Terdampak Covid 19 Pertumbuhan Ekonomi Turun Jauh Dari Asumsi Antara 5 – 5,4%

13

BISNIS BANDUNG  – Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi  ke kisaran 4,2  sampai 4,6 % pada tahun ini akibat pandemi covid-19. Proyeksi ini turun jauh dari asumsi awal sebesar 5,0 sampai 5,4 %.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan pemangkasan target berasal dari proyeksi kondisi ekonomi Indonesia ke depan yang  cukup berat. Hal ini utamanya karena dampak penyebaran virus corona  di dalam negeri yang terus meluas. Perry mengakui bahwa BI perlu melihat kembali kemungkinan grafik ekonomi nasional ke depan.

Sebelumnya, ia meyakini laju ekonomi masih bisa tumbuh dengan skema  yang menandakan akan ada perbaikan. Namun,  akan dikaji lagi apakah masih sama .Butuh waktu yang lebih lama atau akan kearah stagnasi.
“Tentu berbagai perkembangan ini mempengaruhi proyeksi kami dari semua pola  shape dengan tumbuh 5,0 sampai 5,4 % , kemudian turun menjadi 4,2 sampai 4,6 %,” ungkap Perry baru-baru ini.
Dikatakan lebih lanjut,  laju perekonomian domestik lebih lambat karena virus corona turut menginfeksi prospek pertumbuhan ekspor dan impor. Sebab, distribusi dan rantai pasok barang terganggu.

Belum lagi, pandemi virus membuat mobilitas masyarakat terganggu karena berbagai larangan perjalanan yang diberlakukan pemerintah dan negara-negara lain. Hal ini akan turut menyeret laju ekonomi ke depan.

Bila ini terus terjadi, lanjut Perry , bukan tidak mungkin akan turut menekan realisasi investasi dan konsumsi yang merupakan kontributor ekonomi Indonesia, meski pemerintah melakukan berbagai kebijakan stimulus. Misalnya, dengan paket stimulus hingga omnibus law di bidang penciptaan lapangan kerja dan perpajakan.

Tak hanya dari dalam negeri, BI melihat penurunan prospek ekonomi domestik menjadi wajar karena proyeksi laju perekonomian global juga turun.  BI memperkirakan ekonomi global akan berada di kisaran 3 %, namun karena pandemi virus corona diperkirakan hanya akan  berada di kisaran 2,5 persen.

“Ketidakpastian sangat tinggi, menurunkan kinerja pasar keuangan global, menekan mata uang di dunia, memicu pembalikan modal. Lalu, keyakinan pelaku ekonomi, angka PMI, serta konsumsi dan produksi listrik menurun tajam,” jelasnya.

Prospek ekonomi Indonesia dan dunia meredup pada tahun ini akibat corona, namun Perry meyakini kondisi ekonomi akan membaik pada tahun depan. Proyeksinya, ekonomi dunia berada di kisaran 3,7 % dan Indonesia di kisaran 5,2 sampai 5,6%.

Menurutnya, perbaikan ekonomi tahun depan akan dipicu oleh pemulihan aktivitas industri di China usai pandemi virus corona. Begitu pula dengan negara-negara lain di luar China yang masih terus berjuang melawan virus corona, termasuk Indonesia.

Selain itu, stimulus dari berbagai pemerintah dan bank sentral negara-negara di dunia akan turut mendorong roda ekonomi di akhir tahun ini hingga tahun depan. Amerika Serikat misalnya, Presiden AS Donald Trump siap mengguyur dana senilai US$1 triliun untuk menggairahkan ekonomi negerinya.

Begitu pula dengan bank sentral AS, The Federal Reserve yang sampai memangkas tingkat suku bunga acuan mencapai 100 basis poin (bps) pada beberapa waktu lalu. Begitu pula dengan Indonesia.

Menurutnya, berbagai paket stimulus ekonomi dari pemerintah akan memberi dorongan ke pertumbuhan. Begitu pula dengan kebijakan moneter dari BI dan perbankan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Langkah-langkah koordinasi kebijakan berkelanjutan yang ditempuh akan menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” tutur Perry. (B-003) ***