Tak Ada lagi Orang Miskin di Dunia

508

Tidak dapat kita bayangkan, bagaimana kelak ketika di dunia ini tidak ada lagi orang miskin. Bukankah kaya dan miskin itu merupakan salah satu bentuk keseimbangan? Menurut petatah petitih orang tua kita dulu, di dunia ini tidak akan ada orang kaya kalau tidak ada orang miskin. Menurut para kiyai, orang miskin merupakan sarana ibadah bagi orang mampu dengan cara berbagi. Tentun saja pendapat itu tidak lantas mengurungkan niat kita mengentaskan kemiskinan. Namun, menghilangkan angka kemiskinan sampai 0 persen, hanya merupakan target. Kita harus punya SDGs, kita harus punya strategi dalam memerangi kemiskinan. Namun jangan terlalu yakin, dunia ini akan dihuni hanya oleh orang-orang kaya.

Ukuran orang miskin juga harus benar-benar tepat agar segala bantuan selalu tepat sasaran. Pengalaman menunjukkan, pemberian bantuan langsung, selalu mengundang pendapat sumbang. Masih banyak orang yang sangat miskin, tidak mendapat bantuan. Ada pula yang secara ekonomi, tidak terlalu menderita tetapi mendapat bantuan. Kita tidak dapat membedakan fakir dan miskin . Fakir atrau fukoro ialah orang yang tidak punya pekerjaan atau penghasilan sama sekali. Ia hanya menggantungkan hidupnya kepada bantuan orang lain. Sedangkan miskin atau masakin ialah orang yang punya pekerjaan tetapi upah dari pekerjaannya itu tidak cukup. Ia mendapat upah mingguan, mislanya, upah itu habis untuk makan tiga hari. Bila gajinya diberikan sebulan sekali, gajinya itu hanya cukup untuk makan paling lama 15 hari.

Golongan kedua atau masakin itulah yang paling banyak di Indonesia. Mereka punya pekerjaan sebagai buruh pabrik atau menjadi pegawai di perusahaan swasta. Akan tetapi dengan berbagai alasan, perusahaan tempat ia bekerja tidak mampu memberi kesejahteran yang memadai bagi buruhnya. Para buruh itu masuk ke dalam golongan kaum miskin. Apakah mereka masuk ke dalam 22,77 juta orang miskin atau tidak, pemerintah harus melakuikan penelitian yang lebih saksama..

Kita tidak ingin, target 0 persen tahun 2030 itu hanya sebagai spanduk politis belaka. ***