Tahun 2021 Jabar Akan Alami Krisis Pangan Dampak Kebijakan Terkait Pandemi Covid 19

138

BISNIS BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebut  di tahun depan Provinsi Jabar berpotensi alami krisis pangan karena adanya penutupan dari negara pengekspor beras seperti Vietnam dan Thailand. Pandemi Covid-19 membuat beberapa kebijakan negara harus terhambat, termasuk kegiatan ekspor-impor. Hal tersebut menurut Ridwan Kamil , sangat berpengaruh bagi kelangsungan kebutuhan komoditas termasuk pangan. Kebijakan tersebut dikhawatirkan mencuatkan  krisis pangan.

Berbicara dalam  acara pertemuan tahunan Bank Indonesia 2020 Provinsi Jabar, Ridwan Kamil  menegaskan , jika di tahun depan Provinsi Jabar berpotensi alami krisis pangan karena adanya penutupan dari negara pengekspor beras seperti Vietnam dan Thailand.

“Jadi intinya ada potensi krisis pangan di tahun depan , maka semua pihak harus bersemangat menjadikan pangan sebagai ekonomi baru,” kata Gubernur  di  Bandung, Kamis (3/12), Gubernur  menyebut , pihak Pemprov Jabar akan menghindari kemungkinan buruk tersebut dengan menggelar West Java Invesment Summit (WJIS), di bidang pertanian pada 10 Desember 2020.
Pihaknya mengajak masyarakat yang ada di perkotaan untuk kembali ke desa guna melakukan kegiatan pertanian. Pihaknya menyediakan tanah untuk ditanami.

“Dan yang penting mereka mau berwirausaha di tanah yang kita sediakan. Kalau (swasembada pangan) itu lancar, Insyaallah ekonomi kita akan terkendali,” ujarnya. Sementara , Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jabar, Herawanto mengatakan,  bahwa  kondisi saat ini  perekonomian di Provinsi Jawa Barat masih cenderung stabil .Keadaan ini sesuai dengan rencana pertumbuhan ekonomi menuju pertumbuhan normal. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan meningkat hingga 4,5%.

“Kami perkirakan tahun 2021 pertumbuhan ekonomi bisa meningkat sekitar 4,5 sampai 5,5 % dan ditekankan bisa lebih baik dari itu. Dengan catatan tentunya ada beberapa hal , yaitu konsistensi kebijakan, konsistensi dukungan pemda di semua level provinsi dan kabupaten/kota untuk terus menggerakkan perekonomian dengan terukur,” kata Herawanto seraya  menambahkan potensi krisis pangan di Jabar bisa terhindarkan jika beberapa indikator terpenuhi seperti bergeraknya pasar ekspor, perdagangan antar provinsi  berjalan termasuk daerah dynamic balancing dari arus manusia, barang dan jasa kembali berjalan.

Baca Juga :   Transaksi Di Pasar Modern Tahun Ini Anjlok Hingga 70 %

Jika mengacu di Jawa Barat, indikator tersebut  sudah mulai berjalan. Penggerakkan indikator-indikator tersebut  bisa memulihkan ekonomi Jabar hingga 4,5 sampai 5,5%

“Jadi semua indikator-indikator itu terlihat, menjadikan bahwa angka (pertumbuhan ekonomi) 4,5 sampai 5,5% menjadi sangat valid,” ujar  Herawanto menambahkan. (B-003) ***