Sebelumnya Ekonomi Indonesia Berhasil Tumbuh 5 % Pandemi Corona Membuyarkan Kerja Keras

44

BISNIS BANDUNG –  Satu per satu negara di dunia masuk jurang resesi. Sedikitnyaa 14 negara tercatat mengalami pertumbuhan ekonomi minus selama dua kuartal berturut-turut. Selain itu, 13 negara diperkirakan menyusul mengalami kondisi yang sama.

Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi minus 5,32% pada kuartal II 2020 juga tidak luput dari ancaman resesi. ”Tekanan resesi masih makin ada. Jadi, tahun ini tumbuh negatif cukup besar,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam virtual conference di Jakarta, belum lama ini.

Sebelum ada pandemi,lanjut Febrio, selama bertahun-tahun ekonomi Indonesia selalu berhasil tumbuh di kisaran 5 %. Angka kemiskinan dan pengangguran pun terbilang turun. Namun, pandemi yang terjadi dalam hitungan bulan seperti membuyarkan kerja keras pemulihan ekonomi yang telah dilakukan bertahun-tahun.

”Tahun ini tiba-tiba kita mengarah ke 0%, bahkan bisa di bawah 0 %. Ini berarti orang miskin dan pengangguran baru harus bisa tekan. Kalau bicara angka (pertumbuhan) saja, ini akan menghilangkan cerita besar dari kontraksi ekonomi,”ujar Febrio.

Menurut Febrio , menghadapi kondisi serupa ini, pemerintah harus fokus untuk mengutamakan kebijakan-kebijakan yang diarahkan pada masyarakat yang paling rentan secara ekonomi. Pemerintah memberikan  beberapa bantuan sosial yang harus menjadi fokus . ”Dengan hal tersebut diharapkan tidak tumbuh negatif terlalu dalam dan yang paling utama memberikan bantalan kepada masyarakat rentan,’’ kata Febrio menjelaskan.

Pemerintah juga harus terus mempercepat serapan belanja anggaran maupun program perlindungan sosial yang  belum optimal. Langkah tersebut diambil karena percepatan belanja pemerintah bisa menggantikan peran konsumsi rumah tangga dan investasi yang terkontraksi sangat dalam pada kuartal II 2020. ”Semua K/L (kementerian/lembaga) harus kerja keras. Spending ini harus diarahkan ke multiplier yang besar sehingga mendukung pelemahan ekonomi yang tidak terlalu dalam,” tutur Febrio.

Anggaran stimulus yang sebelumnya belum optimal harus dapat dimanfaatkan untuk menyasar program perlindungan sosial yang baru. Sebut saja bantuan gaji Rp 600.000 untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta per bulan hingga bantuan produktif lainnya.

Pada kesempatan yang sama, ekonom  Josua Pardede menyebut, secara umum, pemerintah telah agresif melakukan berbagai kebijakan untuk menahan ekonomi tidak tergelincir lebih dalam. Baik jangka pendek untuk menangani Covid-19 maupun upaya jangka panjang. ”Jangan sampai reformasi struktural terhenti karena Covid-19. Kebijakan yang mengarah ke fundamental ekonomi, bonus demografi dan investasi, khususnya untuk ICT, juga perlu difokuskan oleh pemerintah,” tutur Josua.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan bahwa pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2020 akan berada pada kisaran -1,1%  sampai 0,2 %. Proyeksi itu didasarkan pada aktivitas konsumsi rumah tangga yang tertekan dan diproyeksi tumbuh -1,3 hingga 0 %. Sementara itu, untuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang merupakan investasi juga masih tertekan pada -4,2 hingga -2,6 %. (B-003) ***