Ubi Jalar Arjasari Kabupaten Bandung Terobos Pasar  Hongkong

18

BISNIS BANDUNG – Tren es krim varian rasa ubi (sweet potato) di Hongkong menjadi pendorong melonjaknya kebutuhan komoditas ubi di negeri tersebut. Kabupaten Bandung yang sebagian besar wilayahnya  daerah pegunungan menjadi salah satu pemasok produk tani dari delapan wilayah kecamatan.

“Ubi (hui- sunda red) menjadi salah satu produk unggulan di Arjasari. Kampung hui di Desa Pinggirsari yang dikembangkan Kelompok Tani Bumi Asih, memiliki  potensial sebagai pemasok komoditas ekspor,” ungkap Bupati Bandung H. Dadang M. Naser  saat pelepasan ekspor ubi jalar ke Hongkong di Aula Desa Pinggirsari Kecamatan Arjasari, Selasa (8/9/2020).

Kabupaten Bandung sebagai juara pangan dan penopang kekuatan pangan di Jawa Barat  belum pernah tergeser daerah lainnya. Selain surplus beras, menurut  bupati, wilayahnya juga dikenal sebagai penyedia protein hewani, perikanan air tawar dan aneka sayur mayur.

Khusus untuk komoditas ubi, bupati memandang perlu tersedianya resi gudang. Selain itu , ia berharap kegiatan ekspor dapat dikembangkan pada olahan komoditas olahan dari ubi.

“Ke depan, kalau bisa ubinya diolah dulu menjadi tepung. Agar ada  yang dikerjakan dulu di sini, ini akan berimbas pada penyerapan tenaga kerja lokal. Kemudian, saat ini peminat ubi harus melihat produknya di kebun, tentu ini kurang efektif. Sebab itu harus tersedia resi gudang, dan melibatkan anak-anak milenial untuk menopang penguatan ekonomi sektor pertanian,” ujar bupati.

Sementara itu Gubernur Jabar Ridwan Kamil merasa bersyukur, karena ketahanan pangan menjadi salah satu sektor ekonomi yang cukup tangguh di masa pandemi covid-19. Kegiatan ekspor ubi jalar , dikemukakan gubernur, merupakan bentuk dukungan terhadap Program Gerakan Ekspor Tiga Kali (Gratieks) dari Kementerian Pertanian RI.

“Kita akan mengekspor sebanyak 30 ton per bulan, jadi dalam setahun dibutuhkan sekitar 360 ton. Di Hongkong ubi jalar ini dijadikan tepung, untuk kue, es krim dan macam-macam. Nah, kalau hari ini kita ekspor ke Hongkong, maka tolong dicari negara lain yang punya gaya hidup dan kebutuhan ubi jalar seperti Hongkong. Hingga nantinya bisa ekspor ribuan ton. Namun saya titip kepada para petani, pertahankan kualitas produknya, jangan sampai ditolak karena ada serangganya,” ungkap gubernur.

Di masa covid-19, menurutnya lebih nyaman tinggal di desa yang jauh dari sumber penyakit. Karenanya ia mendorong para petani dan peternak muda, untuk mengembangkan bisnis ketahanan pangan berbasis digital. “Meskipun tinggal di desa, tapi kalau ingin rezeki kota maka harus kuasai digital,” ucap gubernur menambahkan. (B-003) ***