Terjadi ”Manajemen Akrobatik” Pada Dunia Jurnalistik

52
Terjadi ”Manajemen Akrobatik” Pada Dunia Jurnalistik

     ARAH jurnalisme pada masa pandemi dan kerancuan politik saat ini semakin tidak jelas. Undang-undang Nomor 40, Pedoman Penyiaran, dan berbagai fatwa  Dewan Pers nyaris tidak berdaya menghadapi arus deras media nirbudaya dan tunaetika  saat ini. Masuknya jurnalistik purnateknologi, jurnalistik konvensional yang berpegang teguh pada teori dasar jurnalistik dan kode etuk jurnalistik, semakin tertinggal di garis star. Mereka tidak paham lagi, ke arah mana track yang akan mereka lalui dalam perjalanan menuju garis finis.

      Hal itu muncul dalam diskusi  ”Jurnalist’s sebagai Startig Point” yang diselenggarakan Pers Mahasiswa Sentra, Universitas Widyatama Bandung. Selama ini tumbuh semacam kegamangan pada  para calon jurnalis atau ilmuwan media massa. Wajar, mereka mengikuti perkuliahan jurnalisme dari para pakar yang rata-rata berada pada jalur media mainstream. Mereka berpegang pada teori jurnalistik dan pemahaman jurnalisme baku.

       Pada teori jurnalistik terdapat pengelompokan pers berdasarkan politik yang dianut sebuah negara. Ada yang disebut pers otoriter, pers liberal, pers komunis, dan sebagainya. Kalau saja pengelompokan itu sebagai pigura (fream) kemudian kita masukkan jurnalisme saat ini kepada pigura-pigura itu, tampaknya amat sulit masuk.

     Dilihat dari kebebasan pers, jurnalisme Indonesia saat ini bisa masuk ke dalam fream pers liberal. Namun sebebas-bebasnya pers liberal, masih ada kisi-kisi bahkan barikade berbentuk budaya masyarakat, moral agama, etika, dan hukum.

Kita lihat konten media sekarang semua kiisi-kisi itu benar-benar dilabrak. Isinya sudah bukan berita yang faktual lagi tetapi mutlak opini,  kampanye, propaganda,bahkan agitatif, sadistis (brdarah-darah).

     Sampai hari ini belum ada penyelenggara media massa atau media sosial yang diberi peringatan, baik dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Dewan Pers, atau Kominfo. Benar sudah sering kita baca, ada seseorang yang ditangkap dan dioadili akibat melontarkan ujaran kebencian, permusuhan, pembulian, dan sejenisnya. Mereka dikenai pasal-pasal pada Undang-unxdang ITE. Akan tetapi medianya dibiarkan. Pemimpin Redaksi atau penyelenggaanya tetap selamat dan tak pernah berhenti menyajikan berita bohong,ujaran keencian, pelecehan, dan sebagainya.

     Dilihat dari sisi manajemen pers, keadaan pers sekarang ini benar-benar berada di bibir jurang kebangkrutan. Sangat banyak media massa main stream yang musnah dilanda perubahan zaman. Sumber pendapatan utama  yakni sirkulasi dan iklan, sekarang sudah tidak musim lagi. Tak ada lagi yang disebut sirkulasi. Iklan tidak lagi sebagai sumber pendapatan pokok. Masalahnya, iklan melalui medsos sangat murah, efektif dan efisien.  Hanya pengusaha yang punya pandangan jauh ke depan yang masih mau menggunakan media massa arus utama sebagai media promosi.

     Karena itu manajemen haruis menempuh manajemen akrobatik. Pontang-panting mencari sumber pendapatan di luar iklan. Banyak manajemen media massa yang melakukan cara-cara yang sebenarnya tidak sesuai dengan isi hati nuraninya. Misalnya merumahkan sebagian karyawan, mengurangi jam dan hari kerja, menjual aset perusahaan, dan sebagainya.

     Pada diskusi virtual  Universitas Widyatama itu muncul semacam kesimpuloan sementara, pers kita tengah bereforia dengan kebebasan pers yang ditunjang perangkat teknologi supercanggih. Kecepatan menjadi senjata utama, semuanya berlomba mendapatkan dan menyajikan sesuatu paling dulu. Dalam lomba adu kecepatan seperti itu, akurasi, chek and re-chek menjadi tidak penting.

     Kesimpulan lainnya, media sosial masih belum  menjadi bagian pers. Segalanya seolah-olah terbiarkan, belum tersetuh aturan apalagi kode etik jurnalistik/kode etik wartawan.

      Rupanya setelah pandemi agak landai, kita harus segera melaklukan diskusi besar menata kembali dunia jurnalistik kita. Kita tidak boleh membiarkan nasib para calon jurnalis yang punya semangat menggebu-gebu. Mereka punya harapan menjadi jurnalis yang sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan di bangku kuliah. Jangan terlalu khawatir. Sekarang masyarakat sudah mulai merasa jengah dengan tulisan yang  bermuatan kampanye politik, propaganda, agitatif, pelecehan, dan sadism. Sudagh banyak orang yang begitu membuka akun seperti itu segera meng-klik “bersihkan chating”. ***