Telan Biaya Rp 800 Miliar Pemkot Bandung Miliki RSKIA Canggih 

332

BISNIS BANDUNG –   Walikota Bandung , Oded M Danial meresmikan   Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA)  di kawaswan Jalan K.H. Wahid Hasyim (Jalan Kopo)

Rumah sakit yang dibangun dana APBD sebesar Rp 750-800 miliar ini  memiliki fasilitas tercanggih. Mulai dari pelayanan pendaftaran, rawat inap, hingga kamar operasi. Berkapasitas 500 tempat tidur yang 40% atau 200 tempat tidurnya khusus melayani ibu dan anak.

“Peralatannya canggih , bagus dan berkualitas, dari mulai tempat tidur sampai ruang operasinya luar biasa,” ujar Walikota, baru-baru ini.

Rumah sakit yang diproyeksikan menjadi RSUD ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Beberapa peralatannya tercanggih di Indonesia, misalnya Air Handling Unit (AHU) yang mampu untuk mensterilisasi udara ruangan. Selain pintu interlock untuk menjaga kualitas udara ruangan agar tidak tercampur dengan udara dari luar. Khusus ruangan operasi menjadi bebas bakteri, hingga pasien tidak akan mudah terinfeksi pascaoperasi. Termasuk fasilitas laboratorium, farmasi dan administrasi juga telah terkoneksi dengan teknologi komunikasi yang canggih. Bahkan beberapa peralatan laboratorium memiliki teknologi robotik.

Gedung 15 lantai itu akan bisa mulai beroperasi pada pertengahan Januari 2020. Setelah peresmian ini, RSKIA dan Pemerintah Kota Bandung secara bertahap akan mulai memindahkan aktivitas layanan di tempat yang baru. Walikota mengaku, untuk hal ini perlu persiapan SDM yang mumpuni.

Sementara , Direktur RSKIA Kota Bandung, Taat Tagore mengatakan, saat ini pihaknya memiliki 350 pegawai, termasuk di dalamnya 40 orang dokter. Namun untuk mengoperasikan seluruh fasilitas rumah sakit secara optimal, dibutuhkan 750 personil.

“SDM akan disesuaikan dengan perkembangan . Akan mulai beroperasi secara bertahap pertengahan Januari tahun 2020 dengan daya tampung sekitar 200 tempat tidur untuk poli penyakit dalam, bedah, THT, mata dan syaraf,” ujar  Taat.

Kendati memiliki fasilitas canggih dan modern, Taat memastikan, rumah sakit ini tetap menaruh keberpihakan kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

“Ini kan rumah sakit pemerintah jadi dibangun untuk melayani pasien menengah ke bawah, tapi tidak menutup kemungkinan untuk melayani kelas 1 ke atas,” tambah Taat menegaskan. (B-003) ***