Wahyudi, “Saya dan Istri Sepakat Tidak Pinjam Modal ke Bank”

312

Selain sebagai pengusaha, Wahyudi juga bertugas sebagai pendamping Wira Usaha Baru (WUB) di Balai Latihan Koperasi Dinas Koperasi Jawa Barat, dan juga menjadi aktivis Koperasi Komunitas Fashion Jawa Barat (KFJ), sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Bandung Creative Jewelry Community (BCJC). Itulah semua aktivitas Wahyudi yang lahir di Bandung 23 September 1967. Anak dari keluarga Rd. Alili Djayadisastra (Alm) ini, merupakan pengusaha aksesoris yang produksinya dipasarkan tidak sebatas di wilayah Jawa Barat, tapi juga sampai ke tingkat nasional, bahkan mancanegara.

Suami dari Reni Apridawati Ningsih (43) ini, sebelum menggeluti usaha aksesoris, ia terjun di usaha grosiran pakaian jadi. Namun karena pengelolaan keuangan kurang baik serta persaingan usaha, akhirnya usaha ini bangkrut dan menyisakan banyak hutang.
Mengalami kebangkrutan usaha, Wayudi mengaku sempat bingung mau kerja kemana, karena terganjal faktor usianya, yang ketika itu sudah menginjak 40 tahun.
“Melihat teman bikin peniti dan bros, akhirnya saya juga coba-coba membuatnya, dan ternyata saya bisa. Kemudian, saya mulai memasarkan peniti itu dengan modal uang Rp 200.000,” tutur Wahyudi.

“Hasil penjualannya ketika itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja, dan itu berlangsung selama setahun. Kemudian saya mencoba jadi PKL di pasar dadakan (hari minggu). Kebetulan, ada seorang teman mengenalkan saya pada beberapa pemilik toko, yang menjual berbagai macam barang dan aksesoris. Setelah diperlihatkan hasil produk saya, pemilik toko itu tertarik, dan setiap dua minggu sekali saya memasok aksesoris ke toko.

Seiring bertambahnya permintaan, saya yang semula berbelanja bahan produksi hanya di Bandung dan sekitarnya, akhirnya pindah berbelanja ke Jakarta. Saat berniat belanja di Jakarta, saya agak kebingungan untuk menambah modal. Tapi atas jalan Allah, akhirnya saya mendapat tambahan modal dari kakak saya. Saya pergi dari Bandung ke Jakarta menggunakan motor bersama istri setiap dua minggu sekali. Saya menjalaninya selama dua tahun, tanpa memikirkan rasa lelah, karena saya mempunyai motivasi ingin bisa menambah penghasilan untuk kebutuhan hidup, dan bisa menyekolahkan anak saya ke sekolah kejuruan.

Alhamdulillah pinjaman modal sebesar Rp 1 juta dari kakak saya bisa terlunasi, dan sedikit demi sedikit saya juga bisa menyicil hutang dari kerugian usaha yang lalu,” demikian cerita Wahyudi tentang perjalanan usahanya. Tidak pinjam ke bank “Oleh teman-teman, saya juga disarankan untuk ikut pameran,” ungkap Wahyudi kepada BB (Minggu, 15/10) di Bandung.

“Saya mulai mengikuti pameran sekolahan, kemudian juga ikut di event hari jadi, sampai event yang ada di mall di Kota Bandung. Dari hasil pameran di mall itulah, saya bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, sampai biaya kuliah anak saya. Saya dan istri sepakat untuk tidak meminjam modal dari bank. Sebisa mungkin, kami hanya memutar modal dari uang yang dimiliki sendiri,” tutur Wahyudi.

Wahyudi juga mengaku bahwa, usaha yang digelutinya saat ini, bertolak belakang dengan pendidikannya. Dulu, ia kuliah pada jurusan ilmu Akuntansi, sedangkan istrinya perbankan. Memproduksi aksesoris dilakukan Wahyudi secara otodidak. Ia mulai fokus menekuni usaha aksesoris sejak tahun 2010, dan produknya masuk ke mall dari tahun 2013 sampai sekarang.

Wahyudi mampu memproduksi aksesoris sebanyak 300 pieces/bulan, sedangkan wire (kerajinan dari kawat) 60 pieces/bulan, dengan omzet Rp 20 juta/bulan.

Bahan baku batu alam diperolehnya dari dalam negeri, sedangkan untuk kawat tembaga ia menggunakan bahan impor, karena kualitas kawat impor tidak menyebabkan alergi bagi pemakainya.

Ayah dari Ryena Viestama Wahyudi (20) ini mengatakan bahwa, segmen pasar produk aksesorisnya sebagian besar berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas.
Selama menggeluti usaha aksesoris, Wahyudi juga ikut masuk ke dalam komunitas aksesoris dan wire, selain ia bisa menambah teman dari kalangan sesama produsen wire.
Sebagai pengusaha, Wahyudi juga mendapat dukungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, untuk mengikuti Pameran Inacraft 2017 di JCC. Di sisi lain, masih ada saja peniru aksesoris yang menjatuhkan harga jual.

“Untuk menjadi pengusaha, minimal kita harus memiliki keahlian di bidangnya. Kemudian berkarya dan berlatih tanpa kenal lelah, serta mencermati model yang lagi up to date, maupun mengikuti pangsa pasar,” ucap Wahyudi. Menurutnya, peran serta pemerintah sudah cukup baik untuk meningkatkan kemampuan pelaku UKM, dengan memberi pelatihan, bimbingan tehnis maupun pameran.

Namun pengusaha juga harus bisa aktif dan selektif dalam menerapkan hasil pelatihan, karena tidak semuanya mampu mendongkrak pendapatan, sehingga pengusaha juga harus mandiri untuk bisa survive dalam menjalankan usahanya. “Harapan saya kepada pemerintah, jangan setengah hati membantu UKM, terutama dalam hal pemasaran dan mendapatkan modal, agar UKM bisa mandiri, dan tidak terlalu menggantungkan diri pada pemerintah,” tambah Wahyudi. (E-018)***