TIGA MUSISI GIMBAL YANG TERANCAM MENGGELORA TERSERET DI DCDC PENGADILAN MUSIK SECARA VIRTUAL

4
TIGA MUSISI GIMBAL YANG TERANCAM MENGGELORA TERSERET DI DCDC PENGADILAN MUSIK SECARA VIRTUAL

Pasti yang terlintas di pikiran pecinta musik kalau mendengar kata “musik reggae”? Jawabannya kemungkinan berkisar antara “Bob Marley”, “gimbal”, atau “musik ska”, karena pada era 70-an hingga 90-an merupakan kejayaan bagi industri musik dunia.

Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan musisi idolanya di setiap panggung konser terbilang tinggi, dan Bob Marley ini juga dikenal dunia karena keyakinannya yang kuat pada gerakan ‘Rastafara’, selama kariernya ia mampu menghabiskan penjualan lagu lebih dari 20 juta kopi, serta banyak memberi inspirasi bagi musisi reggae di negara-negara lain, termasuk musisi Indonesia.

   Seperti Grup “PT” Menggelora yang merupakan kependekan kata dari Pemuda Terancam Menggelora yang juga sebuah project band yang terbentuk bulan April 2019 dengan personel, Dellu Uyee, Rafi Gimbal dan Resha Stromp. Mereka sudah tidak asing di dunia hiburan, khususnya musik : Dellu Uyee selain pemain perkusi di beberapa band juga aktif sebagai seorang content creator, Rafi Gimbal adalah finalis dalam ajang pencarian bakat bergenre dangdut, dan Resha Stromp adalah pemain gitar dari band reggae Momonon. Bahkan, untuk menciptakan sebuah produk yang berkualitas mereka bisa menerapkan kerja lembur, dan hal itu diwujudkan dalam bentuk karya musik. Salahsatunya mereka sedang memproduksi album kedua dengan konsep yang berbeda, dan akan mengajak beberapa musisi untuk berkolaborasi, di antaranya Ipang Lazuardi, Sule, Anji dan beberapa penyanyi lintas genre lainnya.

Alhasil berkat kabar tentang musiknya, PT Menggelora terseret menjadi terdakwa dan diadili di Pengadilan Musik Virtual yang tayang pada Jumat, 26 Maret 2021 lalu pukul 19.00 WIB dan disiarkan streaming di saluran YouTube DCDC TV. Mereka pun diadili oleh dua Jaksa Penuntut, yaitu Budi Dalton dan Pidi Baig. Lalu kursi Pembela ditempati oleh Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung. Pengadilan pun masih  dipimpin oleh seorang Hakim yaitu Man (Jasad) dan jalannya persidangan diatur oleh Eddi Brokoli sebagai Panitera.

Agus Danny Hartono selaku Marketing Brand Communication/DCDC mengungkapkan bahwa,  semenjak kita absen dari November 2020, karena harusnya berjalan regular program DCDCnya setiap bulan Cuma dikarenakan ada sesuatu hal dan memang ada beberapa policy dari pemerintah juga jadi akhirnya program DCDC Pengadilan Musik ini baru berjalan lagi di Maret 2021, sehingga beberapa list terdakwa juga sempat kami pending dan kita olah di program bulanan selanjutnya.

Agus pun menambahkan, PT. Menggelora merupakan nama yang asing tapi sebenarnya kalau kita lihat personel didalamnya ada Dellu Uyee, dan ternyata mereka juga adalah master of Jingjit kalau di Tik Tok, trus kebetulan dia juga punya band dan akan merilis album ke-2 di bulan depan, jadi momentum DCDC Pengadilan Musik bulan ini saya rasa cukup tepat untuk mengupas mereka dan memiliki dualism atau karakter yaitu pada vokalis yang sebagai praktisi musik reggae pada umumnya, sedangkan satunya lagi merupakan praktisi Jingjit di Tik Tok sehingga membuat bergairahnya DCDC Pengadilan Musik episode ini.

Genre musik yang dimainkan mereka merupakan musik reggae dengan berbagai macam elemen nuansa Jamaican sound. Saat ini, PT. Menggelora telah memiliki satu album yang berjudul Long Journey, yang mengemas 10 lagu yaitu, “Menggelora Bersama”, “Penyesalan”, “Biar Salah Tak Mengapa”, “Akhir Cerita”, “Lagu Lama”, “I’m Sorry Rabb”, “Berulang ulang”, “Hanya Untukku”, “Buruh Bukan Robot” dan “Sahabat”’.

Eddi Brokoli selaku Musisi dan Panitera DCDC Pengadilan Musik, mengungkapkan bahwa kondisi shooting tanpa penonton, sudah biasa karena saya juga sering shooting di studio TV paling buat yang live virtual bedanya tanpa tepuk tangan penonton saja.

jadi enggak masalah. Apalagi, kami sudah menemukan chemistry sehingga sidang tetap mengalir seperti biasa dan merasa enjoy serta bisa nyambung dengan semuanya mulai jaksa, penasihat hukum dan hakim, kata dia. (E-009)