Terdampak Corona Penjualan Otomotif di Indonesia Menurun

26

Merebaknya virus corona (COVID-19) di berbagai negara, berpengaruh terhadap berbagai sektor penting, mulai dari masalah perekonomian sampai dengan sektor otomotif pun terdampak.

Masuknya COVID-19 atau virus corona ke Indonesia, membuat banyak pihak panik. Selain masyarakat perseorangan, industri otomotif juga terguncang lantaran penjualan kendaraan menjadi lebih lesu dibandingkan sebelumnya.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, Yohannes Nangoi mengaku, awalnya pihaknya yakin pergerakkan pasar roda empat di tanah air membaik akan pada tahun 2020. Namun, masuknya virus corona ke tanah air membuat konstelasi berubah, dan hal itu cukup membuatnya khawatir.

“Terus terang, tahun ini saya berharap penjualan mobil bisa kembali pulih. Tahun lalu (industri otomotif) terpukul karena agenda politik yang cukup berat, jadi penjualan menurun. Harusnya 2020 sudah pulih, tapi ada banjir, kemudian ada pukulan lagi dari COVID-19, hal itu sangat berpengaruh,” ujar Nangoi dalam keterangannya, akhir pekan lalu.

Selain itu , lanjut Nangoi , turunnya minat turis berkunjung ke Indonesia juga menjadi alasan, mengapa penjualan kendaraan roda empat mengalami kemerosotan. Sebab, penyedia jasa travel tak menerima banyak permintaan, sehingga pendapatan mereka lesu dan memilih tak menambah moda angkutan baru.

Meski demikian, ia meyakini, terganggunya pasar roda empat yang disebabkan corona bakal berakhir dalam waktu dekat. Hal itu mengacu pada hadirnya musim panas di bumi bagian utara serta jumlah korban yang terus menurun.

Diperoleh keterangan, penjualan mobil di Indonesia pada Januari 2020 mengalami penurunan yang  signifikan, hanya sekira 80.000 unit . Nangoi  berharap, tren penjualan bisa membaik pada bulan Maret ini.

Sedangkan Executive General Manager PT Toyota-Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto (Suryo) mengatakan, tahun ini  menjadi tahun yang cukup berat bagi para pelaku industri otomotif Indonesia.

“Tanpa ada corona, sebenarnya tahun ini kondisinya sudah cukup menantang karena adanya perang dagang dan resesi global. Corona tentu menambah tantangan tersendiri jika hal ini terus terjadi di tahun 2020,” ujar Suryo.

Ia memperkirakan kondisi resesi global dan perang dagang membuat target penjualan gabungan secara nasional menjadi hal yang sangat sulit untuk dicapai. Menurutnya, dengan adanya dua hal itu saja, untuk mencapai penjualan yang sama dengan total penjualan pada tahun lalu sudah sangat berat.

“Dengan adanya corona , untuk mencapai total penjualan sampai 1 juta unit saja sudah menjadi pekerjaan yang cukup berat bagi seluruh pabrikan yang ada di Indonesia,” ungkapnya.

Ia berpendapat, munculnya virus corona membuat sebagian masyarakat Indonesia lebih mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan.

Target total penjualan semakin menantang karena kontribusi ekspor juga berpotensi merosot. Pasalnya, corona juga membuat sejumlah masyarakat di beberapa negara destinasi ekspor melakukan tindakan yang sama.

Meskipun, hingga saat ini dampak corona belum terasa secara signifikan bagi penjulan dan proses produksi di Indonesia. Menurut Vice President Director TAM Henry Tanoto , sejauh ini seluruh kegiatan operasional Toyota masih berjalan normal seperti biasa.

Hal serupa terjadi pada DFSK Indonesia yang merupakan salah satu pabrikan asal China. Public Relation dan Digital Manager PT Sokonindo Automobile, Arviane Dahniarny Bahar mengatakan, virus corona sejauh ini tidak berdampak terhadap produksi DFSK di Indonesia. Karena itu, seluruh aktivitas penjualan dan produksi  berjalan  normal.

“Beberapa proses suplai komponen masih berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan , sehingga tidak ada proses produksi yang terganggu,” kata Arviane. Hal ini terjadi karena pabrik DFSK di Chongqing, China, beroperasi  normal, sehingga tetap dapat memenuhi kebutuhan komponen untuk pabrik DFSK di Cikande, Serang, Banten. (E-002/BBS)***