Tradisi Mudik Sulit Ditinggal Tidak Tergantikan Teknologi

8
Tradisi Mudik Sulit Ditinggal Tidak Tergantikan Teknologi

BISNIS BANDUNG– Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia – ICMI Jawa Barat, Mahi M. Hikmat menyatakan sungguh tega pemerintah melarang mudik Lebaran. Sebab mudik sudah mengakar menjadi tradisi masyarakat dari tahun ke tahun.

Kendati mudik bukan merupakan kewajiban yang tersurat langsung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist, tetapi tidak terlepas dari siratan nilai-nilai bermakna kebaikan. Oleh karena itu, mudik bukan hanya milik umat Islam karena merayakan Idul Fitri, tetapi sudah menjadi tradisi unik, menarik, dan dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

Mudik bukan hanya urusan pulang kampung, tetapi mudik urusan hati yang tidak dapat dibeli dengan nominal berapapun. Mudik adalah unjuk kasih sayang, kerinduan, dan kecintaan  terhadap orang tua, sanak saudara, tetangga, dan kampung halaman. Mudik menumbuhkan ketentraman karena dapat mempertemukan hati dengan limpahan kasih sayang, di antara anak-orang tua, adik-kakak, sanak-saudara, teman lama.

Oleh karena itu, tradisi mudik teramat sulit untuk ditinggalkan. Teknologi informasi boleh makin canggih; dapat menggantikan perjumpaan, seperti washapp, video call atau aplikasi zoom, tetapi tidak dapat menggantikan mudik.

Kecanggihan teknologi informasi justru menempatkan manusia makin berkarakter individual. Arnold Dashefsky (1976) dalam teorinya mengungkapkan, kemajuan teknologi telah menimbulkan tingkat keterasingan yang tinggi, sehingga mudik, dalam pandangan Jalaluddin Rahmat (2011), menjadi terapi modernitas: solusi dari penyakit jiwa yang didera masyarakat modern.

Mudik dapat menghindarkan masyarakat kota dari keterasingan sekaligus menumbuhkan  nostakgik, hangat, menyenangkan, dan menemukan kembali cahaya hati yang tertinggal dalam keramah-tamahan kampung halaman serta sapa mesra, peluk dekap keluarga. Apalagi tahun ini, mudik tidak dapat lagi dijadikan alasan untuk unjuk kesuksesan dan keberhasilan. Justru mudik tahun ini menjanjikan perlindungan dari himpitan ketakutan dan kesulitan akibat persebaran covid-19.

Berapa juta orang kehilangan lapangan kerja; mereka kesulitan menafkahi diri dan anak istrinya; Berapa ribu orang yang hidup ketakutan karena sendiri di perkotaan dalam terpaan berita kesakitan dan kematian. Mereka ingin berlari mencari solusi dan mudik salah satu alternatifnya. Mereka akan lebih bahagia jika bersama orang tua atau keluarga, kata Mahi M. Hikmat kepada Bisnis Bandung,   Senin (5/4/2021) di Bandung.

Mahi M. Hikmat yang juga berprofesi sebagai Dosen UIN Sunung Gunung Djati, Universitas Pasundan dan Universitas Komputer ini  mempertanyakan mengapa pemerintah tetap melarang mudik? Sejak 24 April 2020 masyarakat dilarang mudik, bahkan mulai 7 Mei 2020 akan diberlakukan sanksi tegas bagi pelanggar. Pemerintah pun mengerahkan puluhan, bahkan ratusan ribu petugas gabungan TNI, Polri dan sukarelawan untuk mengawal penegakan larangan mudik.

Mudik dilarang untuk mencegah persebaran virus covid-19 yang hingga kini masih masif dan merajalela mengancam kesehatan dan jiwa masyarakat dunia. Jutaan penduduk dunia dan ribuan penduduk Indonesia sudah menjadi korban, baik meninggal maupun dalam perawatan.

Oleh karena itu, tidak mudik menjadi maha penting sebagai solusi alternatif untuk mencegah makin meluasnya persebaran covid-19, di antara berbagai solusi yang dilakukan berbagai pihak. Jika masyarakat mudik dari kota zona merah sembari belum tahu jelas kondisi kesehatannya karena sebagian orang yang terpapar covid-19 dikabarkan tanpa gejala apapun, maka kehadiran mereka di kampung halaman menjadi ancaman. Jika ia ternyata terpapar  covid-19, maka mudiknya menjadi bencana dan malapetaka bagi orang-orang tercintai yang berada di kampung halaman.

Menurut World Health Organization (WHO), Covid-19 menular melalui orang yang terinfeksi virus corona melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang bersin atau batuk. Ketika tetesan itu mendarat di sebuah benda lalu disentuh, bahkan dihirup dan orang tersebut menyentuh mata, hidung atau mulut, maka ia pun akan terinfeksi. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga jarak 1 meter lebih dari orang yang sakit. Gejala Covid-19 yang paling umum demam, kelelahan, dan batuk kering; ada juga mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare, tetapi tidak sedikit pula yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apa pun.

Mudik memang menjanjikan kebahagiaan, tetapi kini justru berbalik dapat menjadi ancaman malapetaka bagi orang-tua dan sanak-saudara tercinta. Inilah yang harus diyakinkan oleh kita -tidak hanya Pemerintah- pada semua warga. Ketegasan Pemerintah takan berarti tanpa kesertaan dan kesadaran kita semua.

Kendati harus dengan bercucuran air mata, sebagian muslim mulai menaati himbauan pemerintah dan fatwa MUI untuk menjalankan ibadah puasa tanpa tarawih berjama’ah di mesjid. Bahkan, sudah jauh hari shalat berjama’ah, termasuk shalat Jum’at dihentikan sementara di banyak mesjid.

Ramadhan tahun ini, Mesjidil Haram pun dikabarkan sepi, hanya dihuni beberapa pengurus dan berjama’ah beberapa shaf. Tidaklah itu dapat meyakinkan kita bahwa betapa seriusnya bahaya persebaran covid-19 ini. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar untuk berhindar dari bahaya yang lebih besar.(E-018)***