Tahun Baru Di Ethiopia Jatuh Pada Bulan September Perhitungannya Berbeda Delapan Tahun

24

Awal tahun atau tahun baru pada kalender di Negara Ethiopia (Afrika Timur) jatuh pada tanggal 11 September . Sedangkan untuk tahun penghitungannya berbeda delapan tahun, misalnya saat ini tahun 2020 ,  dalam  perhitungan mereka baru tahun 2012 .

Sama halnya dalam penghitungan waktu (jam) , walau jarum jam sudah menunjukan pukul 12.00 , mereka tetap pada pendiriannya bahwa waktu masih  pukul 04.00 , walau sudah siang hari. Hal lain yang menarik dan unik di Ethiopia dilakukan  penduduk Kota Harar  ,  penduduk kota ini akrab dengan Hyna , binatang sebesar anjing kampung yang dikenal buas . Binatang yang  menyerupai srigala ini ,  hidup berkelompok ,  mampu melumpuhkan Singa si raja hutan . Namun kepada warga Kota Harar  sikap buasnya menjadi lunak. Kenapa ?  Karena kebaikan penduduk Kota Harar yang secara turun temurun biasa memberi makan berupa daging , hingga binatang buas ini mengetahui sang majikan pemberi makan . Di luar majikannya , jika didekati , Hyna akan menyeringai  dengan gigi tajam  siap menerkam dan mengoyak mangsanya. Kota Harar  juga , dikenal sebagai situs  sejarah keagamaan yang dipercaya sebagai kota suci ketiga di dunia. Situs keagamaan lain bagi yang beragama Kristen Ortodok adalah Lallibela  , sebuah gereja bawah tanah yang dibangun di atas  bukit batu . Orang Ethiopia  penganut agama Islam maupun Kristen Ortodok memiliki kalender dan waktu tersendiri . Mereka merayakan  tahun baru  yang jatuh pada tanggal 11 September setiap tahunnya . Ethiopia  sebuah negara yang terletak di benua Afrika, tepatnya di Afrika Timur. Ethiopia yang merupakan salah satu negara tertua di dunia ini tidak pernah dijajah oleh negara Eropa selama masa perebutan wilayah Afrika yang terjadi di antara tahun 1880 hingga tahun 1914. Namun setelah masa perebutan wilayah Afrika , Etiopia pernah diduduki oleh Italia dalam waktu singkat (tahun 1936 – 1941). Italia berhasil dikalahkan oleh pasukan Etiopia dan Britania Raya (Inggris Raya) pada tahun 1941.  Sebelum saya menginjakan kaki di Ethiopia , saya membayangkan negara dengan ibukota Addis Ababa ini merupakan negara miskin dengan suhu udara panas dan gersang yang sempat muncuatkan tragedi rakyatnya kelaparan , hingga menyita perhatian masyarakat dunia . Kini Ethiopia tengah giat membangun di berbagai sektor . Sejak saya turun di Bandara Addis Ababa , kota yang juga sebagai ibukota Uni Afrika ini  udaranya sejuk , bersuhu udara antara 17 – 20 derajat celsius. Addis Ababa berada pada ketinggian 2300 di atas permukaan laut (dpl) . Selain dataran tinggi, di  Ethiopia terdapat dataran terendah di dunia. Sebagai negara berkembang,  umumnya penduduk Ethiopia   adalah petani kopi dan bunga . Dua produk pertanian tersebut menjadi komoditas ekspor ke Eropa dan Arab , khusus produk bunga mawar kualitas  unggulan negara ini , di ekspor sampai ke Jepang dan negara-negara  Asia.  Secara geografis Ethiopia berbatasan dengan Kenya dan Somalia, mayoritas penduduknya beragama Islam dan Kristen Ortodok yang hidup rukun berdampingan. Yang membedakan antara orang Muslim dan Kristen Ortodok terlihat dari kaum perempuannya.

 Perempuan Kristen sehari-harinya  menggunakan kerudung putih , sedangkan perempuan muslim menggunakan hijab aneka warna , jadi tidak hanya menggunakan satu warna saja. Uniknya  antara yang beragama Islam dan Kristen Ortodok , yakni dalam mengkonsumsi daging . Walau gerai pedagang daging sapi berdampingan , pemeluk agama Islam tidak akan membeli di gerai pedagang daging untuk pemeluk agama Kristen dan sebaliknya pemeluk agama Kristen tidak akan membeli daging sapi di gerai pedagang daging untuk orang Islam .

Makanan pokok orang Ethiopia berupa roti tipis bernama Inzera hasil permentasi dari tepung Tef , sedangkan minuman tradisionalnya  populer disebut Tej yang berbahan baku madu. Menu tradisional lainnya yang dikonsumsi warga berupa sajian daging mentah giling  dengan campuran serbuk cabai (Babare) yang disajikan hanya dalam waktu tertentu .

 Mengenai warga negara Indonesia yang bermukim di Ethiopia , jumlahnya kurang lebih sekitar 150 orang. Umumnya bekerja  sebagai karyawan pabrik tekstil . Di antara warga negara Indonesia di Ethiopia , saya berkenalan dengan Kang  Yayat  Suratman , orang Priangan Timur , tepatnya asal Kota ”Galendo”  Ciamis Jawa Barat. Ia sudah bermukim di Ethiopia lebih dari 11 tahun, bekerja di sebuah perusahaan sabun dengan jabatan General Manajer PT. Sinar Ancol , perusahaan milik warga Ethiopia. Oleh Kang Yayat , saya sering dijamu makanan khas Priangan , tapi bukan makanan berbahan  ikan laut , karena di Ethiopia sulit untuk mendapatkan ikan laut . Etiopia merupakan negara  yang tidak memiliki wilayah laut   dengan luas wilayah  1.104.300 km2. (Secuil catatan : Abay dari Ethiopia) ***