Tampilan Wajahnya Masam, Jokowi Kesal Kasus Covid 19 Melonjak Dicky : Hasil Kerja  Luhut Belum Terlihat

273

BISNIS BANDUNG – Wajahnya masam, sesekali dahinya mengernyit, Presiden Jokowi tampak kesal melihat laporan kasus Covid-19 di RI melonjak tajam. Matanya bahkan tak mau melihat para menteri yang ada di sekelilingnya.  Jokowi terus memandangi data di gawainya saat bicara. Sesekali hanya melirik ke kanan dan ke kiri, lewat ujung mata, tanpa menoleh.

Senin 30 November lalu, Jokowi pimpin rapat terbatas. Di sebelah kirinya dengan jarak sekitar dua meter, terdapat Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Sebelah kanannya,  Mensesneg Pratikno. Di depannya, ada Menko PMK Muhadjir Effendy dan Menkes Terawan serta Menkeu Sri Mulyani.

“Ini semuanya memburuk semuanya!” ucap Jokowi kesal.

Jokowi menyampaikan data Covid-19 yang naik dan memburuk. Dia menyinggung persentase rata-rata kasus aktif yang meningkat menjadi 13,41 persen. Minggu yang lalu masih 12,78 persen. Adalah Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan yang diberi tanggung jawab oleh Jokowi untuk menangani Covid-19 sejak 14 September 2020. Luhut membawahi 9 Provinsi yakni, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua dan Bali. Persentase rata-rata kesembuhan dari Covid-19 yang menurun dari 84,03 pada 23 November 2020 menjadi 83,44 persen, juga disinggung Jokowi.  Perhatian Jokowi juga tertuju pada kenaikan drastis kasus aktif pada dua dari 9 provinsi yang menjadi fokus pengendalian penyebaran virus Corona , yakni Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Namun, penunjukan Luhut untuk menangani Covid-19 menuai kritik. Bahkan, kinerja Luhut kini menjadi sorotan karena kasus Corona justru terus meningkat . Walau Luhut  telah mengundang seluruh kepala daerah di Jawa untuk rapat koordinasi , terkait mengendalikan Covid-19.

Seharusnya oleh Kemenkes

Epidemiolog asal Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menilai, kerja Luhut belum terlihat.  Luhut belum berhasil tangani pandemi Corona di 9 provinsi besar. “Faktanya hingga saat ini belum berhasil,” ujar Dicky, Rabu (2/12).
Menurut Dicky , seharusnya pengendalian pandemi di Indonesia dipegang oleh Kementerian Kesehatan. Terbukti Kemenkes berhasil meredakan penyakit dan wabah. Mulai dari TBC, malaria, flu burung.

Baca Juga :   Ombudsman Kritisi Vaksinasi di Jabar  

 “Seharusnya menteri kesehatan yang melead. Bahwa ada pro kontra terkait Menkes ya itu di luar dari kondisi, karena yang bergerak, kompetensi dan skill  Kemenkes  sudah terbukti,” ungkap Dicky.

Dikemukakan ,  tidak jadi masalah jika menteri lain yang ditugaskan untuk menangani pandemi Covid-19. Tetapi,  kembali pada leading sektornya adalah Kemenkes. “Kita tidak boleh berdasarkan orang perorang, karena ini harus by system. Dicky mengaku ,  tidak melihat efektifitas dari penunjukan baik itu ad hoc pada sosok-sosok figur tertentu. Harus by system terlepas setuju atau tidak , karena yang bekerja bukan Menteri Kesehatan, tapi  jajaran birokrasinya  yang akan bergerak dan tidak musti Menkes yang handal memahami benar pandemi,” Dicky menambahkan.  (B-003) ***