Tren dan Peluang Industri Kreatif 2020

13

DOSEN sekaligus pelaku industri kreatif dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Ahmad Adib, Ph. D bicara tentang tren dan peluang industri kreatif di tahun 2020. Dekan pertama Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS dan Dewan Penasehat Solo Creative City Network (SCCN) tersebut menyatakan sejumlah subsektor baru dan subsektor yang sudah dikembangkan pada tahun-tahun sebelumnya masih memiliki potensi besar untuk berkembang di tahun ini.

“Di Indonesia ini ada 16 subsektor industri kreatif yang sudah dipetakan sejak Ibu Mari Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011-2014) hingga tahun 2025 mendatang. Dulu sebenarnya hanya ada 15 subsektor, namun sekarang bertambah 1 menjadi 16,” ujar Ahmad Adib.

Ahmad Adib yang juga Ketua Yayasan Jenang Indonesia (YJI) dan Yayasan Dolanan Anak Indonesia (YaDo’A) tersebut mengungkapkan bahwa subsektor industri kreatif yang masih berpeluang untuk berkembang adalah subsektor yang berkaitan dengan dunia digital.

“Sebenarnya 5 tahun yang lalu dan sampai sekarang masih akan tren adalah yang berkaitan dengan digital, startup, dengan media-media yang terkait animasi, pembuatan film, dan musik. Makanya yang sedang tren sekarang adalah sekolah-sekolah Desain Komunikasi Visual (DKV) yang jumlahnya lebih dari 100 Program Studi (Prodi),” tambahnya.

Sedangkan untuk subsektor baru yang memiliki peluang besar di tahun 2020 adalah bidang kuliner. Besarnya potensi kuliner tersebut diprediksi akan menjadi daya tarik bagi banyak pihak, mulai dari pelaku kuliner lama hingga generasi milenial.

Dengan besarnya perhatian dan peluang yang ada, Ahmad Adib berpesan kepada generasi milenial, khususnya kaum mahasiswa, yang ingin terjun ke dalam dunia industri kreatif dan entrepreneurship agar terus banyak belajar untuk menerapkan kemampuan softskill dan managerial. Hal tersebut dimaksudkan agar saat menghadapi persaingan di dalam dunia industri, generasi muda sudah membekali dirinya dengan kemampuan, strategi, dan mental yang matang.

“Karena industri kreatif itu berdasar sesuatu yang tidak mainstream, sesuatu yang baru, dan yang berbasis kemampuan diri. Suatu usaha kalau tidak punya uang, bisa menggunakan kemampuan fisik dan softskill. Jadi, industri kreatif adalah industri yang bisa keluar dari keterbatasan, keluar dari kebiasaan dan tidak ikut-ikutan dengan menciptakan hal-hal yang baru,” pungkasnya. (C-003/UNS)***