Tatkala Banjir Landa Cicaheum

210

AIR bah atau peristiwa banjir, sudah menjadi pemandangan yang biasa terutama di Bandung Selatan, seperti Dayeuh Kolot dan Bala Endah. Namun, ketika terjadi banjir bandang di kawasan Cicaheum Kota Bandung, bukan main hebohnya.

Saya kita bukan lantaran Cicaheum merupakan  kawasan terminal  kendaraan terbesar, tapi ada sesuatu yang menyebabkan banjir bandang itu. Orang pun ramai-ramai menuding sebagai imbas dari rusaknya ekosistem di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Oleh sebab itu, saya setuju atas pandangan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat harus  menindak tegas segala bentuk pembangunan di Kawasan Bandung Utara (KBU).  Intinya, pihak provinsi harus turun tangan melakukan langkah-langkah nyata di lapangan.

Banjir bandang yang terjadi di Cicaheum belum lama ini  merupakan imbas dari adanya alih fungsi lahan di KBU.

Akibatnya, saat hujan deras melanda Bandung utara, air yang masuk ke sungai membawa lumpur ke daerah yang dialirinya seperti Cicaheum khususnya.

Beberapa fakta adanya alih fungsi lahan yang cukup kritis, yakni daerah yang dulunya merupakan resapan air, kini telah berubah dengan banyaknya bangunan-bangunan cafe, restoran, maupun villa.Tempat yang seharusnya ditanami pohon menjadi ditanami beton.

Jurang yang curam saja dibangun, dikikis habis untuk villa, restoran, dan cafe, ini harus dihentikan, bahkan penindakan harus dilakukan.

Wilayah Bandung Utara mencangkup empat daerah yakni, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Cimahi. Khusus untuk utara di Cicaheum, berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Saya cemas dan khawatir  manakala pembangunan di KBU tidak dihentikan, bencana yang lebih dahsyat dibanding banjir bandang Cicaheum  bakal mengancam kita.  Ayo hentikan pembangunan di KBU, sebab  isyarat alamnya sudah jelas  air bah tak bisa dibendung lagi

Fajar, Jalan Biak Antapani Bandung