Sayur pun Semakin Tawar

355

Indonesia kekurangan garam? Ironis memang. Di mata dunia, hal itu amat sangat mengherankan. Indonesia merupakan negara yang memiliki bentangan pantai terluas di dunia. Lahan dan bahan baku garam  amat sangat luas dan berlimpah. Seyogianya Indonesia merupakan negara penghasil bahkan pengekspor garam utama dunia. Nyatanya, saat ini, stok garam nasional menyusut, pasokan ke level konsumen semakin kurang, harga di pasar terus naik.

Apa yang dapat kita lakukan menanggulangi kelangkaan garam, apa upaya kita agar sayur tidak semakin tawar?  Pemerintah secara terbuka seyogianya menyatakan, Indonesia mengalami krisis garam.Dengan transparansi seperti itu, masyarakat, termasuk para produsen garam maklum,  dalam keadaan darurat ini, pemerintah harus mengimpor garam. Indonesia harus memiliki stok garam untuk dua tahun ke depan, baik garam konsumsi maupun garam industri. Tanpa transparansi, bisa saja timbul  pendapat, dengan mengimpor garam,  pemerintah akan mematikan industri garam dalam negeri.

Langkah berikutnya, pemerintah harus segera melakukan alih teknologi pembuatan garam. Para petani  secara serempak diajak mengubah cara bertani garam dari cara tradisional atau konvensional ke industri padat teknologi. Tanpa memarjinalisasi petani garam, infrastruktur penggaraman menjadi prioritas. Industri garam dengan teknologi modern harus segera dilakukan. Akan tetapi harus bertujuan meningkatkan taraf hidup petani garam, menjaga stabilitas harga garam di tingkat konsumen, dan menjadikan Indonesia sebagai penghasil garam utama di dunia.

Teknologi yang kita serap dan digunakan di lahan-lahan produksi garam, mengubah kebiasaan petani garam dari ketergantungan pada alam atau cuaca. Produktivitas garam di sentra-sentra pembuat garam akan meningkat. Pembuatan garam dengan teknologi, selain tidak bergantung pada cuaca, produksinya juga jauh lebih besar daripada pembuatan garam konvensional. Produksi garam konvensional rata-rata menghasilkan garam pada satu musim panen berkisar antara 70 – 80 ton. Dengan teknologi modern, garam yang dihasilkan rata-rata mencapai 100 ton perhektar permusim.

Dalam mengimpor garam, pengimpor harus berhati-hati. Selain  menguji kualitas, yang paling penting, memilah, mana garam konsumsi mana garam industri. Bukan mustahil, ada garam industri yang bocor, masuk ke tingkat konsumen dengan kemasan ”garam dapur”. Garam industri tidak layak konsumsi. Hanya garam beryodiumlah yang layak konsumsi. Karena itu pengawasan di tingkat produksi dan didtribusi harus tetap dilakukan.

Sebaikinya kita, termasuk pemerintah, jangan menyepelekan kekurangan garam di pasar. Kelihatannya sweperti tidak menimbulkan masalah besar, pada kenyatannya, kekuarang pasokan garam berakibat buruk pada konsusmi masyarakat dan produktivitas industri. Selain itu kekurangan garam berakibat merosotnya kinerja usaha kecil dan menengah antara lain  industri kecil pengemasan garam dapur. ***