WHO: China Dalam Resiko Tinggi Banyak Negara Terpapar Corona

1236

BISNIS BANDUNG — Staf Pengajar Tetap Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti, Ph.D  mengatakan , jika merujuk kepada WHO  tanggal 6 Maret 2020, Novel Coronavirus – COVID-19 secara global telah menjangkiti 98.192 orang dengan tambahan penderita 2873. Di China terkonfirmasi ada 146 orang penderita baru dengan 30 orang meninggal. Sedangkan di luar China ada 80.711 orang terkonfirmasi  penderita dengan tambahan 146 orang,  3.045 orang meninggal dengan tambahan 30 orang meninggal. Sedangkan di luar China ada 17.481 terkonfirmasi dengan tambahan sebanyak 2.727 penderita baru dengan jumlah kematian sebanyak 69 orang tambahan meninggal dari toal 335 kematian. WHO menetapkan China,  regional dan global dalam tingkat risiko tinggi. Hampir semua negara dengan jumlah penduduk yang besar telah terjangkiti dengan virus ini.

Dikemukakan Yayan , kecepatan penyebaran virus COVID-19 terhadap influenza relatif lambat. Influenza memiliki periode inkubasi lebih pendek dibandingkan COVID-19. Inkubasi virus influenza memiliki interval selama 3 hari, sedangkan COVID-19 yaitu 5-6 hari. Sehingga penyebaran COVID-19 lebih lambat dibandingkan dengan influenza. Proses penyebaran COVID-19 terjadi di awal symptom (pre-symptomatic transmission). Diperkirakan proses transmisi terjadi 3-5 hari, ketika pre-symptomatic transmission. Akan tetapi, walaupun masa inkubasinya lebih lambat dibandingkan influenza, reproduksi COVID-19 lebih cepat 2-2.5 lebih tinggi dibandingkan dengan influenza. Sehingga menyebabkan penyebaran COVID-19 lebih cepat menyebar dan sulit untuk diukur estimasi penyebarannya.

Ketidak pastian proses penyebaran ini yang menyebabkan penularan COVID-19 begitu cepat dan tidak dapat diprediksi ,kecuali melakukan perlindungan pandemic dengan baik. Kesiapan suatu negara menghadapi pandemic tergantung dari pengalaman negara pernah mengalami pandemic. “Kebijakan perbatasan, sistem kesehatan, infrastruktur kesehatan dan literasi masyarakat terhadap pandemic menjadi hal yang penting bagi suatu negara dalam menghadapi pandemic dengan baik,” tutur Yayan .

Jika kita lihat Situation Report WHO secara spasial,  negara yang memiliki frekuensi mobilitas manusia antar negara yang tinggi (tidak hanya China) akan lebih cepat penyebarannya dibandingkan dengan yang tidak. “Hal ini  terlihat dari hampir semua negara yang menganut perdagangan terbuka seperti Uni Eropa, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Amerika Serikat, Kanada dan lainnya,”  ungkap Yayan kepada BB, Sabtu ( 07/03/20) di Bandung.

Mengenai  Panic behavior dijelaskan Yayan ,  terjadi karena masyarakat mengalami insecure (perasaan tidak aman) karena ketidak pastian dari lingkungannya  dan informasi yang diterima. Untuk mengurangi ketidak pastian ini, masyarakat melindungi dirinya dengan mengurangi interaksi dengan orang lain  dengan membeli barang agar tidak banyak beriteraksi.

Informasi akurat

Masyarakat melakukan “panic buying” sebagai coping strategy  terhadap perasaaan tidak aman (insecure) dari pandemic COVID-19. Jika  merujuk pada informasi WHO,  bahwa risiko kematian yang tinggi dari COVID-19 yakni orang  dewasa , usia lanjut dan pasien yang mengidap penyakit  kritis sebelumnya. Anak-anak kurang begitu terdampak  COVID-19 dibandingkan dengan orang dewasa. Sampai saat ini tingkat mortalitas dari COVID-19 (jumlah orang meninggal dari total orang yang terjangkit penyakit)  antara 3-4%. Artinya jika ada 100 orang yang terjangkit COVID-19 sebanyak 3-4 orang  meninggal. Berbeda dibandingkan dengan influenza yang memiliki tingkat mortalitas 0.1%. Artinya hanya 0.1% dari 100 orang penderita influenza  meninggal.

Menurut Komisioner Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat, Dan Satriana , dalam situasi mewabahnya virus corona, pemerintah harus  menyediakan informasi yang akurat dan tidak menyesatkan . Dalam hari-hari pertama pengumuman temuan kasus corona di Indonesia, kelihatan sekali pemerintah belum siap.  “Ketidakjelasan informasi berpotensi mempengaruhi kondisi psikis masyarakat yang  mendorong perilaku yang tidak rasional, seperti “panic buying” atau stigma yang malah memperburuk kondisi ,” ungkapnya  kepada BB.  (E-018)***