Wilayah Sesar Lembang Beresiko Terdampak Gempa Daya Rusak Tinggi

456

BISNIS BANDUNG — Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Barat, Bidang Advokasi dan Kebijakan, Dadang Sudardja mengatakan, secara kasat mata  dapat dengan mudah melihat kerusakan di Kawasan Bandung Utara yang terbentang dari wilayah Padalarang di tepi barat sampai gugus pegunungan Manglayang di sebelah timur dengan luas kurang lebih 38.548,33 hektar berada di empat wilayah administratif Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Kini kondisinya semakin memprihatinkan. Kawasan yang seharusnya menjadi hutan penyangga, berubah fungsi menjadi kawasan pertanian, permukiman, perumahan, resort, vila, kawasan wisata dan kegiatan pembangunan lainnya.

Diemukakan Dadang , pembangunan dikawasan ini, patut diduga tidak sesuai dengan aturan dan melanggar ketentuan. Terutama dalam pola pemetaan ruang/zonasi. Banyak pembangunan berskala besar seperti bangunan sekolah, villa, objek wisata dibangun di daerah yang bukan peruntukannya. Terutama di wilayah Kecamatan Lembang, Cimenyan dan Parongpong. “Harus diketahui, bahwa Kawasan Bandung Utara merupakan zona Sesar Lembang yang memiliki ancaman tinggi terjadinya gempa bumi yang diakibatkan oleh pergeseran Sesar Lembang, yang menurut para ahli bisa mencapai 6,8 MM. Artinya pembangunan di kawasan ini harus benar – benar memperhatikan aspek keselamatan dan memenuhi standar Nasional Indonesia (SNI) tentang keamanan dan keselamatan gedung dan bangunan,” ungkap Dadang Sudardja pegiat Lingkungan Hidup dan Kebencanaan , Senin (24/2/20) menjawab BB mengenai KBU

Menurut Dadang Sudardja, tidak dipungkiri, populasi penduduk yang tidak terkedali berkorelasi dengan meningkatnya kebutuhan akan tempat hunian (rumah) maupun kebutuhan akan sumber kehidupan.  Tetapi, seharusnya hal ini  bisa diatasi apabila pemerintah memiliki perencanaan dan pengawasan pembangunan yang baik.

Patut diduga, pembangunan di KBU banyak melanggar ketentuan sebagaimana yang diharuskan dalam peraturan. KBU merupakan kawasan strategi nasional yang dilindungi oleh berbagai aturan dan peraturan, mulai dari Perda sampai dengan Peraturan Presiden. Kegiatan pembangunan dikawasan ini harus mendapat rekomendasi dari Gubernur. Hal ini tertuang dalam Perda Pengendalian KBU, tetapi faktanya aturan itu tidak dihiraukan. Indikatornya , pembangunan yang memiliki daya rusak terus berlangsung dan nyaris tidak ada upaya rehabilitasi/pemulihan terhadap kondisi kawasan.

Apabila peraturaan, ketentuan dan syarat-syarat dipenuhi sesuai dengan aturan,  kerusakan di kawasan ini tidak akan terjadi. Indikasi menunjukan  telah terjadi praktik–praktik merusak lingkungan dan masyarakat banyak. Fungsi pengawasan dan pengendalian tidak berjalan. Tidak ada satupun yang melanggar di kawasan ini ditindak secara hukum, padahal pelanggaran terus terjadi.Tidak ada yang tumpang tindih, terkait perijinan itu menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten/Kota, dan untuk KBU, diatur juga oleh Perda nomor 1 tahun 2008 yang kemudian direvisi menjadi Perda Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang Kawasan Bandung Utara. Salah satu klausulnya adalah setiap aktivitas pembangunan berskala besar harus terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari Gubermur. Dietgaskan Dadang , KBU memiliki fungsi penting bagi cekungan Bandung, terutama bagi ketersediaan air tanah dan pengendali iklim mikro dan menjadi daerah rawan bencana Sesar Lembang, sebab itu pembangunan di kawasan ini harus benar benar dikendalikan dan harus memenuhi kaidah ekologis dan pengurangan risiko bencana. Pembangunan yang tidak terkendali berupa rumah kebun, agro-industri, arena permainan dan olah raga, country club, cottages, hotel/restoran dan bentuk pemanfaatan lahan secara komersial lainnya di KBU,  dipastikan akan mencuatkan implikasi berbagai masalah

Ketua Dewan Nasional WALHI periode 2012 – 2016 ini mengimbuhkan, kerusakan lingkungan yang masif juga  akan menjadi pemicu terjadinya bencana yang harus benar benar diperhitungkan. Berdasarkan berbagai penelitian,  di KBU terdapat lima wilayah kecamatan berada di zona merah Sesar Lembang.  Menurut para ahli gempa, diperkirakan pelapasan energy di Sesar Lembang bisa mencapai 6,8 MM, energy yang cukup besar dan memilki daya rusak tinggi. (E-018)***