Ulama : Riba Haram Hukum Bunga Bank Merupakan Masalah Khilafiyah

1648

BISNIS BANDUNG – Permasalahan hukum bunga bank mengemuka di masyarakat . Bahkan, ada akademisi yang di-bully habis-habisan karena dianggap menghalalkan riba. Padahal sesungguhnya dia hanya menyebutkan adanya perbedaan pendapat apakah bunga bank termasuk riba atau bukan. Riba berarti tumbuh dan tambah. Sedangkan secara istilah, Abdurrahman Al-Jaziri dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah mengartikannya sebagai, bertambahnya salah satu dari dua penukaran yang sejenis tanpa adanya imbalan untuk tambahan .

Misalnya, menukarkan 10 kilogram beras ketan dengan 12 kilogram beras ketan, atau si A bersedia meminjamkan uang sebesar Rp 300.000 kepada si B, asalkan si B bersedia mengembalikannya menjadi  Rp 325.000. Para ulama, baik ulama salaf (mazhab empat) maupun ulama kontemporer, semua sepakat mengenai keharaman riba. Bahkan ulama yang membolehkan bunga bank, juga mengharamkan riba. Dengan demikian dapat dipahami bahwa perbedaan pendapat ulama bukan soal hukum keharaman riba, melainkan soal hukum bunga bank. Ulama yang mengharamkan bunga bank menganggap bunga bank termasuk riba, sedangkan ulama yang membolehkannya meyakininya tidak termasuk riba. Dalam kegiatan bank konvensional, terdapat dua macam bunga : Pertama, bunga simpanan, yaitu bunga yang diberikan oleh bank sebagai rangsangan atau balas jasa bagi nasabah yang menyimpan uangnya di bank, seperti jasa giro, bunga tabungan atau bunga deposito. Bagi pihak bank, bunga simpanan merupakan harga beli. Kedua, bunga pinjaman, yaitu bunga yang dibebankan kepada para peminjam atau harga yang harus dibayar oleh peminjam kepada bank, seperti bunga kredit. Bagi pihak bank, bunga pinjaman merupakan harga jual. Bunga simpanan dan bunga pinjaman merupakan komponen utama faktor biaya dan pendapatan bagi bank.

Bunga simpanan merupakan biaya dana yang harus dikeluarkan kepada nasabah, sedangkan bunga pinjaman merupakan pendapatan yang diterima dari nasabah. Selisih dari bunga pinjaman dikurangi bunga simpanan merupakan laba atau keuntungan yang diterima oleh pihak bank. Para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum bunga bank. Pertama, sebagian ulama, seperti Yusuf Qaradhawi, Mutawalli Sya’rawi, Abu Zahrah, dan Muhammad al-Ghazali menyebut, bahwa bunga bank hukumnya haram, karena termasuk riba. Pendapat ini juga merupakan pendapat forum ulama Islam, di antaranya Majma’ al-Fiqh al-Islamy, Majma’ Fiqh Rabithah al-‘Alam al-Islamy dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Namun sebagian ulama kontemporer , seperti syaikh Ali Jum’ah, Muhammad Abduh, Muhammad Sayyid Thanthawi, Abdul Wahab Khalaf dan Mahmud Syaltut, menegaskan bahwa bunga bank hukumnya boleh dan tidak termasuk riba. Pada Munas ‘Alim Ulama NU di Bandar Lampung pada tahun 1992, terdapat tiga pendapat tentang hukum bunga bank .

Pertama yang mempersamakan antara bunga bank dengan riba secara mutlak, sehingga hukumnya adalah haram.

Kedua, pendapat yang tidak mempersamakan bunga bank dengan riba, sehingga hukumnya adalah boleh.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bunga bank hukumya syubhat. Munas memandang perlu untuk mencari jalan keluar menentukan sistem perbankan yang sesuai dengan hukum Islam. Dapat dipahami bahwa hukum bunga bank merupakan masalah khilafiyah. Ada ulama yang mengharamkannya karena termasuk riba dan ada pula ulama yang membolehkannya, karena tidak menganggapnya sebagai riba. (B-003) ***