Warga Jabar Lebih Taat Aturan

110
Warga Jabar Lebih Taat Aturan

     RIDWAN  Kamil yang bilang, bukan siapa-siapa.Gubernur Jabar itu mengarakan, sebanyak 99% warga Jabar tidak mudik.Bila angka itu akurat, tentu saja sangat membanggakan Kang Emil. Hanya 1 persen warga Jabar yang ”memaksa” mudik. Sedangkan pemudik yang masuk Jabardari arah timur ada sekira 400.000 orang.  Menurut Emil, pemudik yang masuk Jabar itulah yang harus terus diwaspadai. Untuk itu Pemprov Jabar menyiapkan 2.500 ruang isolasi di berbagai daerah, ujar Emil.

    Hal itu bukan berarti wilayah Jabar benar-benar terbebas dari hiruk-pikuk mudik lebaran. Masalahnya, wilayah Jabar masih tetap menjadi perlitasan arus mudik dari Jakarta dan sekitarnya menuju Jateng dan Jatim.  Setiap hari sejak berlakunya larangan mudik, ratusan ribu pemudik, baik bersepeda motor maupun kendaraan lain, berusaha keras melaksanakan hasrat mudiknya. Banyak sekali yang nekad menerabas barikade atau penyekatan yang dipasang di semua jalur mudik.

     Ternyata titik pantau arus mudik di Jabar paling banyak dibanding daerah lain. Di pintu=pintu masuk Jabar baik pintu tol, jalan arteri, maupun semua jalur alternatif dan jalan tikus, terdapat 158 posko atau ttitik pantau. Sedangkan di Jateng terdapat sekira 70-an posko. Pintu masuk wilayah Jabar dari Jakarta dan sekitarnya sangat banyak. Posko Bekasi merupakan pintu arus mudik paling ramai dan rawan. Pada hari kelima larangan mudik, posko Bekasi di Kutawaringin, dipadati ratrusan ribu pemudik. Mereka berusaha menerabas bahkan menjebol penjagaan.

        Banyak warga yang beranggapan, laranmgan mudik itu berlebihan. Pemerinrah mengada-ada. Mereka merasa terzalimi karena dilarang bersilatuirahmi dan bertemu keluarganya di kampung. “Mudik itu tidak dapat dicegah karena sudah menjadi budaya masyarakat. Banyak sekali tenaga kerja dari semua daerah yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Mereka hanya punya kesempatan bertemu sanak keluarganya satu tahun satu kali, saat lebaran tiba.

        Dua kali lebaran, mudik dilarang. Kalaupun mereka dapat bertemu keluarga satu atau dua bulan setelah lebaran, suasananya amat berbeda. Suasana lebaran sudah berlalu. Nilai sakralitasnya sudah hilang. Namun tradisi itu harus tertunda lagi tahun ini. Pandemi Covid 19 belum lenyap dari muka bumi. Di negara lain serangan Covid-19 tengah gencar-gencarnya. India merupakan negara yang paking parah dilanda Covi-19 gelombang keduia. Malaysia juga terpaksa melakukan down-load lagi.

      Penduduk Indonesia cukuip besar meskipun tidak sebanyak penduduk India. Seandainya pandemi Covid-19 melakukan serangan kedua di Indonesia, jumlah yang terpapar akan sangat banyak.Hal itulah yang dikhawatirkan pemerintah. Paparannya akan sangat meluas sampai ke daerah-daerah bahkan perdesaan kalau arus mudik dibiarkan. Benar, hal itu merupakan situasi yang sangat  dilematis.

       Indonesia punya tradisi mudik yang ditinjau dari segala segi juga sangat baik. Secara kekerabatan sudah jelas, secara ekonomi juga, mudik dapat mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekpnomi. Namun dari segi kesehatan, mudik merupakan saat paling tepat bagi pemaparan Covid-19. Upaya bersama daslam memerangi Covid-19 akan sia-sia. ***