Tersenyumlah, Hai Paramedis

31

DI sebuah rumah sakit daerah (RSUD) pasien yang akan berobat harus antre sejak pk. 02 dini hari. Jangan harap mendapat nomor di bawah 200 kalau datang selepas salat subuh. Setiap hari sekitar 300 – 400 pasien datang untuk mendapatkan layanan kesehatan di rumah sakit daerah apalagi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP). Bukan hanya di RSUP atau RSUD orang antre tetapi juga di puskesmas. Rata-rata yang datang ke puskesmas, bukan akan berobat tetapi untuk mendapatkan surat rujukan.

Tak pelak lagi meningkatnya jumlah pasien di semua rumah sakit merupakan dampak penyelenggaraan jaminan kesehatan. Terbentuknya Badan Penyenlenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada satu sisi mendorong masyarakat mau datang ke rumah sakit  Sebagai peserta BPJS ia merasa ”harus” menggunakan jasa layanan kesehaatan. Banyak warga yang berpendapat, ”mubazir” membayar iuran tiap bulan, tanpa menerima layanan kesehatan. Karena itu, penderita penyakit ringan sekali pun, merasa harus berobat ke RS.

Kalau kita mengukur keberhasilan BPJS dari segi kunjungan pasien ke RS, benar-benar BPJS sudah berhasil. Namun pada sisi lain, BPJS sebagai lembaga yang diharapkan mampu menghimpun dana masyarakat untuk kepentingan pelayanan kesehatan, BPJS jauh dari berhasil. Setiap tahun BPJS selalu mengalami defisit bahkan terus meningkat. Tahun 2016 BPJS defisit Rp 9 triliun, meningkat Rp 3 triliun dari tahun 2015 sebesar Rp 6 triliun. Tahubn 2019

Apa yang harus dilakukan pemerintah agar pelayanan kesehatan tehadap masyarakat terus meningkat  Ssisi lain, BPJS tidak terus menerus defisit anggaran. Pemerintah harus mengapresiasi ”kesadaran” masyarakat akan pentingnya kesehatan. Tujuan pemerintah mendorong masyarakat mau berobat ke RS, hampir berhasil. Berkaitan dengan itu, pemerintah harus berani menutup defisit BPJS melalui APBN tanpa ada pemikiran akan segera menaikkan iuran BPJS. Selain itu, pemerintah harus meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan, baik berupa pendirian RSUD di tiap kota/kabupaten maupun peningkatan kelas/status rumah sakit di daerah. Sistem pelayanan prima juga harus menjadi misi utama setiap RS. Jangan sampai terjadi stigma, pasien BPJS adalah pasien miskin yang tidak layak mendapat pelayanan prima.

Upaya yang juga sangat penting ialah meningkatkan fungsi dan peran puskesmas atau klinik rawat jalan. Sekarang orang enggan berobat ke puskesmas karena takut tidak mendapat pelayanan yang memadai. Mereka datang ke puskesmas hanya untuk meminta surat rujukan padahal penyakit yang dideritanya tidak terlalu butuh penanganan rumah sakit. Orang yang menderita sakit gigi atau hanya untuk mengganti kacamata, berusaha keras mendapat rujukan untuk berobat ke RSUD/RSUP. Semua otrang tahu, di puskesmas ada dokter gigi lengkap dengan peralatan diagnosis dan terapi.Namun banyak yang merasa enggan berobat ke puskesmas.

Sikap ”aneh” sebagian pasien itu merupakan bahan kajian bagi dinas kesehatan. Mengapa terjadi sikap seperti itu? Jawaban utamanyua adalah ”kepercayaan”. Sebagian anggota masyarakat kurang  percaya terhadap pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas atau klinik rawat jalan. Selain dibangun lebih banyak puskesmas, juga tenaga medisnya lebih lengkap. Pasien yang menderita penyakit yang tridak membutuhkan perawatan atau penanganan dengan tenaga dokter ahli, seyogianya dapat dilayani secara tuntas di puskesmas. Di RSUD tidak perlu ada klinik gigi atau pemeriksaan ukuran kacamata, kecuali untuk tindakan khusus.

Menjadi peserta BPJS jangan kewajiban mutlak. Biarkan rakyat sendiri yang menentukan, masuk atau tidak. Justru mereka yang bukan peserta BPJS diharapkanm menjadi donatur. Mereka berobat ke RS dengan membayar tunai. Dana itu sesikitnya akan membantu biaya operasional RS atau merupakan subsidi silang bagi peserta BPJS. Masalahnya, uang yang masuk dari iuran tidak akan dapat menuitup defisit anggaran BPJS. Namun pelayanan terhadap dua golongan pasien itu jangan sampai dibedakan. Kedua-duanya—peserta BPJS atau bukan—tetap harus mendapat pelayanan yang sama.

Di semua RS, apapun tingkatannya, ”penyembuh” lahiriah adalah pelayanan. Senyum dan keramahan dokter, paramedis, dan petugas administrasi,  merupakan bagian dari terapi. Pelayanan yang prima itu merupakan obat mujarab bagi pasien. ***