Persoalan DAS Citarum Bisa Tertanggulangi

51

BISNIS BANDUNG – Seiring dengan berjalannya waktu   permasalahan daerah aliran sungai (DAS) Citarum  sudah bisa tertanggulangi, meski dilalui dari hulu  hingga hingga  hilir sangat banyak dan komplek.

“Satu persatu persoalan yang membelit Citarum itu kini telah terselesaikan. Bila sebelumnya sungai tersebut bisa dipergunakan untuk berjalan, karena banyaknya sampah, sekarang mungkin tidak akan bisa lagi, “ tutur Mayjen TNI (Purn) Dedi  Kusnadi Thamrin selaku Ketua Harian Satuan Tugas (satgas) Pengawas Penegak Keadilan (PPK) dalam acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Kamis (16/1/20).

Dedi mengakui, bila  dilihat dari fungsi dan tanggungjawabnya Ketua Harian Satgas PPK DAS Citarum mengendalikan 23 komandan sektor dan 7 kelompok kerja. Dan tugas sehari-harinya selalu membahas tentang Citarum, khususnya apa yang dilakukan di lapangan.

“Persoalan selama ini tidak terlepas dari lahan kritis, tanaman dan lahan itu sendiri  serta  sampah,” tutur  Kettua Harian Satuan Tugas (Satgas) Pengawas Penegak Keadilan (PPK) DAS Citarum, Mayjen TNI  (Purn) Dedi Kusnadi Thyamrin dalam acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Kamis (16/1/20).

Begitu rumit persoalan yang ditangani para dan sektor di lapangan, tidak semudah apa yang dibayangkan.  “ Saya kedatangan tamu dari Singapura ingin membantu persoalan yang ada di Citarum, dia berbicara begitu mudah.Tentang penangan sungai,” katanya.

“Saya balik tanya. Penduduk Singapura berapa, dia jawab 6 juta. Saya jelaskan, saya di sini yang ada di DAS Citarum saja, jumlah penduduknya lebih dari 20 juta, dengan segala persoalan yang ada dilapangan. Baru bengong dengan jumlah penghuni yang lebih dari 20 juta jiwan,” ucapnya.

Korea Selatan saja, jelas Mayjen (Purn) Dedi butuh waktu selama 40 tahun untuk membuat sungainya berada dalam kondisi seperti yang ada sekarang ini. Pertanyaannya bagaimana dengan Citarum.

Citarum, katanya, memang ada Citarum Bestari, Citarum Bergetar, dan sekarang Citarum Harum setahap demi setahap, sudah mulai dilakukan pembenahan dari apa yang menjadi persoalan Citarum di Provinsi Jawa Barat.

Banjir yang menjadi persoalan, sejak adanya terowongan Curug Jompong di Nanjung, Kabupaten Bandung. Kini sudah tidak ada, banjir yang berkepanjangan. Selain itu kegiatan lainnya yang dilakukan Satgas Citarum dalam mempercepat aliran sungai, baik itu penggalian sedimen, pelebaran sungai, dan lain-lainnya. “Itupun mempercepatan aliran sungai, sehingga tidak terjadi banjir,” katanya.

Sementara itu, Kadis PSDA Jabar Linda Al Amin mengatakan pengendalian banjir di Citarum itu merupakan kewenangan pusat. Di Jabar ada 6 wilayah sungai, 4 kewenangannya ada di pusat, yaitu Wilayah  Sungai Ciliwung-Cisadane, Wilayah Sungai Citarum, Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung, dan Wilayah Sungai Citandui.

Artinya ini, banyak sekali program-program dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang dilakukan untuk menetralisir sungai,  sementara Dinas Pengendalian Daerah Aliran Sungai sifatnya hanya, melakukan suport dukungan pengedalian banjir.

“Untuk Citarum ini alhamdulilah  memasuki Januari ini sudah jauh berkurang dengan digunakan terowongan curug jompong mengurangi banjir yang selama ini terjadi,” ujarnya.

Adapun tugas PDAS Prov Jabar di tahun 2020 ini, adalah menuntaskan program-program tersisa. “Secara keseluruhan program program Citarum Hulu, sudah selesai. Kita ini tinggal penanganan masalah-masalah non teknis,” ujarnya. (B-002)***