Terlalu Percaya Petugas Dana di Bank Dibobol ?

26
Terlalu Percaya Petugas Dana di Bank Dibobol ?

BISNIS BANDUNG– Penyebab utama kasus pembobolan dana nasabah bank karena nasabah terlalu percaya pada  petugas bank  dengan mengabaikan prinsip kehati-hatian. Meski sejauh ini pihak  bank menyediakan petugas khusus  AO PC (account officer/pimpinan cabang) untuk memberikan layanan perbankan 24 jam.

Pelayanan yang baik dari AO/PC menyebabkan nasabah menjadi terlena dan mengikuti apa yang diminta atau disarankan oleh AO/PC. Misalnya menyerahkan kartu ATM dan PIN atau menandatangani slip penarikan kosong atau blanko cek yang belum di isi nominalnya.

Sistem pengawasan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berbasis risiko dan melakukan assessmen terhadap risiko secara periodik. Terhadap risiko yang dinilai high, Otoritas akan fokus terhadap kemampuan bank mengelola risiko (risk management) dan memitigasi risiko tersebut. Dengan sistem pengawasan  itu, otoritas tidak menyentuh hal-hal yang bersifat teknis perbankan.

“Sesuai dengan UU Perbankan, Tindak pidana di bidang perbankan dapat menyentuh dewan komisaris direksi dan pegawai bank, serta pihak terafiliasi. Kalau UU ini diterapkan dengan konsisten akan memberi efek jera kepada pelaku pembobolan,” tandas Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Dr.Dian Ediana Rae, S.H., LLM  kepada Bisnis Bandung, Senin (7/12/2020).

Dian Rae menyatakan agar kasus pembobolan dana nasabah tidak terjadi yakni memberikan edukasi kepada masyarakat terkait hal-hal yang menjadi pemicu munculnya pembobolan dana nasabah mengingat kasus dengan modus yang sama sering berulang. Pihak perbankan harus menerapkan prinsip “know your employee” dan memperhatikan lifestyle pegawainya.

Menjawab pertanyaan apa yang harus dilakukan oleh nasabah agar dana/rekeningnya tidak dibobol? Ia mengungkapkan  perlunya  menerapkan prinsip kehati-hatian dalam melakukan hubungan usaha dengan bank, antara lain dengan tidak percaya sepenuhnya kepada pegawai bank. Kemudian tidak mempercayai iming-iming bunga tinggi dan tidak mempercayai penawaran produk bank yang memberikan imbal hasil tinggi dibandingkan suku bunga deposito di perbankan.

Dian Rae mengatakan, rata-rata nilai nominal rekening yang dibobol berkisar puluhan miliar rupiah. Lokasi terjadinya pembobolan tidak hanya di kota besar seperti Jakarta, tetapi juga mulai bergeser ke daerah di kawasan timur.

Pada tahun 2019, terjadi pembobolan rekening dalam jumlah signifikan di KC bank BUMN di Ambon. Pergeseran ini terutama terjadi karena pengawasan internal bank pada umumnya lebih fokus di kota-kota besar yang memiliki transaksi perbankan lebih kompleks dibandingkan di daerah yang sebagian besar transaksi perbankan masih terbatas pada giro, tabungan dan deposito.

Kendala utama dalam pengusutan kasus pembobolan dana nasabah karena bank berusaha menutupi kasus tersebut dengan menangani secara internal, terutama apabila melibatkan pegawai bank. Hal ini bertujuan agar risiko reputasi bank tidak terekspose sehingga nasabah tetap mempercayakan dananya disimpan di bank.

Hal ini berdampak tidak adanya efek jera dan pemberian sanksi yang proporsional kepada pelaku tindak pidana, sehingga tindak pidana pembobolan rekening terus berlanjut sampai dengan saat ini. Penanganan secara internal pada umumnya efektif apabila nominal dana yang dibobol tidak signifikan dan kesalahan diketahui berada di pihak bank.

Namun untuk pembobolan dana dengan nominal signifikan, penanganan secara internal kurang efektif karena biasanya tidak tercapai titik temu antara bank dengan nasabah, mengingat bank akan membebankan dana yang dibobol  itu  sebagai kerugian dan sebaliknya nasabah tidak ingin simpanannya hilang atau berkurang. Kondisi ini menyebabkan kasusnya menjadi berlarut-larut dan terlambat dilaporkan kepada penegak hukum.(E-018)***