Sebatas Untuk Meyakinkan Investor Pernyataan Airlangga Tidak Akurat

16

BISNIS BANDUNG – Menteri Koordinator Perekonomian sekaligus Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Airlangga Hartarto mengklaim, Indonesia tercatat sebagai negara yang mampu menangani pandemi Covid-19 secara berimbang dengan kontraksi ekonomi yang menjadi dampaknya. Bahkan, Indonesia termasuk lima besar negara yang mampu secara seimbang mengatasi dua persoalan itu. “Indonesia ini kontraksi ekonomi relatif lebih rendah dibanding negara lain. Kita termasuk top lima negara yang bisa menangani secara berimbang antara Covid-19 maupun penurunan kontraksi ekonomi,” ujar Airlangga dalam talkshow daring bersama Satgas Penanganan Covid-19 yang ditayangkan di kanal YouTube BNPB, Senin (12/10/2020 .

Ahli epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono menilai apa yang disampaikan pemerintah itu tidak akurat. Meski data angka kematian dan kontraksi ekonomi yang dijadikan parameter oleh pemerintah ada dalam situs Our World in Data. “Statement itu bisa disebut tidak akurat. Saya tidak tahu mengapa angka itu yang dipilih.,” ujar Pandu, Selasa (13/10/20) .

 Pandu menyayangkan pemerintah mengambil kesimpulan dari data tersebut. Ia menduga, pemerintah sengaja memilih data yang bisa menenteramkan masyarakat. “Narasi dari awal kan pandemi di Indonesia itu tak ingin menangani secara riil, tetapi menenteramkan masyarakat. Jadi tak semua info dibuka. Apa karena tidak tahu atau sengaja tidak dibuka,”ungkap Pandu.  “Yakinkah kita masuk lima besar terbaik? Memakai data kontraksi ekonomi dan angka kematian yang rendah, itu kan dua angka yang tak bisa akurat,” ujar Pandu. Pandu menyebut,  angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia berstatus under reported atau tidak semua dilaporkan. Terlebih lagi, kapasitas pemeriksaan Covid-19 yang masih terbatas. “Angka yang di-report ke dunia kan biasanya angka resmi. Nah, angka itu tidak merefleksikan keadaan yang sesungguhnya. Sebab, yang dilaporkan meninggal itu adalah yang terkonfirmasi Covid-19 saja,” jelas Pandu. “Padahal, Indonesia itu testing-nya sangat terbatas. Banyak yang sudah meninggal, tetapi tidak sempat dites atau sudah dites, tapi belum ada hasilnya,” tuturnya menambahkan.

Kepentingan investasi

Sementara, pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menilai pernyataan Airlangga itu untuk meyakinkan para pelaku usaha bahwa iklim investasi di Indonesia masih dalam kondisi baik. Padahal, pernyataan Airlangga itu  justru kontraproduktif dengan realita yang ada. Dari segi ekonomi, kontraksi yang dialami Indonesia memang lebih rendah dibanding beberapa negara tetangga. Namun, kondisi ini dia prediksi hanya berlaku sementara atau jangka pendek . Trubus menilai pernyataan Airlangga justru memperkeruh suasana, apalagi di tengah masifnya kritikan terhadap pengesahan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja. “Menurut saya, asumsi-asumsi ekonomi dalam konteks ini justru memperburuk suasana, kepercayaan publik, kepercayaan dunia internasional, juga kepercayaan investor pelaku usaha,” ujar dia. Dari segi kesehatan, lanjut Trubus, Indonesia juga belum berhasil menurunkan angka penularan Covid-19. Beberapa negara telah sampai pada fase pandemi gelombang kedua. Sementara itu, Indonesia diprediksi masih jauh dari puncak pandemi gelombang pertama. Oleh karena itu, ia mempertanyakan keberhasilan Indonesia yang diklaim oleh Airlangga. “Sekarang kalau dinyatakan kita berhasil berhasil dari mana?” ujarnya. Dikemukakan Trubus , seharusnya dalam situasi pandemi seperti ini segala sesuatu yang disampaikan pemerintah dikaji lebih dahulu. Para pemangku kepentingan harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataannya ke publik. “Harusnya melalui kajian dulu, hati-hatilah dalam situasi sekarang ini,” kata Trubus. Kasus Covid-19 Sementara itu, data pemerintah memperlihatkan bahwa penularan virus corona hingga Selasa (13/10/2020) masih terjadi di masyarakat. Berdasar data pemerintah,  masih terdapat 3.906 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 340.622 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020. Dari jumlah itu, sebanyak 263.296 orang sembuh dan 12.027 pasien meninggal. (B-003) ***