TRANSPORTASI MENGGELIAT

178
Apa lagi yang Wanita Cari?

     SEPULUH bulan penuh transportasi, terutama angkutan umum, mati suri. Hampir semua jenis transportasi publik tak berkutik. Dari transportasi udara hingga angkot tertekan sampai ke titik enol. Pandemi Covid-19 menjadi penghambat utama. Akibat PSBB, nyaris tak ada orang yang bepergian menggunakan kendaraan penumpang umum. Sangat banyak penduduk yang memilih tinggal di rumah dari pada mengambil risiko terpapar Covid-19. Semua junis kendaraan penumpang umum harus “berani” mencari penumpang. Biasanya, justru penumpang yang berebut kendaraan.

     Orang-orang maskapai penerbangan juga selalu berkeluh kesah. Jumlah penumpang kurang dari kapasitas pesawat. Banyak pesawat yang harus delay atau pengunduran keberangkatan karena kurangnya penumpang. Biasanya tidak transit, selama ini, banyak pesawat yang transit dengan harapan ada penumpang baru dari bandara transit.  Penumpang kereta api boleh dikatakan masih lumayan banyak meskipun tidakl selalu penuh.

     Selama ini, angkutan kota (angkot) yang paling parah terhadang pandemi. Sering kali, dalam satu rit, angkot hanya mendapat penumpang satu sampai dua ortang saja. Parta sopir banyak yang memilih menunggu penumpang di terminal atau pangkalan-pangkalan angkot. Mereka enggan berputar-putar cari penumpang.  Mereka beralasan dari pada jalan dan tak ada penumpang, lebih baik diam untuk menghemat BBM. Sepinya penumpang angkot sebenarnya sudah terjadi sejak sebelum ada pandemi Covid-19. Jumlah penumpang turun drastis sejak munculnya ojek motor, baik ojek pangkalan  maupun ojek on line.Orang memilih ojek karena lebih prtatis, lebih cepat, dan sampai ke halaman tempat tujuan.

     Sejak merebaknya musim pandemi, ojek dan mobil daring juga ikut tiarap. Apalagi ketika pemkot melakukan PSBB lebih ketat. Taksi daring hanya bderoprerasi sampai pk 20.00 bahkan kebanyakan beroperasi sampai pk 18.00. Di Kota Bandung, misalnya, semua toko dan restoran wajib tutup pk 20.00. Dampaknya tidak ada penumpang yang bertaksi daring malam hari. Taksi daring mengalami kesulitan  melintasi jalan utama di dalam kota. Dari pada harus berputar-putar mencari jalan terbuka, mereka memilih pulang.

     Dari awal Februari 2021, terjadi perubahan yang “menggembirakan” khususnya bagi para sopir taksi on line. Menurut beberapa sopir taksi daring, dua minggu ini, mereka mendapat order mendekati normal lagi. Biasanya mereka hanya mendapat panggilan 2 – 3 kali sehari, awal Februari ini, sempat mendapat 6 – 8 order. ”Alhamdulillah, hari-hari ini order mulai normal lagi,” kata seorang operator taksi daring. “Mudah-mudahan transportasi, khususnya angkutan penumpang umum mulai menggeliat lagi. ”Namun kegairahan itu belum dirasakan oleh para sopir angkot dan ojek on  line.

     Parta sopir taksi on line, tidak paham, apa faktor penyebab menggeliatnya angkutan penumpang. Mungkin hal itiu terjadi karena kebijakan pemerintah yang melonggartkan PSBB. Larangan memasuki jalan protokol sudah dicabut. Mobilitas warga lebih meningkat. Hal itu berdampak pada meningkatnya jumlah penumpang kendaraan umum. Kegairahan itu juga  berdampak pada tumbuhnya kegairahan pasar.  Apakah kegairahan pasar dan peningkatan arus transportasi umum itu akan berusia panjang?  Kita tidak tahu pasti.  Semuanya bergantung pada tingkat paparan Covid-19.

Kita masih harus menunggu hasil akhir gerakan vaksinasi. ***