Tugas Berat Pertanian Penyangga Penyelamat di Era Pandemi Covid

7
Tugas Berat Pertanian Penyangga Penyelamat di Era Pandemi Covid

BISNIS BANDUNG— Guru Besar Emiritus Fakultas Pertanian Unpad, Prof.Dr.Ir.Maman Haeruman K. MSc., mengemukakan, tren  masyarakat untuk menjadi petani, terutama di kalangan generasi muda menurun. Ini lantaran penghasilannya  tidak menjanjikan,  dan bertani harus banyak mengeluarkan tenaga dan terbiasa dengan kotoran tanah atau bahkan lumpur – bobolokot ku leutak (Sunda). 

Pandangan anak-anak muda perdesaan semacam itu, menurut pakar Sosiologi UGM,  menjadikan desa-desa menjadi tua dan sepi! Tua disebabkan penduduk yang muda-mudanya berurbanisasi ke kota.

Di era pandemi Covid 19 ini kondisi kerja di perkotaan yang ditandai kerumunan dan berkumpul dipandang rawan karena dapat mempercepat penularan. Pabrik-pabrik dan perusahaan yang menggunakan banyak pekerja banyak yang mem-PHK-kan pekerjanya dengan alasan itu. Akibatnya tingkat pengangguran di perkotaan meningkat.

Pekerja yang mengnggur itu bagaimanapun harus menghidupi kebutuhan hidup dirinya juga keluarganya. Oleh karena sebagian besar dari mereka yang  asalnya dari desa – dari keluarga petani,  untuk tidak sampai menganggur tanpa penghasilan, mereka pulang kampung ikut bertani lagi dengan orang tua atau saudaranya di desa. Berdasarkan data BPS, jumlah petani sebesar 36,71 juta (27,53 persen) tahun 2019, pada bulan Agustus 2020 meningkat menjadi 41,13 juta (29,76 persen).

“Bagaimanapun sektor pertanian telah berperan berat sebagai penyangga penyelamat, “ paparnya kepada Bisnis Bandung, Senin (24/5/2021)   di Bandung.

Maman Haeruman  mengutarakan, kalau dilihat dari sisi lahan,  terutama di pulau Jawa, didominasi oleh pertanian berlahan sempit. Tahun 50-an saja Geertz pakar sosiologi yang melahirkan “teori involusi pertanian” – agricultural involution menyebutnya petani di pulau Jawa ini petani “liliput” karena saking sempitnya lahan yang diusahakan-diolah petani.

Pakar Ilmu Pertanian ini pun menyatakan, karena pertanian yang selama ini diselenggarakan berbasis lahan (land based agriculture) maka sempitnya lahan pertanian yang diusahakan menjadi faktor pembatas (limiting factor) bagi banyaknya produksi yang dihasilkan dan pembatas penghasilan dan keuntungan yang bisa diperoleh petani. Bagi “petani-petani baru” dari kota yang beralih kerja jadi petani, dengan basis pengalaman bertani kembali dari nol, tantangannya tentu cukup besar – sebatas memaksakan diri jadi petani.

Baca Juga :   Prof HM Didi Turmudzi Harus Mencintai Lagu Sunda

Pemasaran hasil pertanian yang berlaku umumnya tidak terorganisir. Petani-petani kecil kita, apalagi yang baru – pindahan dari kota, bisa menjadi bulan-bulanan para tengkulak yang menyebabkan harga hasil pertanian di pintu petani (farm gate price) sangat rendah. Petani-petani kita sebagian besar tidak menikmati insentif harga.

Rendahnya penghasilan petani ini, terkait dengan lahan sempit yang diusahakannya, dapat berakibat pada kehidupan mereka  dalam kemiskinan. Mereka yang sebelumnya bekerja di kota dengan penghasilan tertentu per bulan, dengan bertani di desa, bisa saja  penghasilannya menjadi lebih rendah dan perolehannya per musim. Kalau mereka pindahan dari kota terkelompokan dan terdaftar menjadi Petani Milenial Jabar dan memperoleh pinjaman lahan serta Agro Jabar memberi jaminan dalam penjualan hasilnya, bisa saja kehidupan petani baru tersebut lebih tertolong dan penghasilannya lebih baik.

“Petani baru dadakan” sebagian besar terserapnya di sektor tanaman pangan sebagai tanaman penyelamat. Sebagian kecil terserap di palawiaja dan hortikultura. Pilihan utama terhadap tanaman pangan, terutama padi, karena padi dianggap sebagai tanaman penyelamat, kalaupun tidak dijual ya dimakan. Untuk tanaman palawija dan hortikultura pengusahaannya perlu didasari pengalaman dan pemahaman terhadap pemasarannya sebab produk yang dihasilkan hampir keseluruhannya dijual, sementara menjual ke tengkulak imbalan harganya rendah.

Menjawab apa yang harus dilakukan oleh petani baru – dadakan yang pindah dari kota, mereka harus menyadari betul keterbatasan lahan pertanian sebagai basis pertanian.  Secara ekonomi, opportunity cost lahan pertanian di Jawa Barat dan pulau Jawa secara keseluruhan, sangat tinggi.

Hal inilah yang menyebabkan merebaknya alih fungsi lahan-lahan pertanian, apalagi yang dekat ke perkotaan. Perlu diketahui pula bahwa pulau Jawa yang dikenal sebagai Jawa Dwipa (Pulau padi) dengan penduduknya yang berjubel telah beralih menjadi Pulau Kota. Oleh karena itu, basis lahan pada usaha pertanian di pulau Jawa – termasuk Jawa Barat, tentu banyak yang tidak bisa lagi dipertahankan.

Baca Juga :   Radio Gunung Puntang Pertama Di Indonesia Cikal Bakal Lahirnya Orari

Bagaimanapun lahan sebagai basis pertanian saat ini yang semakin terbatas harus diubah ke basis lainnya, yaitu basis teknologi dan kapital, seperti pada wujud pertanian moderen hydroponics atau aeroponics. Wujud pertanian semacam ini kayanya untuk jangka panjang.

Dalam jangka pendek, sebagai transisi ke arah itu, hal yang dapat ditempuh yakni: (1) Pemanfaatan lahan pekarangan seintensif mungkin, ditanami dengan berbagai jenis tanaman  sayuran kebutuhan dapur (bawang daun, saledri, cabe, tomat), kacang-kacangan, ubi jalar, talas, ditanam menggunakan pot atau poly-bag. Pojok pekarangan ditanami pohon buah-buahan seperti pisang, sukun, mangga atau nangka.

Produktivitasnya bisa tinggi walau pada lahan sempit, tetapi harus didasari kunci keterampilan tangan (tertuang dalam Al Qur’an). (2) Diversifikasi pangan keluarga petani agar tidak terlampau tergantung pada nasi beras (padi) yang tingkat konsumsinya sangat tinggi – tertinggi di dunia, di atas 100 kg/kapita/tahun. Negara-negara tetangga di ASEAN konsumsi beras hanya pada kisaran 60 – 70 kg/kapita/tahun. Hal yang perlu diperhatikan adalah kecukupan gizi pangannya. (E-018) ***