Termometer Inframerah Bisa Merusak Otak Manusia?

80

SALAH satu berita yang cukup populer saat pandemi Covid-19 ialah bahaya penggunaan termometer inframerah. Membidik bagian tengah dahi Anda, alat ini digunakan untuk mengukur suhu tubuh guna mencegah persebaran Covid-19.

Tidak sedikit yang percaya bahwa alat itu dapat memancarkan sinar radiasi yang merusak jaringan otak, khususnya kelenjar pineal.

Kabar perihal bahaya penggunaan termometer inframerah tidak hanya menghebohkan media sosial Indonesia, namun juga internasional. Kabar ini di antaranya tersebar di Facebook dan Twitter. Bahkan unggahan terbaru tersebar pada 16 Agustus lalu – dari pengguna yang tidak dapat disebutkan – menyatakan bahwa perawat di Australia telah mengklaim bahaya tersebut.

Sebagaimana berita ini meresahkan, pihak Australian Associated Press (AAP) telah melakukan pengecekan fakta mengenai hal ini. Melansir AAP, dua orang ahli dari Universitas Johns Hopkins di AS telah menyatakan bahwa “termometer inframerah tidak memancarkan sinar inframerah ke arah kelenjar pineal, melainkan mendeteksi radiasi yang dipancarkan.”

Termometer inframerah pada dasarnya tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan benda lain di sekitar manusia. Sebagaimana disampaikan Peter Saunders – ilmuwan termometri radiasi di Laboratorium Standar Pengukuran Selandia Baru – kepada AAP ia menyatakan bahwa termometer inframerah hanya menangkap radiasi inframerah alami yang dipancarkan objek.

Jika bingung untuk membayangkannya, pada dasarnya sistem kerja ini serupa dengan cara kerja kamera saat memotret objek. Dalam memotret, kamera akan “mengumpulkan dan memfokuskan energi inframerah yang dipancarkan oleh target ke detektor di dalam perangkat.” Hal itulah yang serupa dengan termometer inframerah, ia hanya menangkap sinar radiasi alami dan tidak memancarkan sinar serupa.

Adapun terkait wilayah yang dituju, dahi memang dianggap sebagai wilayah yang tepat untuk melakukan pengecekan suhu. Adapun kelenjar pineal tidak akan terpengaruh sekalipun hal ini dilakukan. Kelenjar itu berada di bagian tengah tengkorak, tepat di antara dua belahan otak dan terlalu dalam untuk dapat terpapar sinar dari luar tubuh.

“Cahaya memiliki kapasitas yang sangat rendah untuk menembus penghalang yang dibentuk oleh tengkorak, bahkan jika panjang gelombang inframerah lebih mudah menembus,” ucap Gabrielle Girardeau, peneliti ilmu saraf di Institut Nasional Penelitian Kesehatan dan Medis, dikutip World Today News.

Dengan ini, maka sudah jelas bahwa berita termometer inframerah merusak jaringan otak maupun kelenjar pineal adalah hoaks belaka. Adapun alasan termometer jenis ini digunakan karena ia bersifat non-kontak.

Sebagaimana disampaikan Administrasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA), pengukuran suhu dapat dilakukan dengan cara demikian menggunakan termometer inframerah. Selain itu, alat ini menampilkan pembacaan yang cepat meski tidak menyentuh dan dapat digunakan serta dibersihkan dengan mudah. (C-003/ahl)***