lalu menggunakan helikopter mewah milik perusahaan swasta dengan kode PK-JTO. Karena itu, Firli  diduga melanggar kode etik KPK terkait larangan bergaya hidup mewah. Pada sidang etik tersebut Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) Boyamin Saiman menyampaikan kesaksiannya . Sidang dipimpin Ketua Dewan Pengawas (Dewas) KPK Tumpak Hatorangan Panggabean dan dua anggota Dewas KPK, Albertina Ho dan Syamsuddin Haris.

Di hadapan mereka Boyamin  menyampaikan , jika Firli terbukti melanggar etik, dia harus rela menanggalkan jabatannya sebagai Ketua KPK.

“Saya sampaikan juga, jika terbukti melanggar, saya memohon Pak Firli cukup jadi wakil ketua,” ujar Boyamin, Selasa (25/8/2020). Sidang etik atas Ketua KPK akan berlanjut Senin (31/8/20). (B-003) ***