Sunda Empire Fenomena Sosial yang Memprihatinkan

36

BERMUNCULANNYA kerajaan baru di Jawa Barat membuat Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, prihatin. Hal tersebut, menurut Emil, merupakan fenomena sosial “Banyak orang yang menjual romantisme sejarah untuk eksistensi dirinya,”kata RK di Gedung Sate. Anehnya, masih menurut Gubernur Jabar, banyak  orang yang percaya dan menjadi pengikutnya.

Munculnya Sunda Empire menurut kacamata Ridwan Kamil, harus menjadi bahan introsfeksi diri. “Kita harus betrsemangat menyalurkan eksistensi  hidup pada hal-hal yang konkret, bukan sekadar simbol –simbol yang sebenarnya sudah tidak ada.  Ridwan Kamil berjanji akan meneliti keberadaan Sunda Empire dan kerajaan-kerajaan baru yang bermunculan di Jawa Barat.

Di Jabar, selain Sunda Empire yang berpusat di Bandung,juga muncul Kesultanan Selacau atau Selco Kingdom di Tasikmalaya, Kerajaan Giklingwesi di Garut, bahkan Sultan Totok, Sinuhun Kerajaan Agung Sejagat, pernah menjadi bagoan dari Sunda Empire,  King of The King di Bandung, dan sebagainya, mengapa justru bemunculan di Jawa Barat? Menurut Rangga Sasana, petinggi Sunda Empire, Bandung merupakan ibu kota milik dunia, bukan hanya milik orang Sunda. Karena itu, ia yang bukan Sunda pituin menjadi petinmggio Sunda Empire. Ia merasa menjadi pewaris yang melanjutkan kejayaan Pajajaran. Para raja baru itu percaya, kejayaan Sunda masa lalu sekarang akan segera kembali.

Bila Ridwan Kamil menilai kemunculan Sunda Empire dan sebagaonya merupakan fenomena sosial, seorang sosiolog yang tidak bersedia diketahui identitasnya, mengiayakannya. Fenomena raja-raja dan berbagai kasus yang bersandar pada hal yang berbau mistis, biasanya mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Banyak kasus penggandaan uang, penggalian harta karun, uang Brazil, deposito di bank di Swiss, sampai investasi bodong, tabungan umroh, dan sebagainya sering terjadi dan selalu memakan korban banyak orang  dengan dana miliaran rupiah. Masyarakat kita mudah tergiur padahal kalau kita menerimanya dengan akal sehat, banyak hal  statemen penylenggara yang tidak masuk akal.

Sunda Empire dan Isola

Konon, Sunda Empire atau Earth Empire atau Kekaisaran Sunda, didirikan oleh sekelompok orang, di Villa Isola, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Gedung dengan arsitektur unik, megah, dan ikoner itu berada di lingkungan kampus UPI yang dulu bernama Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP). Setelah kampus UPI berkembang menjadi sebuah kawasan pendidikan yang sangat luas,Iso;a  tidak lagi menjadi salah satu  bangunan yang berkaitan dengan civitas akademica UPI. Isola seolah menjadi landmark atau bahkan tugu UPI.

Sebenarnyua Isola tidak berkaitan dengan pendidikan. Dilihat dari kepentingan kepariwisataan, Isola seyogianya menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Bandung. Para wisatawan pencinta sejarah dan arsitektur, pasti akan tertarik mengunjungi Isola. Namun karena tidak menjadi ikon yang secara massif dipromosikan sebagai destinasi wisata, tidak  banyak wisatawan yang datang.

Villa yang didirikan sebagai rumah timggal seorang raja loran bekebangsaan Belanda itu, punya nilai heritage yang sejajar dengan Gedfung Sate, Gedung Merdeka, dan Hotel Homann. Namun karena letaknya semakin tersembunyi di balik pagar UPI, Isola selalu terlewatkan, tidak menjadi destinasi wiosata yang laku. Pintu masuk ke Isola harus melalui pintu gerbang utama UPI di selatan gedung yang dijaga satpam.Orang tidak secara mudah dan nyaman masuk Isola.

Terlepas dari itu, Isola sering diguinakan sebagai tempat petemuan kelompok-kelompok masyarakat, baik kalangan kampus maupun organisasi. Agak mengejutkan, ketioka tiba-tiba diviralkan, Isola menjadi tempat berdirinya Sunad Empire. Menurut Sekretaris Kaisar Sunda Empifre (Sunem), Isola merupakan tempat didirikannya Perserikatan Bangsa-Bangsa selepas Perang Dunia kedua bahkan  Nato pun lahir di gedung itu. Karenma itu Sunem juiga didirikan di Isola itu.

Kalau saja keterangan itu benar, kewajiban pemerintah, baik pusat, provinsi maupun kota, menelusurinya. Peresmian organisasi dunia sebesar PBB dan Nato, pasti diabadikan dalam rekaman, mikro film, foto berpigura, atau dokumentasi tertulis. Tetapi semuanya tidak ada di Isola. Tidak mungkin dan untuk kepentingan apa, semua dokumen penting itu mesti disembunyikan? Kita patut bertanya pula, mengapa ada orang atau kelompok orang yang mengklaim tahu persis peristiwa-peristiwa penting yang terjasdui di Isola tanpa berdasarkan fakta sejarah.

Pihak UPI sudah menyampaikan rilis, bahkan meminta maaf, Isola dikaitkan dengan kelahiran Sunda Empire. Masalahnya, para petinggi Sunda Empire mminjam halaman Isola bukan atas nama Sunda Empire melainkan pertemuan untuk membahas pembangunan Kota Bandung. ”Tidak ada keterkaitan pihak UPI, baik dosen maupun mahasiswa dengan Sunda Empire,”kata Kasi Eksternal Hubungan Kelembagaan UPI, Yana Setiaswan kepada reporter Bandung TV, Yuwana Kurniawan, di Bandung. ***