Sebaran Corona Berdampak Signifikan Ancaman Kesehatan Masyarakat Global

48

BISNIS BANDUNG — Lektor Departemen Hubungan Internasional FISIP Unpad, Dr. Satriya Wibawa, M.Si menyebut,  penyebaran wabah virus corona telah menimbulkan dampak yang signifikan bagi dunia internasional, bukan hanya di China sebagai sumber asal penyebaran wabah. Di Indonesia  dilaporkan 2 kasus baru dari sebelumnya 2 kasus, sehingga total kasus 4 kasus. Di seluruh dunia, dilaporkan ada 100.333 kasus,  3.408 diantaranya meninggal dunia dan 55.988  berhasil dipulihkan.

Pada tingkat global, dampak virus corona dari perspektif human security berlanjut pada aspek “health security” , bahwa penyebaran virus ini merupakan ancaman bagi keberlangsungan kehidupan manusia di seluruh dunia. Ancaman kesehatan menjadi ancaman yang paling jelas terlihat. Orang-orang di seluruh dunia saat ini tidak   bebas berkeliaran , mengingat wabah ini dapat menular  sangat cepat melalui sentuhan langsung dan “droplets” dari penderita, bahkan dari pihak-pihak yang tidak memiliki gejala sakit sama sekali. ”Ini menyebabkan kecemasan dan ketakutan di masyarakat global,” ujar Satrya.

Sedangkan dari aspek  lain, dampak secara global dirasakan dari aspek ekonomi, pariwisata, perdagangan, keuangan/finansial, pendidikan, keagamaan dan industri. Dampak ini tidak hanya dirasakan di Asia saja melainkan juga hingga ke Timur Tengah, Eropa, Amerika, Oseania dan hingga Afrika Utara.

Pada tataran lokal, dampak  virus ini di  Indonesia di antaranya terjadi “panic buying”, menurunnya pariwisata, penurunan perdagangan, lesunya sektor investasi dan keuangan serta terhambatnya urusan keagamaan seperti umroh yang ditunda. Selain itu, berbagai penutupan penerbangan ke destinasi-destinasi negara endemik juga mengakibatkan banyaknya urusan bisnis, pendidikan dan hubungan antarnegara yang menjadi terkendala.

Menurut. Satriya, dari keseluruhan sektor  hampir seluruhnya terdampak. Sektor  paling terpuruk tentunya adalah sektor pariwisata akibat rute penerbangan internasional yang semula menjadi daya tarik wisata ditutup untuk sementara waktu.

Mengenai terjadinya peristiwa “panic buying” wajar terjadi, timbul dari permasalahan “informasi”. Mendorong masyarakat  mencari informasi lain di luar penjelasan resmi dri pemerintah.  Media mainstream  memiliki keterbatasan informasi yang malah menyebarkan sentimen ketakutan di masyarakat.

Mengenai aksi borong berbagai komoditas kebutuhan, kebanyakan dilakukan untuk menimbun persediaan makanan dan kebutuhan apabila  wabah ini menjadi pandemik di Indonesia. ”Kebanyakan yang melakukan ini adalah orang-orang berstatus ekonomi menengah ke atas,” ucap Satrya , Senin (9/3/20).

Dikemukakan Satrya , “Panic buying” akan menimbulkan potensi buruk , seperti terjadi inflasi, kelangkaan, bahkan kerusuhan .

Dijelaskan Akademisi Fisip Unpad ini , terkait pencegahan virus corona, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah melakukan tindakan  untuk mengatasi penyebaran wabah ini. Kementerian Kesehatan  telah menyiapkan 100 rumah sakit rujukan di 32 provinsi yang dinilai mampu menangani pasien  virus .

Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan rumah sakit khusus penanganan virus corona (Covid-19) di Pulau Galang di Batam, Kepulauan Riau. Di Pulau Galang ada fasilitas kesehatan yang sudah lama tidak digunakan yang akan direnovasi.

Untuk pencegahan, pemerintah telah menghimbau masyarakat menghindarkan diri dari virus corona dengan carai mencuci tangan dengan antiseptik dan hand sanitizer, menghindarkan bersentuhan langsung serta mengurangi kontak yang tidak perlu dengan orang yang sakit flu atau menghindari berkumpul di tempat umum. Sedangkan memakai masker hanya disarankan untuk orang yang sakit, para tenaga medis dan pendamping orang yang sedang sakit.  Menurut analisisnya, untuk impor produk pangan dari negara pandemik  harus diwaspadai dalam artian boleh dihentikan untuk sementara waktu mengingat bahwa impor pangan adalah bentuk antisipasi cadangan dan atau subtitusi dari produk yang ada di dalam negeri. Penghentian sementara kunjungan wisatawan dari negara endemis corona untuk mencegah timbulnya kondisi dan situasi yang lebih buruk. Karena  keamanan masyarakat  lebih diprioritaskan ketimbang keuntungan ekonomi . Ditambahkan Satrya , bila TKA asal negara endemis corona  terbukti  mengidap wabah corona , maka mereka tidak boleh masuk dan bekerja di Indonesia. Sebagai gantinya, pemerintah dapat membuka lowongan pekerjaan untuk tenaga cakap dan terampil  dari dalam negeri. “Posisi tawar Indonesia  kepada negara endemis corona lebih kuat untuk melakukan bargaining,” pungkas Satrya.  (E-018)***